5 Reasons Why I Always Feel Better after Going to Sushi Tei | #CeritaIsengBintang

Holla!
Di postingan kali ini gue mau cerita hal yang sangat random. Kebiasaan gue yang mungkin nggak semua orang memandangnya secara positif. Tetapi, gue hanya ingin berbagi cerita personal di blog tentang kenapa, sih, gue suka banget sama sushi dan terutama Sushi Tei Indonesia. Post ini murni panggilan hati ingin bercerita tanpa ada afiliasi sama sekali dengan pihak Sushi Tei, yaa.
Selamat membaca!



Sushi Tei Fuji Roll
Illustrated by Bintang Mahayana



The "Safest" Place to Dine In Alone

Jujur, selama kuliah gue nggak terhitung berapa kali ke Sushi Tei kalau lagi stres sama tugas kuliah yang menumpuk. Apalagi dulu gue kuliah Arsitektur. Kadang tugas rasanya beban mental banget. Maklum, tugas desain. Semakin dikerjain semakin banyak design problems yang muncul. Kayak nggak selesai-selesai. Jaman gue masih kuliah di Surabaya, gue suka ke Sushi Tei Galaxy Mall Surabaya karena paling dekat dari kampus dan kosan. Relatif nggak terlalu rame dibanding Sushi Tei Tunjungan Plaza saat weekday

Kaiten-zushi Sushi Tei Galaxy Mall Surabaya
Source: Personal Doc.

Gue biasa duduk di kaiten-zushi (sushi bar). Entah kenapa, setiap gue makan sendirian, menghadap ke sushi belt dan ngeliatin piring demi piring lewat secara lambat di depan gue, tuh ada sensasi menenangkan. Sesuatu yang nggak bisa gue jelaskan secara konkrit. Pokoknya jadi rileks. Kadang gue sambil liatin akuarium di cooking area yang masih ada ikan hidup. Sambil liatin para cooks bikin sushi. Gue rasa, memang ini cara terbaik menikmati Japanese Cuisine. Dulu, waktu gue masih tinggal di Jepang tahun 2012-2013an, gue selalu suka duduk di bar karena bisa interaksi langsung dengan cook maupun chef nya. Nggak akan pernah merasa sendirian meskipun nggak dateng bareng teman.



All You Can Eat Party with Friends as Hard Work Celebration

Jujur, sebagai mahasiswa gue kadang sungkan kalau mau ngajak teman ikut makan bareng. Kalau nggak yang benar-benar sesama sushi geek kayak gue rasanya makan sushi itu udah kayak makan hedon. Tapi, gue pribadi memang selalu punya budget  tersendiri untuk makan sushi. Gue nabung supaya tiap sekian bulan sekali bisa makan sushi. Apalagi kalau lagi stres kayak tadi. 

Gue udah nggak tau 3 atau 4 kali join AYCE nya Sushi Tei yang menurut gue untuk menu-menu mereka jatohnya sangat affordable. Gila, sih. Kalau harga normal mungkin gue udah merogoh kocek di atas IDR500k. Tapi dengan AYCE gue cukup bayar ga sampe IDR200K sudah termasuk PPN dan lain-lain. Inget banget terakhir tuh sekitar IDR171k-an. AYCE ke 1-3 di Surabaya dan yang ke-4 di Sushi Tei Palembang gara-gara traktiran temen gue si Rafi haha.




Waktu gue kelar sidang TA pun, gue mantap menjadwalkan acara makan di Sushi Tei. Walaupun judulnya "Sushi Party", jangan dianggep gue makan sebanyak itu udah macem makan Sushi Cake, yaa. Menu wajib gue selalu: Salmon Mentai dan Fuji Roll. Lainnya sunnah. Tapi yang dua itu Fardhu 'Ain alias wajib, kudu, dan mesti. Nggak kebayang kalau ke Sushi Tei terus mereka berdua sold out. Nangis, sih haha. Untungnya selalu in stock.  Bagi gue, Sushi Party di Sushi Tei itu semacam self-reward yang benar-benar bikin bahagia dan lega. Gue nggak pernah nyesel ngeluarin uang lebih untuk makan selama untuk makan sushi dan sashimi nya Sushi Tei.



Reminds Me of Everything About Japanese Cuisine

Frankly speaking, I am quite picky when it comes to sashimi. Gue hanya berani makan di Sushi Tei. Nggak tau kenapa secara hygiene paling percaya sama Sushi Tei. Selain itu juga dari rasa memang paling fresh di Sushi Tei. Rasa shoyu atau kecap asin nya juga menurut gue paling enak di antara yang lain. Mungkin kalau yang nggak terlalu suka sashimi bakal ngerasa nggak ada bedanya. Tapi, karena gue suka banget sashimi, bagi gue rasa shoyu itu sangat krusial. Meskipun gue nggak terlalu suka wasabi sedari dulu. Jadi, enak apa enggak nya sashimi yang gue makan sepenuhnya bergantung pada rasa shoyu dan sashimi itu sendiri. Bahkan, menurut gue rasa sushi rice nya paling pas. Nggak terlalu asam dan menurut gue density nya pas banget. Dari yang gue pernah pelajari dari sushi chef waktu di Jepang, ternyata sushi rice itu seharusnya masih punya ruang-ruang udara. Jadi, nggak sepenuhnya padat. Kalau dimakan bakal lebih nyess gitu di mulut. Menurut beliau, skill untuk bisa bikin sushi rice yang pas itu butuh bertahun-tahun. Bahkan, banyak sushi chef Jepang yang sebenarnya meneruskan legacy dari keluarganya selama beberapa generasi. 

Ada saat di mana gue makan di Sushi Tei sampai meneteskan air mata. Gue kangen masakan Host Mom gue di Yokohama dulu. Waktu itu, gue lagi iseng pesan Curry Udon. Entah gimana caranya, rasa curry nya itu persis banget sama buatan Host Mom gue dulu. Apalagi, Curry Udon juga punya nilai sentimental yang cukup dalam buat gue. Dulu, waktu Ramadhan gue sering banget minta dibikin Curry Udon sama beliau. Asli, ya gue panik takut ketahuan nangis sama waitress Sushi Tei. Takut dikira kenapa-kenapa haha. Ini dia alasannya, I always keep coming back for more



Great Interior Design for My Architectural Study and Interest

Sushi Tei Palembang mungkin salah satu interior Sushi Tei terindah yang pernah gue kunjungi setelah Sushi Tei Kota Kasablanka. Sushi Tei Palembang ini dari eksterior nya aja udah mengundang banget minta dikunjungi. Dengan fasad yang menggunakan struktur baja dan kaca plus ornamen-ornamen bambu. Secara lokasi juga menurut gue strategis karena ada di salah satu sudut perempatan. Sehingga, ada dua sisi eksterior yang menonjol. Sewaktu masuk ke lantai 1, sih gue merasa nggak ada yang terlalu berbeda dari kebanyakan restoran Sushi Tei lainnya. Tapi, begitu naik ke lantai 2, berasa lagi di Japanese High-End Restaurant downtown Ginza. Hahaha serius. 

Dulu, gue pernah diajak Host Mom makan di salah satu restoran terkenal yang cukup pricey karena charge per person nya bisa mencapai 10.000 yen. Interior nya persis tapi nggak mirip-mirip banget. Tapi, ambience nya itu loh asli, Antara di Kyoto atau restoran mahal di Tokyo. Gue sendiri pecinta bamboo architecture meskipun secara praktisnya ini ribet haha. Tapi, sebagai penikmat gue rasa desainer interior dan arsiteknya patut diacungi jempol.



Tasty Food, Excellent Service

Salah satu menu wajib juga kalau pas lagi AYCE, Salmon Roll
Source: Personal Doc.


Menurut gue, selain menu-menu nya yang menurut gue enak, hal yang patut diapresiasi dari Sushi Tei adalah service nya. Menurut gue waitress nya ramah-ramah. Free flow service nya juga juara. Gelas gue masih setengah kosong aja udah ditawarin diisi lagi. Terus, durasi nya juga selalu disebutin gue harus nunggu berapa menit dan ya memang sesuai dengan yang disebutin. Kalau memang harus 15 menit ya 15 menit. Itupun kalau misalnya yang ready lagi sold out. Seringnya sih nggak sampai selama itu. Tapi, anehnya gue tuh biasanya termasuk orang yang kalo udah laper jadi nggak sabaran. Berbeda kalau lagi ke Sushi Tei. Gue rela deh dibuat nunggu juga kalau memang harus. Gue bahkan berkali-kali jadi waiting list gara-gara restorannya udah penuh. Video di bawah pas banget selesai sidang kalo nggak salah. Gue ke Sushi Tei Galaxy Mall Surabaya sama temen gue Ruben. Hahaha temen nge-sushi gue ya siapa lagi kalo bukan Ruben sama Rafi mah. Pas lagi nggak ada AYCE tapi gue ngidam pengen Salmon Mentai sampe langsung makan sebiji dan berakhir susah ngunyah gara-gara nggak muat hahaha (terlalu semangat, sih!).


Yang menurut gue perlu diacungi jempol lagi waktu AYCE. Nggak mentang-mentang kita ikut AYCE terus cuma sendirian, jadi nggak diprioritasin. Gue waktu itu pernah didahuluin gara-gara yang depan gue rombongan dan masih ada temannya yang belum datang. Pokoknya, ada slot kursi untuk satu orang yang available ya gue langsung masuk. Jadi, antreannya efektif dan efisien. Selama-lamanya gue nunggu kayaknya nggak pernah sampe 30 menit seinget gue. Semoga mereka bisa selalu mempertahankan pelayanan sebaik ini ke depannya. 


***

- This article is not affiliated with any Sushi Tei store all over Indonesia.
- This article was written based on personal experiences.
- This article is 100% authentic honest reviews.
- Please do not re-post or use this article without the author's authorization.
- Please do not save or use my watercolor illustration without permission.
- Accepting work for commission for reviews and illustrations (floral and food illustration). Please find my e-mail through linktr.ee/bintangmahayana.com



1 comment:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.