Turning My Hobby into Passion and Career as a Handmade Watercolor Illustrator

Holla!
Di postingan kali ini gue mau cerita lagi di section Art & Architecture. Sebagai lulusan Arsitektur yang saat ini sedang menjalani karir sebagai seorang Handmade Illustrator, gue ingin berbagi cerita tentang perjalanan gue menemukan passion gue di bidang desain dan seni lukis ini. Tentunya, gue nggak hanya akan berbagi kisah sukses tetapi juga memutuskan untuk berani pamer kegagalan. Cause why not? :)





Lulusan Arsitektur, Kok Nggak Jadi Arsitek?

Hehe, sering banget sih dapat pertanyaan kayak begini. Tapi, jujur, stigma di masyarakat ini yang sering salah dan patut diluruskan. Kuliah gue adalah Arsitektur bukan Pendidikan Profesi Arsitek. Semua lulusan Arsitektur itu output nya memang bukan semata 'hanya' jadi Professional Architect. Tetapi, pola pikir desain dan problem solving nya yang diuji selama kuliah. Lebih lucu lagi, kalau ada stigma yang berpandangan bahwa lulusan Arsitektur sudah pasti bisa desain rumah. Selama desain hanya untuk Prelimenary Design (bukan desain siap bangun), gue rasa, sih "kecil" lah kalo "cuma" rumah doang haha. Selama kuliah juga kita nggak hanya bermain di skala rumah tinggal apalagi kalau single building. Minimal skala perumahan baik landed house maupun vertical housing. Tetapi, untuk praktek sampai ke sana secara legal, dibutuhkan waktu bertahun-tahun di luar kuliah 4 tahun S1 Arsitektur itu tadi. S2 Arsitektur pun fokusnya ke penelitian Arsitektur. Beda dengan Pendidikan Profesi Arsitek (PPArs) yang memang tujuannya untuk sertifikasi dan praktek sebagai arsitek profesional.

Gue menemukan bahwa gue nggak segitu berbakatnya sebagai arsitek. There's a famous saying, architects are meant to be born not created. Gue merasa bukan salah satunya. Semata karena gue nggak se-passionate itu dalam mendesain bangunan ketimbang graphic design. Gue merasa mendesain bangunan untuk kesenangan dan kebutuhan sekali-kali, bukan sebagai profesi utama yang ingin gue lakukan secara terus-menerus sepanjang hidup gue. Akhirnya, sejak masuk tahun terakhir gue mantab untuk menyelesaikan studi dan segera mencari jalan yang lain.




Tidak Pernah Berfikir Akan Menjadi Illustrator Sebelumnya

Jujur, gue baru mulai menyeriusi bidang seni lukis cat air ini sejak akhir 2018, setelah kelulusan S1. Awalnya, hanya menjadi hobby saja karena memang setelah lulus pun gue bekerja di korporasi full-time. Sehingga, watercolor cuma gue jadikan sebagai hiburan waktu senggang. Sampai akhirnya, di awal tahun 2019 gue mendapatkan testimoni dari berbagai teman baik real-life maupun online bahwa karya gue pantas mendapatkan apresiasi lebih (dijadikan bisnis komersil). Gue juga sempat minder. Merasa masih belajar dan memang belum sebagus itu untuk dijadikan produk jual. Tapi, gue iseng lah buat akun The Great Escape @tge_id di Instagram dan beberapa gue upload juga via e-commerce Shopee @bintangmhyn. Entah tiba-tiba ada aja yang check out atau DM mau custom. Jadi, ya sebenarnya jalan menjadi illustrator ini kesannya kayak tiba-tiba. Tetapi, rencana Allah.SWT tidak ada yang hanya kebetulan atau tanpa sebab. Ya, memang sudah jalannya aja.

Sushi Watercolor

Desain Wallpaper HP di atas benar-benar project iseng-iseng awalnya gara-gara lagi pengen makan sushi tapi karena lagi jaman Covid-19 jadinya tutup store biasa gue beli. Alhamdulillah, di antara komentar orang yang mungkin nganggepnya "Wallpaper HP mah kudunya gratis, masih aja kok ada yang beli dan mau menghargai hasil karya orang lain." Wallpaper di atas dan desain-desain lainnya bisa kalian order di Instagram @tge_id (The Great Escape ID).

Menjelang resign dari pekerjaan yang sebelumnya, saar day off  justru banyak menyempatkan ikut kelas Digital Marketing. Satu-satunya kelas Watercolor yang pernah gue ikuti hanya workshop dari Ruang Induk Jakarta Kreatif Hub bareng @kroeking untuk Food Illustration. Alasannya karena memang gue selama ini belum pernah melukis makanan. Apalagi tema nya waktu itu Sushi yang mana makanan favorit gue. Jadilah nambah-nambah ilmu dan sisanya gue pelajari sendiri secara otodidak.


Pernah Bikin Desain, Ditawar Murah Banget, Ujung-ujungnya Nggak Jadi Dibeli

Salah satu pengalaman nggak mengenakkan karena memang di awal memulai usaha ini, basic nya masih berupa personal commission. Orang bisa pesan hanya dengan chat saja dan bayar di kemudian hari kalau barangnya sudah jadi. Gue heran, main pesan aja tanpa tanya harga. Nggak taunya desain kartu ucapan gue yang dibuat dengan sesuai maunya dan 100% dilukis dengan tangan hanya dihargai Rp30.000,00 saja. Mau ketawa, mau nangis, mau marah, cuma bisa pasrah. Sampai sekarang barangnya nggak jadi dibeli dan memang nggak berniat gue jual karena untuk kenang-kenangan aja haha. Sedih, sih. Kadang kita bisa aja ketemu customer yang nggak ngerti pasar industri kreatif. Jadi, mikirnya desain Handmade bisa dibeli dengan harga cuma-cuma. Padahal, ada waktu, tenaga, ide, dan biaya lainnya yang kita korbankan untuk menciptakan suatu produk desain siap jual.

Kadang, ada juga yang sudah pesan tetapi tiba-tiba mengubah pesanan dan membatalkan begitu saja. Kegagalan sistem ini yang mau gue bagi di sini. Supaya kalau ada dari kalian yang mau nerima jasa personal commission  seperti itu, usahakan ada biaya DP atau kalau bisa full-payment di awal lebih bagus. Kalian pantas dihargai sebagai artist nya. Jangan mau dipermainkan customer begitu saja, yaa. Rezeki nggak akan pernah tertukar, kok. Jangan takut kehilangan satu dua customer daripada rugi bandar kayak gue tadi hahaha.


Tantangan sebagai Seorang Freelance Illustrator

Ya, namanya juga freelancer. Pendapatannya nggak tetap. Kadang bisa besar kadang ya sedikit. Bahkan nggak ada sama sekali. Tetapi memang enaknya kita jadi bisa menciptakan sistem kerja maupun bisnis kita sendiri. Bisa mengatur waktu kapan mau terima order dan kapan mau libur. Plus, bisa bekerja dari mana saja. Untuk itulah, penting bagi seorang freelancer memiliki lebih dari satu income stream

Belum lagi, kadang kita harus mengedukasi orang untuk mengerti tentang art  yang kita suguhkan. Karena, biar bagaimanapun, sesuatu yang sudah dikomersilkan menjadi bisnis akan menjadi konsumsi publik. Siapapun bisa melayangkan komentar. Nggak jarang juga cukup pedas. Misalnya, salah satu yang gue nggak bisa lupa adalah "Memangnya ada apa yang mau beli ini?" Tetapi, setiap ada yang beli produk atau pakai jasa desain gue, jadi lebih bersyukur karena ya gue bisa membuktikan ke diri gue sendiri bahwa nyinyiran orang lain hanyalah sebatas nyinyiran. 



Terlepas dari suka dan dukanya menjalani profesi ini, gue selalu bersyukur karena gue menjalani ini dengan tulus dan sepenuh hati. Meskipun kadang capek, tetapi kalau baca testimoni dari customer soal desain gue yang memuaskan rasanya tuh langsung "Nyess" adem gitu di hati. Nggak jarang sampai gue troh di jurnal saking nggak ingin gue lupain. Kalau suatu saat usaha gue sudah lebih besar dari sekarang, gue nggak ingin lupa dari mana gue memulai semua ini. Pun, saat ini gue sedang fokus menjalani beberapa proyek besar dan proyek kecil baik personal maupun collaboration.


Ilustrasi di atas adalah salah satu penggalan stoyboard yang rencananya akan gue release di tahun 2021. Bisa dibilang proyek di atas yang paling melelahkan karena berkarya dengan riset dan data pun proses pengerjaan mulai dari design concept, producing design, hingga rencana launching nya nanti juga memakan waktu yang tidak sedikit. Jadi, diitunggu saja, yaa. hehe.



***


Disclaimer

- Seluruh ilustrasi di halaman ini dibuat oleh penulis yang bertindak sebagai ilustrator.
- Mohon tidak menyimpan maupun menggunakan ilustrasi tanpa sepengatahuan dan seizin penulis.
- Order & Collaboration perihal ilustrasi silakan mengunjungi laman Instagram The Great Escape ID (@tge_id) atau e-mail ke thegreatescape.id@gmail.com.
- General collaboration lainnya terkait Blog ini silakan akses link linktr.ee/bintangmahayana.com atau e-mail ke contact.bintangmahayana@gmail.com

No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.