DAY 4: The 8 Remarkable Milestone in Bintang's Journey, Dari Prestasi sampai Struggle Bangun dari Koma #BPNRamadan2021

Friday, April 16, 2021


Holla!

Setelah menuntaskan Day 1,  DAY 2, dan DAY 3 di #BPNRamadan2021, sekarang saatnya DAY 4 . Jujur, blog challenge ke-4 ini bingung mau konsep kayak gimana awalnya. Soalnya, dengan tema "pencapaian tertinggi", kadang kalo mikir X, ngebatin "oh tertinggi gue X doang, kah?" Tetapi, akhirnya gue bagi 2 aja. Pencapaian kategori prestasi dan psikologis (non-prestasi) yang akan coba gue uraikan masing-masing agar tidak terjadi persepsi bias di tulisan ini. Sama sekali nggak ada niat sok keren, sok iye, dsb. Hal baik dari postingan ini silakan diambil yang kurang baik ditinggalkan saja, yaa.  Penasaran dengan kelanjutan ceritanya?

Keep on reading!





Definisi Pencapaian

Pencapaian atau achievement bagi gue adalah suatu kondisi atau fase yang tercapai dan benar terjadi akibat proses yang menyertainya, baik usaha maupun doa serta akibat adanya kesempatan yang bertemu dengan kesiapan.


Menurut gue, pencapaian ada 2 jenis:

1. Pencapaian yang sifatnya kasat mata (prestasi)

Disebut demikian karena dapat dengan mudah diidentifikasi. Misalnya, pencapaian dalam bentuk prestasi bidang akademik atau non-akademik seperti: juara lomba, kesempatan mendapat beasiswa, menyandang gelar siswa berprestasi, memangku jabatan di organisasi dan lain sebagainya. 


2. Pencapaian yang sifatnya tak kasat mata (non prestasi)

Disebut demikian karena nyaris tidak terlihat di permukaan pun biasanya melalui proses yang relatif lebih panjang karena melibatkan aspek psikologis. Contohnya: proses pendewasaan seseorang.





Pencapaian Prestasi

Gue nggak pernah mendefinisikan sebuah prestasi itu disandingkan dengan kata "tertinggi" selama ini. Kecuali dibubuhi "tertinggi yang pernah dicapai sejauh ini." Alasannya, gue nggak ingin ada bias yang seolah-olah menyatakan bahwa ini sudah cukup dan gue sudah puas. Beda syukur dan puas karena tidak ingin thriving. Tetapi, dari sekian prestasi kasat mata yang gue capai, ada beberapa fase yang perlu gue highlight di sini karena sifatnya life-changing experience, lebih dari sekadar mendapatkan sertifikat dan recognition (pengakuan).



1. Pertukaran Pelajar Program AFS Japan Year Program 2012-2013


Sebenarnya pengalaman hidup ini juga mencakup 2 jenis pencapaian yang gue sebutkan tadi. Secara teknis, orang akan dengan mudah menyebut ini prestasi karena gue adalah salah 1 dari 5 putra/i Indonesia yang diberangkatkan ke Jepang jalur beasiswa pada tahun 2012. Kesempatan ini gue dapatkan setelah berhasil mengalahkan total pendaftar dengan negara pilihan tujuan Jepang sebanyak 8.000 orang di seluruh Indonesia. 


Tes nya memakan waktu 1 tahun, yaitu dari awal masuk SMA (kelas 10) hingga akhirnya diberangkatkan pada saat SMA Kelas 11. Senang? Jujur waktu itu gue nangis karena pilihan pertama gue USA :') ASLI GUE NGGAK BISA BAHASA JEPANG WOY PAS BERANGKAT! Karena prestasi ini juga gue sampai harus kehilangan teman-teman. Pernah dicuekkin seminggu sama beberapa orang cuma gara-gara gue lolos AFS dan berangkat paling pertama. Nggak ngerti, deh. Mungkin liatnya:


"Bintang perasaan nggak ambis ikut tes AFS, diem-diem bae, tes aja pernah telat bangun*, kok yang lolos dia, sih. Padahal di kelas ranking nya tinggian aku."

*Untung ditelpon temen gue Dian dan Masya Allah Tabarakallah tiba-tiba tes nya diundur 30 menit. Jadi gue nggak jadi telat. Thank you yaa, Yan! Gue nggak akan lupain itu! Memang kalau Allah.SWT sudah berkehendak, manusia bisa apa?




Usia gue pada saat itu adalah 16 tahun. Momen itu adalah pengalaman merantau pertama dan jauh dari kedua orang tua.  Karena ulang tahun gue di bulan Juli, otomatis  Sweet Seventeen di Jepang. Makanya, secara non teknis ini adalah proses pendewasaan pertama yang justru bagi gue adalah My First Quarter Life Crisis. Kok bisa? Bisa lah. Orang banyak mengira exchange asik yaa bisa jalan-jalan, maen salju, ketemu banyak orang, dan bisa bahasa asing baru. Padahal, kalau nggak siap mental mah bubar jalan. Bisa dipulangkan sama sending program. Jujur, I got lost there. Bingung aja, sebagai remaja 16 tahun yang lagi labil-labilnya. Ada famous quote di kalangan AFS-er:


"As an exchange student, you are expected to act like an adult but treated like a child."

Artinya: Sebagai siswa pertukaran pelajar, kamu dituntut untuk bersikap layaknya orang dewasa, tetapi mereka masih memperlakukanmu layaknya anak kecil.


Gue sempat tinggal di Kota Kawasaki-shi 2 bulan lalu pindah ke Kota Yokohama-shi. Sekolah gue saat itu adalah swasta internasional. Gue terkepo tuition fee nya untuk 1 tahun itu sekitar 100anjt kalau dirupiahkan dalam kurs tahun 2012. Hhhh....yaa memang ada harga ada rupa. Guru-guru gue nggak semuanya orang Jepang. Beberapa adalah foreigners. Khusus yang mengajar gue kebanyakan berkebangsaan Amerika Serikat dan Australia. Kalau mau tau cerita lengkapnya bisa klik link di bawah ini, yaa biar nggak kepanjangan artikelnya hehehe.

Baca Juga: Why AFS? - Ngapain sekolah SMA 4 tahun!




2. Best Speaker of High School English Debate &  High School English Speaking Model 


Penting nggak penting, sih ini gue ceritain di sini hahaha. Tetapi gara-gara prestasi ini gue dijulukkin sama Alm. Guru Matematika gue "The Walking Dictionary". Thank you so much Sir Bayu! I will never forget that! Selain karena jadi dapat julukkan itu, jadinya gue yang selalu didelegasikan sekolah kalo urusan segala sesuatu yang ada Bahasa Inggris-nya. Pokoknya kalau lomba English, Bintang harus masuk Main Team. Cuma gara-gara menang juara 1, best speaker, dan masih kelas 10. Padahal lawannya kelas 11 dan 12. Sejujurnya gue kayak sempat ngalamin Impostor Syndrome. Selalu ngerasa lagi beruntung doang, lah. Kebetulan riset nya cukup buat challenge motion-nya, lah. Macem nggak mau menerima over-estimate orang-orang sekitar. Bukan nggak senang sih jadi kepercayaan guru. Tetapi yang perlu diingat, ini SMA teman-teman. Bahkan puncak terparahnya saat AFS tadi. 


Akhirnya, sekolah menunjuk gue untuk jadi Duta Bahasa Inggris di SMA dan setiap Rabu, SMA gue wajib Berbahasa Inggris di area-area berlabelkan "English Speaking Only". Areanya ada di beberapa koridor, perpustakaan, dan bahkan kantin. Pertama, hanya gue ESM. Kemudian mulai dipilih lagi beberapa siswa. Masing-masing diberi badge khusus di seragam dengan logo perisai bertuliskan "ESM". 




3. Juara 3 Lomba Debat Ekonomi FEKSI 2011 di Kementrian Perdagangan RI


Ya ampun! Ini lucu, deh. Btw, ini Lomba Nasional pertama gue. Gue dapat prestasi ini sesaat setelah diumumkan lolos AFS Japan tadi. Tetapi belum berangkat, masih di Indonesia. Langsung heboh satu sekolah. Karena tim debat ini gue cewek sendiri dan kelas 11 sendiri. Dua orang lainnya kelas 12, cowok semua, dan salah satunya Returnee dari USA. Lebih gilanya lagi, ini kan judulnya "Debat Ekonomi." I repeat, Economy! Pasalnya, kita bertiga itu semuanya Anak IPA mameen. Nggak ada satupun Tim IPS yang masuk semi final tingkat Propinsi, malah kita Juara 1 Propinsi dan mewakili di Tingkat Nasional. Masih Juara 3 pula! Nggak sopan emang Anak IPA ngambil jatah!




Masalahnya, gue ikutan ini juga bukan atas kemauan gue awalnya. Tetapi, guru pembimbing Karya Ilmiah gue itu Guru Ekonomi. Pokoknya mati-matian beliau minta gue masuk tim. WHY? Gara-gara gue Best Speaker English Debate. Nggak ngerti, ah terserah Bapak aja. Cuma, kalo bukan karena dipaksa gue juga nggak bakal ketemu Pak Gita Wirjawan (Mendag RI pada saat itu) dan bahkan Kak Dimas Beck yang sempat mampir jadi MC hahaha. Terima kasih buat paksaannya yang sangat faedah, Pak Efrin! Kalau nggak ikut Debat Ekonomi mungkin saya sampai sekarang nggak paham soal Ekonomi Kreatif dan segudang potensi yang dimilikinya. Meskipun saya anak IPA :')




4. Judge's Choice Award and 3rd Place in City Design Jam Hackathon, Future City Summit 2018, Guangzhou - China



Kalau inget perjalanan ke Hong Kong dan China suka pengen nangis. Masalahnya, prestasi ini tuh sewaktu berangkat kayak iseng doang. Begitu sudah di sana baru serius karena sudah kadung nyemplung. Ini lagi masa-masa yudisium. Kelar sidang dan nunggu wisuda S1. Bosen soalnya berkas sudah masuk perpustakaan semua. Mau ngapain, dong? Yaudah browsing. Nemu tentang Future City Summit 2018. 


Baca Juga: Fly to Hong Kong and China with My Final Project - Part I


Sejujurnya, di waktu bersamaan gue juga mendapat kesempatan jadi MUN Delegate for Palestine di Korea Selatan. Tetapi, gue memilih berangkat ke China karena namanya MUN tuh, yaa gue baru sadar kalau itu nggak funded. Jadi, harus berjuang cari fund sendiri :') Nggak sanggup. Gara-gara FCS 2018, gue jadi ngerasa ogah benar-benar ogah balik ke China lagi meskipun buat traveling. Nggak tahan soal hygiene dan adab masyarakat setempatnya. Terparah itu supir taksi. Gue kena 200 yuan padahal jarak dekat yang bisa cuma 50 yuan. Jahat banget asli :(  Kalau mau ke sana lagi, cukup sampai Hong Kong aja nggak ke Mainland huhuhu. Tetapi, gue nggak maksud generalisasi, yaa. Kebetulan saja gue ketemu yang begitu. Tetapi, kalau orang-orang WN China yang jadi teman sekamar gue di HKU Dorm itu baik banget asli. Panitianya juga pada ramah-ramah banget. Sepintas gue lihat mereka jadi nostalgia waktu di Jepang sama panitia atau student volunteers AFS :( 




Oh, ya! Gara-gara prestasi ini gue pas wisuda diwawancara TV Kampus. Malu, sih jujur. Soalnya biarpun gue extrovert, gue nggak terlalu suka jadi pusat perhatian di hadapan orang sebanyak itu. Bangga dan syukur tentu ada cuma agak gemeteran, yaa Bund hahaha. Itu prestasi pertama gue buat kampus sejujurnya karena selama kuliah mager ikut lomba. Nggak telat masuk kelas aja alhamdulillah. Beda banget sama jaman SMA.




5. Professional Hired Fresh Graduate Architect in a "Tbk" Company


Dari semua prestasi di atas, beberapa saja yang gue seleksi untuk masuk CV. Dengan tambahan Architectural Design Portfolio, gue daftar kerja. Gue tes juga kayak psikotes dan lain-lain. Tetapi, ketika diterima gue otomatis memegang jabatan di Project Management sebagai Arsitek. Tanpa trainee atau probation. Jujur, rasanya nggak siap jadi dewasa saat itu.




Lagi-lagi, English Syndrome merajalela. Mentang di CV gue ada TOEFL dan JLPT (Sertifikat Bahasa Jepang), gue main disuruh ubah tata kelola sistem proyek mulai dari Database sampai SOP. Surat-menyurat dengan vendors juga semuanya harus English. Sampai akhirnya, gue handle proyek pertama sebagai PIC Project di Banjarmasin. Yes! Jalan-jalan ke Kalimantan! Tentu tidak semudah itu, Maemunah. Gue kudu bikin Tender Document 100 halaman Full English dulu sebelum berangkat. Udah mau menenggoy rasanya. Gara-gara ini juga akhirnya semua proses tender proyek satu perusahaan diganti format pake dokumen gue sebagai benchmark. Sebentar, napas...Kalian bacanya ngeri-ngeri sedap nggak, sih? At this point, gue juga masih terheran-heran kalau benar ini adalah pengalaman pribadi gue sendiri.





Pencapaian "Non-Prestasi"

Pencapaian bukan hanya soal pengakuan, nominal, dan segala yang terlihat di permukaan. Gunung es justru lebih besar di bawah permukaan laut. Beberapa pengalaman hidup, pengambilan keputusan besar, serta proses pembentukkan mindset di bawah ini justru yang menjadi pijakan identitas "Bintang" yang sebenarnya. Hal-hal yang membentuk prinsip dan membuat lebih memaknai arti hidup. Tidak terlepas dari pengalaman-pengalaman lain yang menyertainya. Termasuk pencapaian prestasi tadi, yaa. Perjalanan hidup, kan bukan cerita lepas. Semua selalu ada benang merah yang pada akhirnya connecting the dots atau solve the puzzle.


1. Bangun dari Koma 65 Menit Pasca Operasi 


Perusahaan pertama tempat gue kerja memang prestigius. LQ45 - IDX30 company bagaimana tidak? :) Tetapi, di balik nama besar perusahaan, gedung indah, gaji yang ceunah sejahtera, there's always a price to pay! Gue mengalami overwork akut sampai akhirnya terdiagnosis appendicitis alias Radang Usus Buntu Akut dan harus segera operasi. Hancur dunia rasanya dengar dokter bilang begitu.




Singkat cerita, D-Day operasi gue naik Grab Car - SENDIRIAN dari kosan ke Rumah Sakit pk 12.00 WIB karena harus ngamar dulu sebelum operasi pk. 17.00 WIB. Setelah disuntik anestesi, perlahan-lahan gue ngantuk dan segera tertidur. Gue nggak sadar atau ingat apapun setelahnya. Sampai akhirnya, dengan segala bantuan alat oksigen, gue masih terbaring lemas. Padahal, sebelum anestesi di ruang operasi Dokter Ahli Anestesi bilang kalau bius nya akan hilang 10-15 menit paling lama pasca operasi (durasi 1 jam). Tetapi, gue malah koma. Gelap banget rasanya. Samar-samar gue lihat cahaya dan suara manggil-manggil "Bintaang...Bintang..." Pertama kalinya ada di dunia antara hidup dan mati. Alhamdulillah masih diizinkan bangun lagi sama Allah.SWT.




Setelah kejadian ini, gue tersadar uang memang penting tetapi bukan segalanya. Sifat perfeksionis gue juga bisa jadi bumerang ternyata. Kayak lirik lagu Fall Out Boy di atas. Sekilas gue terlihat berprestasi banget di dunia karir. Tetapi, Bintang di Tata Surya yang paling terang justru umurnya pendek karena dia yang paling cepat kehabisan energi. Gue pernah OT sampai jam 10 malam dan Satpam kantor sampai nyamperin, "Pulang Mbak, bahaya malam-malam." Beneran, dong! Pas Pak Satpam pergi printer kantor jalan sendiri terus ada suara gelas digeser di atas meja. Padahal di lantai 6 tinggal gue sendirian. NGIBRIT LAH WOY! Terus gue bilang aja ngomong sendiri, "Iyaa iyaa ini mau pulang. Nggak ganggu. Maaf." Terus buru-buru lari ke lift. Udah mana baru sembuh, pake ada aja Uji Nyali dadakan -___-



2. Idealisme yang Menyelamatkan Nyawa


Sadar bahwa gue ada di lingkungan kerja yang nggak sehat karena overload, gue memilih untuk resign. Banyak makian yang gue terima. Dibilang bodoh ninggalin perusahaan besar dan sebagainya. Yah, masa harus koma dulu baru tau kalau pekerjaan nggak worth it buat ditukar nyawa?


Anjing menggonggong kafilah berlalu.

Gue nggak peduli. Yang jelas, gue harus menyelamatkan nyawa gue sekali lagi. Allah.SWT sudah menuliskan garis rezeki kita masing-masing. Kata Ust. Adi Hidayat, "Selama urusan duniawi, rezeki kita itu sudah Allah jamin. Justru akhirat ini yang nggak pasti. Nabi saja yang surganya dijamin sama Allah, masih beribadah. Lah antum siapa?"


Gue nggak setuju sama istilah "Jangan idealis kalau belum kaya." Masalahnya, orang-orang kaya yang gue kenal dan tahu selama ini adalah mereka yang bisa memertahankan idealisme nya karena memiliki kuasa akan itu :) So, for me that statement is invalid. Hidup itu harus punya prinsip supaya nggak gampang terbawa arus. Btw, karena pengalaman ini gue sempat ikutan challenge nya Lalita Project X Women Works ID dan gue berhak mendapat 1 sesi Mentorship gratis bareng Kak Ivanna - Founder of Venopi dan Venopi ID.



3. Menemukan Ikigai dalam Hidup saat Solo Traveling



Pertama kali berusaha menemukan ikigai itu saat nekat Solo Traveling ke luar negeri pertama kalinya. Masih deket, di Singapore. Tetap saja di negara orang yang hanya 1 hour flight, ya asing. 2010 ke Singapore vs 2017 (di foto), sudah beda banget negara itu. Ini benar-benar perjalanan latihan kesabaran, empati terhadap sesama, dan banyak pelajaran hidup lain yang membawa makna hidup. Selengkapnya bisa teman-teman baca di link berikut, yaa! :)


Baca Juga: Ini 9 Alasan dan Tips Cewek Harus Coba Traveling Sendiri!



***

Thank you for dropping by! See you on Day 5!


- Bintang Mahayana ©️ 2021-

[BPN 30 Day Ramadan "Blog Challenge" 2021] -  DAY 4 "Pencapaian Tertinggi di Hidupmu"



No comments:

Holla! Thanks for reading my post. Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan terkait konten. Komen spam, annonymous, maupun berisi link hidup akan dihapus. Centang "Notify Me" agar kalian tahu kalau komennya sudah dibalas, yaa!

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.