[REVIEW] SELF DRIVING - Menjadi Driver atau Pasenger? (Rhenald Kasali)

February 13, 2020

Holla!



Di postingan kali ini gue mau berbagi review dan rekomendasi bukunya Prof Rhenald Kasali yaitu Self Driving. Gue pribadi sebagai orang yang mageran, merasa cukup "tertampar" setelah baca buku ini. Seolah buku-buku ini menawarkan gue pada pilihan "ingin tetap jadi mageran dan tetap berada pada comfort zone?" atau " ingin keluar dari comfort zone dan mengambil kesempatan?"
I hope you will get inspired as much as I do.
Keep on reading!






Image result for self driving rhenald kasali harga
Source: mizanstore.com
Judul : Self Driving - Menjadi Driver atau Passenger? 
Penulis : Rhenald Kasali
Bahasa Asli : Bahasa Indonesia
Editor : Amanda Setiorini 
Penata Letak : Ariani Wardhani, Arisman
Penerbit : Penerbit Mizan Anggota IKAPI 
Desain Cover : Fin Kasali, Windu Budi 
Distributor  : Mizan Media Utama (MMU) 
Lisensi : Rhenald Kasali, Ph, D.
Cetakan ke- : 6 (Februari 2015)
ISBN : 978-979-433-851-3
Jumlah Halaman : 265 halaman
Harga : Rp71.400,00
Resensator : Bintang Mahayana
Tahun resensi : 2020




How I found this book?

Buku Prof. Rhenald Kasali ini salah satu favorit gue dan udah cukup terkenal juga sebenarnya sejak lama. Gue udah baca ini sejak tahun 2015. Waktu itu beliau diundang seminar oleh Statistika ITS dan gue berkesampatan menghadiri seminar beliau di Surabaya, Maret 2015. So happy I got my booked officially signed by him!

Book Signed by the Author
 March 3rd, 2015

What is it all about?

Buku ini kalau dilihat dari Kata Pengantarnya sebenarnya berangkat dari keprihatinan beliau terhadap dunia pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan tingkat lanjut (universitas). Selama puluhan tahun beliau berkiprah di dunia pendidikan Indonesia, beliau melihat ada begitu banyak fenomena terkait pendidikan yang cenderung mempersiapkan para mahasiswanya untuk menjadi passenger ketimbang menjadi driver. Beliau mengangkat dua perumpamaan tersebut untuk menunjukkan bagaimana seorang lulusan universitas menghadapi dunia luar setelah lulus. Apakah mereka akan menjadi driver atau menjadi passenger. Menurut beliau, dunia usaha menghendaki manusia-manusia berkarakter driver yang berkompetensi, namun juga cekatan, gesit, berinisiatif, dan kreatif. Namun, di berbagai kampus malah justru yang terjadi adalah hal sebaliknya. Tanpa disadari, kampus-kampus justru membentuk manusia-manusia passenger, yaitu kaum muda yang cenderung pandai, namun output-nya adalah manusia-manusia penumpang alias hanya pintar kertas saja. Sarjananya pun sangat mungkin dibilang sarjana kertas.

Di bagian awal buku ini, Prof. Rhenald banyak mengambil contoh kasus atau berita lama untuk menganalogikan istilah "driver" dan "passenger" serta memotivasi kita untuk menjadi "driver". Sebagaimana yang beliau sampaikan dalam pidato nya di depan para wisudawan di Pierre Mendès-France University, Grenoble, Prancis, Kamis, 28 Juni 2012.

Jadi, ada tiga hal yang harus dilakukan , yaitu bagaimana men-drive diri sendiri (drive yourself), men-drive  orang lain (drive your people), dan men-drive bangsa (drive your nation). Kalau seseorang tidak bisa men-drive  dirinya sendiri, bagaimana ia bisa men-drive  orang lain? Dan itu berarti tak ada kepemimpinan, tak ada yang men-drive  bangsa ini (drive the nation).

Dalam tulisan beliau, disebutkan bahwa "Driver adalah sebuah sikap yang membedakan dirinya dengan 'passenger'. Anda tinggal memilih, ingin duduk manis menjadi penumpang di belakang, atau mengambil risiko sebagai driver di depan?". (Kasali : 2015 hal.6). 


Namun, tidak selesai sampai di situ, beliau juga memberikan komparasi lain antara " Bad and Good Passengers'. Yang gue sukai, beliau selalu menyelipkan tokoh di setiap part dalam menjelaskan sesuatu. Sehingga, buku ini isinya bukan hanya motivasi belaka. Tetapi juga semacam melihat langsung pada fenomena yang terjadi secara nyata. Berkaca pada sosok yang inspiratif. Sehingga, apa yang ditulis dalam buku ini bukan hanya teorema. Seperti misalnya sosok Dr. Sam Ratulangi (doktor ilmu pasti pertama Indonesia yang meninggal dalam tahanan Belanda). Beberapa juga memuat tulisan beliau yang pernah diterbitkan di Jawa Pos. Entah kenapa, bagian ini sedikit membuat deja vu  ke bukunya Robert T. Kiyosaki. Karena dalam tulisannya, beliau menyebutkan soal "perspektif kaum miskin". Menurut gue ini cukup relatable dalam menilai cara pandang seseorang, bukan perkara substansi. Karena jelas berbeda analogi yang dibangun oleh Prof. Rhenald Kasali bahwa the poor  (kaum miskin) adalah  the have not yang memerlukan bantuan pemerintah. 
Mulai bagian akhir buku, gue merasa semakin diajak bertualang karena di sini beliau mulai membawa pola pikir kita lebih praktis. Dengan membuat perbandingan antara "Ribet" vs "Simpel". Di sini pun beliau mengkritik bahwa sulit sekali menghasilkan manusia "driver' dari proses pendidikan yang berlebihan muatan, yang guru-gurunya ribet dan beranggapan "the more is the better". Semakin banyak yang diramu semakin bagus. Padahal, ribet artinya lamban. Sudah saatnya kita kembali berkaca pada peradaban nenek moyang kita dengan garis kehidupannya yang simpel. Bukan berarti kita meniru kembali peradabaan masa lampau. Tetapi pola pikirnya yang diambil. Betapa simpel berarti efisien, sederhana, cepat, ramping, hemat biaya, mudah, dan karakter seorang "driver". Sedangkan ribet atau complicated berarti boros, berbelit-belit, lamban, berlemak, mahal, memusingkan, dan merupakan karakter seorang "passenger".  Kemudian buku ini ditutup dengan bagian "Creative Thinking" dan "Growth Mindset". Tentang bagaiamana seharusnya kita mengatur pola pikir kita terhadap sesuatu. Sehingga, kita dapat menjadi great driver.
Jangan lupa, hal-hal yang kita anggap aneh pada hari ini, mungkin esok akan menjadi biasa.


Recommendation
To whom would I recommend this book?
Buku ini sangat cocok bagi teman-teman pelajar maupun mahasiswa serta teman-teman di usia 20-an yang mungkin saat ini sedang mengalami Quarter Life Crisis. Buku ini akan mengajak kita semua berpetualang mengenali lebih dalam akan diri kita sendiri serta mengubah mindset kita untuk menjadi manusia yang bukan hanya pandai "menjual" ijazah. Bukan menjual ITB, UI, ITS, atau UGM apapun almamater kita. Bukan hanya menjual IPK Cummlaude kita. Tetapi menjual kualitas diri kita yang sebenarnya. Sehingga, kita dapat lebih siap terjun ke dunia, di mana kita lah yang bertindak sebagai "driver".











No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.