DAY 14: Proyeksi 5 Tahun Kedepan, Apa Bisa Kita Berencana? #BPNRamadan2021

Saturday, May 15, 2021



Holla!

Di poatingan kali ini topiknya agak serius, nih. Soal rencana 5 tahun kedepan. Jujur, sebelumnya gue memang tipe yang apapun itu harus direncanakan. Namun, terkadang dalam hidup memang ada hal yang harus direlakan untuk tidak terlalu saklek. Tetapi, sejauh mana kita sebagai manusia dianggap etis untuk berencana? Kira-kira apa saja, yaa hal yang gue buat rencana setidaknya untuk 5 tahun kedepan?

Keep on reading!





Prolog - Tentang Rencana

Beberapa orang yang gue kenal masih banyak yang takut akan perencanaan. Beberapa di antaranya mengaku bahwa berencana itu sama dengan berekspektasi. Sehingga, ada potensi timbul kekecewaan jika rencana tersebut "gagal", katanya. Tetapi, sejatinya apa, sih rencana itu? Perlukah kita menyusunnya? Apakah kurun waktu 5 tahun kedepan adalah proyeksi waktu yang terlalu jauh sedangkan kita masih berjibaku dengan masa kini?


Alim Buddha mengatakan, "jangan memikirkan masa lalu karena itu sudah lewat, jangan pula memikirkan masa depan karena itu belum tentu terjadi." Intinya, menurut ajaran tersebut, live in the moment your best. Tetapi, apakah itu berlaku bagi semua hal? Well, terkadang gue merasa ada beberapa hal dalam hidup yang "memaksa" gue untuk enjoy the present moment saja. Tidak ambil pusing tentang bagaimana nanti agar hati lebih tentram. Singkatnya, legowo. Karena gue percaya ada Entitas Yang Maha Mengendalikan.


Tetapi, masalahnya di keyakinan gue sendiri juga ada, kok hal-hal yang sifatnya harus diusahakan. Kita sebagai manusia juga akan memetik sebagaimana kita mengusahakannya. Sehingga, pengertian rencana bagi gue adalah menentukan titik tujuan dan mengupayakan yang terbaik untuk mencapainya dengan beberapa step yang harus gue lalui. Berikut adalah beberapa perencanaan kurun 5 tahun yang saat ini sedang dalam tahap desain dan beberapa dalam tahap pembangunan. Waduh, arsitek bener bahasanya. Loh, kan memang we are the architect of our life. Tetapi principal architect-nya  yaa Yang Maha Kuasa.





1. Investasi

Kalau ini gue memang sudah dalam tahap pembangunan. Gue memang kurang suka terlalu banyak diversifikasi meskipun kesannya secara risiko tinggi. Tetapi, pada dasarnya gue ingin investasi yang likuiditasnya tinggi-menengah, return bisa oke, sesuai kemampuan dan gue bisa fokus cari ilmu untuk praktik dengan segera. 


Soal investasi, memang kalau kita pikir lagi bisa jadi bahaya kalau tanpa perencanaan. Soalnya kan ini pakai duit yang kita kumpulkan dengan susah payah teman-teman. Buat gue nggak ada istilah "duit nganggur" kayak orang-orang. Duit yaa tidak boleh hilang. Tidak ada juga duit yang tidak lebih penting dari duit yang lain. Meskipun pengertian duit nganggur lebih ke uang yang kalau tidak ada, tidak akan mengganggu cash flow utama. 


Bagi gue, tetap saja duit itu harus bijak pakainya. Kalau ada the less important money, buat apa kita susah-susah carinya? Intinya soal ini, gue ingin sudah ada hasil atau ROI yang ingin gue manfaatkan. Syukur-syukur kalau bisa buat DP rumah atau apartemen. Kalau cukupnya hanya buat sampai dana pendidikan yaa alhamdulillah. Mimpi yang tinggi aja dulu. Kata Bung Karno, "bermimpilah setinggi langit agar jika terjatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang". Hehehe...aamiin.




2. Karir

Punya career plan gue rasa penting, yaa. Kalau nggak, akan sulit punya rencana yang terukur. Soalnya yang diukur kan nihil. Kalau kita punya proyeksi karir kedepan sudah ada di level apa dan punya penghasilan bulanan maupun tahunan sekian, akan lebih mudah punya target. Simpelnya, karena bisa dihitung. 


Meskipun kata bokap gue, "tidak semua hal bisa dihitung dengan matematikanya manusia, tetapi kita tetap wajib berusaha". Benar, usaha itu juga bagian dari iman. Dengan berusaha berarti kita percaya pada Sang Pencipta bahwa semesta ini ada Yang Maha Mengendalikan. Orang daun yang jatuh ke tanah saja bukan tiba-tiba, kok. Masa rezeki kita sebagai manusia tiba-tiba?


Bagi gue, keberuntungan hanyalah ilusi. Semua sudah ada tertulis di langit. Hari ini kita makan apa, beraktivitas di mana, bertemu dengan siapa, dan lain sebagainya. Semua sudah diatur oleh takdir. Kalau sudab diatur, sia-sia dong berencan? Bukan begitu logikanya. Tetapi, ada banyak takdir yang sifatnya juga berkedudukan sebagai rezeki. Sehingga harus dijemput dan diusahakan. Salah satunya karir. Gue bersyukur mulai dikenalkan dengan komunitas-komunitas baru yang qadarullah membukakan jalan baru dalam berkarir. Salah satunya sebagai content writer and copywriter


Dalam 5 tahun kedepan, sejujurnya gue ingin bisa menulis buku tentang perjalanan menulis gue. Gue rasa, Indonesia masih butuh banyak banget penulis. Terutama kategori impactful writing. Biar generasi mudanya itu punya waktu yang bisa diisi dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat selain scrolling social media tanpa tujuan atau hanya menghabiskan kuota tanpa ada timbal balik yang meaningful bagi masa depan mereka.





3. Menikah

Memang, banyak orang seusia gue yang sudah lebih dahulu menikah dan bahkan menjadi seoranv ibu, ikut senang. Hanya saja gue sendiri bukan penganut nikah muda. Banyak, sih yang suka nyinyir. Paling parah itu soal meragukan produktivitas gue sebagai wanita kalau menikahnya in late 20's atau bahkan in my 30's. Sejujurnya, jahat banget sih orang yang berkomentar begitu. Seolah mereka yang punya kuasa akan takdir. Anak itu juga rezeki. Tetapi untuk menjemputnya, kita sebagi calon orang tuanya juga harus siap. Gue nggak ingin kebiasaan-kebiasaan buruk gue masih gue bawa hingga saatnya tiba gue menjadi seorang ibu.


Gue pernah baca di konten salah seorang Blogger. Kalau kita wanita masih "sendiri" dalam artian belum menikah, mungkin saja Tuhan sedang merencanakan misi mulia. Bahwa kita punya peran bagi umat yang harus kita jalankan. Tenaga dan pikiran kita masih harus kita curahkan untuk kebaikan banyak orang. Bukan berarti mustahil dilakukan ketika sudah menikah dan menjadi ibu. Jangan terjebak dalam anekdot yang seperti itu. Tetapi, menjadi seorang ibu itu tugas yang berat juga. Di mana kita melahirkan generasi baru yang harus kita didik sebaik mungkin. Agar kelak ia akan berguna bagi dirinya dan umat.


Intinya, berdoa selalu minta sama Allah.SWT. Kalau misal masih gajadi terus, yaa bersyukur saja. Mungkin kita sedang diselamatkan dari orang yang salah. Kalau kita sudah ada pasangan tetapi ingin melangkah ke arah yang lebih serius, yaa bicarakan semua sebelum menikah. Punya orang dengan vibe yang sama, prinsip yang sejalan, dan ego yang bisa saling mendewasakan gue rasa jauh lebih penting ketimbang kapan. Who and how over when. Tetapi, tetap diusahakan. Ya Insyaallah kita semua dikaruniai jodoh yang baik, yang tidak hanya bertanggung jawab tetapi juga sayang dengan kita dan keluarga kita juga. Aamiin.




***

Thank you for dropping by!

Bintang Mahayana ©️ 2021

BPN 30 Day Ramadan - Blog Challenge "Day 14: Rencana 5 Tahun Kedepan"




No comments:

Holla! Thanks for reading my post. Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan terkait konten. Komen spam, annonymous, maupun berisi link hidup akan dihapus. Centang "Notify Me" agar kalian tahu kalau komennya sudah dibalas, yaa!

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.