7 Things I Need to Keep in Mind during Quarter Life Crisis

May 09, 2020
Holla!
Di postingan kali ini gue cuma ingin mengajak kalian untuk berbagi. Siapa sih, di sini yang lagi dalam masa Mid-20's nya? Pasti udah sering banget denger istilah Quarter Life Crisis (QLC), yaa? Tenang aja, kalian nggak sendiri kok. Di sini gue berusaha listing 7 hal penting apa aja yang gue pelajari selama perjalanan menuju seperempat dekade hidup gue. Sebenarnya pasti lebih dari itu. Tetapi gue rangkum menjadi 7 hal ini karena gue rasa termasuk yang punya dampak signifikan dalam hidup gue sejauh ini. Mungkin juga beberapa dari kalian sudah pernah mengalami, mungkin juga belum.
Anyway,  selamat membaca!


Source: unknown



1. Slow Doesn't Really Matter, Progress is Progress

Dulu, gue selalu merasa hidup gue bagaikan serangkaian deadline. Bahkan sejak kecil rasanya gue tumbuh dengan pemikiran semacam ini. Ini nggak sepenuhnya salah. Memang dalam hidup kita harus punya target, bukan? Pasalnya, bukan pada kita memiliki target atau tidak. Tetapi pada bagaimana kita membuat, menyikapi, dan menjaga target yang kita buat sendiri. Banyak manusia hidup dengan target yang bahkan tidak dibuat oleh mereka sendiri. Contohnya, yang paling umum gue temui adalah target menikah. Di usia QLC seperti ini, rasanya kok semua berlomba-lomba ingin segera menikah. Padahal, bisa jadi itu hanya dalam pikiran kita aja. Karena di sekitar kita sering basa-basi soal "Kapan Nikah?" Padahal, kalau kita jatuh karena berumah tangga sebelum benar-benar siap, mereka itu akan tutup mata dan telinga. Sepenuhnya nahkoda dan penumpang di kapal itu nantinya adalah keluarga kecil kita sendiri. Bahkan mungkin, sekoci nya pun. Manusiawi, kok kalau kita merasa kesal. Terkadang kita merasa orang tidak benar-benar peduli. Tetapi hanya sekadar ingin tahu. Rasa ingin tahu itu manusiawi, kok. Hanya bedanya, pada niatnya. Ingin tahu karena niat baik, tidak berniat apapun, atau bahkan bisa jadi buruk. Tapi, itu semua di luar kendali kita. Makanya, yang bisa kita lakukan adalah membuat target kita sendiri. Karena yang mengerti tentang apa yang kita mau dan tidak, pada akhirnya tetaplah diri kita sendiri. Tidak perlu ikut-ikutan orang. Tetapi bukan juga kelewat santai. 

Setiap manusia lahir dengan garis waktu nya sendiri. Tetapi, jangan lupa bahwa takdir itu harus dijemput dan diusahakan.

Setelah berhasil menentukan target, hal selanjutnya adalah menyikapinya. Seringkali, gue merasa target gue terlampau intangible. Sehingga, gue merasa kewalahan sendiri. Tidak banyak hal yang bisa gue check dalam list yang gue punya sebelum-sebelumnya. Dengan gue menulis judul pada poin ini, maksudnya bukan berarti menunda-nunda progres. Tetapi lebih kepada menyikapi progres itu sendiri. Tidak selamanya yang cepat itu baik dan yang lambat itu buruk. Yang jadi masalah adalah jika hanya duduk di tribun, di saat orang lain sudah berlari di lintasan estafet meskipun kadang harus terjatuh. Duduk di tribun bukan berarti istirahat, tetapi benar-benar tidak melakukan apapun. Hanya menonton progres orang lain dan bukan tidak mungkin malah hanya mampu melemparkan komentar. Dulu, gue pernah membatin, "kok bisa yaa, dia begitu? kapan yaa, gue begitu juga?". Sekarang pun masih, kadang. Hanya beda di sikap setelahnya. Dulu, gue jatuhnya comparing. Saat ini, gue selalu berusaha "menjadikan siapapun adalah guru". Pasti ada yang bisa kita pelajari dari orang lain. Bahkan mungkin, dari sikap buruknya. Menganalisa orang lain juga bagian dari progres. Karena dengan menganalisa, kita bisa merefleksikan pada diri kita sendiri. Menganalisa di sini maksud gue adalah mencari apa yang bisa kita pelajari dari orang tersebut. Misalnya, kita lihat, "kok orang ini jago banget kayaknya cari duit, yaa...gimana ya caranya?" Kalau gue liat ada orang "hedon", hal pertama yang terlintas di otak gue adalah: gue ingin belajar bagaimana caranya dia menghasilkan uang. Kalaupun suatu saat gue berhasil, gue belum tentu harus mengikuti gaya hidup orang itu. Tetapi, gue harus tau bagaimana caranya bisa menghasilkan uang seperti orang itu. 

Coba, gagal, evaluasi, coba lagi. Inilah yang gue sebut dengan menjaga target: being consistent.  Seringkali, ini jadi masalah umum saat QLC. Kita terlalu banyak keraguan sehingga kita tidak bisa setia pada target yang kita ciptakan sendiri. Hal yang kemudian gue sadari, gue selama ini terlalu fokus memikirkan target utama. Tetapi gue lupa bahwa gue juga butuh target-target pendukung untuk membawa gue mencapai target utama. Misalnya, kita punya target utama: bisa nerbitin buku sendiri. Nah, target-target pendukungnya bisa:
  • Menentukan ingin menulis tentang apa
  • Baca buku A, B, C, dst untuk referensi
  • Ikut kelas menulis dengan author D
  • Ikut lomba menulis untuk latihan dan portfolio
  • Cari info tentang penerbit E
  • Buat target menulis harian (ini bisa kita breakdown jadi target-target lagi)
  • Minta tolong teman F untuk jadi Beta Reader naskah sebelum dikirim ke penerbit 
  • Kirim ke penerbit
  • Memikirkan konsep digital marketing
  • Giveback apa yang bisa dilakukan sebagai tanda syukur
Jadi, kita tetap fokus tetapi terukur. Sehingga, kalau kita punya target-target pendukung, kita nggak akan merasa terlalu jauh dari target utama. Setidaknya, ini yang bisa membantu kita untuk konsisten. Karena, semakin banyak target pendukung yang kita capai, biasanya kita akan semakin semangat karena merasa semakin dekat dengan target utama tadi. Mencapai target-target pendukung inilah yang gue sebut dengan slow



2. There's a Sky Above the Sky

Di poin nomor 1, gue menyebutkan soal menganalisa orang lain, bukan? Tetapi, ada kalanya kita juga perlu menentukan batas yang real. Tidak selamanya melihat ke atas itu baik. Cobalah melihat ke bawah. Bukan untuk menjadikan penderitaan orang lain sebagai pembenaran untuk bersyukur. Syukur itu wajib. Bahkan dalam keadaan kurang, pun. Tetapi, melihat ke bawah untuk bisa menghargai proses yang sudah kita jalani sebelumnya itu penting. Misalnya, gue liat ada orang di socmed yang gue ga kenal, cerita lagi pusing soal skripsi. Gue juga pernah mengalami itu. Sehingga, yang gue lakukan adalah mengundang rasa empati dalam diri, sehingga muncul rasa syukur itu tadi. Jujur, sampai detik ini kadang gue masih nggak percaya dengan gelar yang gue sandang. Sesekali terbesit pikiran "apa iya gue benar-benar sudah pantas menyandang gelar Sarjana Arsitektur?" Tetapi, melihat progres yang sudah gue capai, gue merasa berhak menerimanya dan mensyukurinya. Gue sudah melewati apa yang orang itu sedang lalui. Pun, di atas gue juga pasti ada orang-orang yang sudah melewati apa yang sedang gue jalani.

Ada kalanya, kita juga ga hanya harus melihat secara vertikal, tetapi secara horizontal ke kanan dan kiri. Bagaimana orang-orang di sekitar kita? Keluarga dan sahabat-sahabat apa sudah kita perhatikan? Apa mereka butuh bantuan? Apa mereka butuh supportSudah kita gunakan untuk siapa sajakah waktu luang kita? Terkadang kita abai karena terlalu sibuk mengejar target pribadi. Padahal, dalam perjalanannya, bukan tidak mungkin mereka-mereka ini juga yang menjadi roda pendukung kita mencapai target-target kita. Ini adalah salah satu pelajaran paling menohok sepanjang sejarah hidup gue, mungkin. Puncaknya baru gue sadari saat gue akhirnya sudah bekerja di Jakarta. Hidup gue sebelumnya dipenuhi dengan target-target pribadi yang menjadikan gue tidak banyak hadir bagi keluarga gue sendiri. Sampai gue ingat sekali, pernah suatu hari Mama sampai bilang,
Mbak, pulang lah. Jangan sibuk sekolah terus.
Mama bilang begitu waktu gue masih kuliah. Saat itu, gue cuma bisa iya-iya aja. Barulah terasa ketika gue sudah cari uang sendiri. Berangkat pagi, pulang malam. Tiap pulang selalu disambut dengan kamar kosan yang gelap dan sepi. Kalau gue masih sekolah dulu, mungkin ini heavenly life. Nggak ada yang nyuruh cepet-cepet ganti baju. Tapi, setelah gue kerja, gue malah kangen dimarahin Mama. 



3. Doesn't Matter How Much Money You Earned, but How Much You Invested

Pernah nggak, sih kalian perhatiin? Ada orang yang mungkin secara nominal penghasilan ga banyak-banyak amat, tapi pas waktunya dia butuh kok ya cukup-cukup aja. Tetapi, ada juga yang gajinya fantastis tapi kok ya hutangnya di mana-mana. Investasi di sini nggak melulu soal duniawi, kok. Meskipun, kita tetap butuh juga dan wajib malah. Ada yang investasi langsung dalam bentuk saham. Ada yang investasi dalam bentuk logam mulia (meskipun later gue pelajari ternyata ini hanya mempertahankan nilai uang yang kita punya, bukan sepenuhnya investasi). Ada yang investasi dalam bentuk ilmu pengetahuan. Ikut workshop, certified trainings, online classes, dan lain-lain. Tapi, satu yang bukan nggak mungkin terlupa, investasi dalam bentuk Zakat Mal (Zakat untuk membersihkan harta kita dari riba serta memenuhi hak orang lain), karena sebagian dari rezeki yang kita peroleh, di dalamnya terdapat juga hak orang lain. Nah, investasi yang terakhir ini biasanya semacam kado kejutan dari Yang Maha Kuasa. Terkadang dibalas saat itu juga, beberapa bulan kemudian, beberapa tahun kemudian, bahkan mungkin setelah kita berpulang nanti baru kita tuai hasilnya. 

Gue selalu percaya, amalan baik yang kita tanam sekarang, mungkin tidak selalu kita yang menuai hasilnya di dunia. Bisa jadi generasi dan keturunan kita nanti yang akan memperolehnya. Nah, sama dengan kasus orang yang pertama. Banyak gue perhatikan, para dermawan itu selalu terlihat "merdeka". Orang-orang yang bahkan dalam kurangnya tetap menderma. Mereka inilah horang kaya yang sesungguhnya. Makan saja susah, tetapi masih mau berbagi. Gue rasa, dunia lebih butuh orang dermawan daripada orang sukses. 

Dalam hal duniawi, gue rasa cash flow itu penting. Ini banyak banget gue pelajari dari buku Rich Dad, Poor Dad. Kita sering lupa, hanya mengisi air kemudian membuka keran, repeat. Padahal, seharusnya saat kita membuka keran air, kita harus sediakan ember-ember untuk menampungnya. Ada yang kita pakai sendiri, ada yang kita kasih orang lain supaya bisa mandi juga, dan ada yang disimpan dalam ember tertutup. Nah, ember yang tertutup ini mau kita apain? Kalau cuma disimpan aja yaa, selamanya bakal segitu-segitu aja. Bahkan bisa jadi berkurang karena kualitasnya akan menurun akibat terlalu lama disimpan. Sama kayak kita nabung doang di bank, ya bakal segitu aja duit kita. Bahkan bisa turun nilainya karena inflasi. Uang yang kita miliki saat ini akan makin nggak ada harganya suatu saat. Nah, coba kalau kita jual? Kita bakal bisa dapat modal untuk menghasilkan air yang lebih banyak lagi.



4. Have a Personal and Professional Portfolio

In the end of the day, people will not remember about what you said, but what you did. 

Gue selalu percaya bahwa footprints itu penting. Baik secara personal, terkait imej kita di mata orang lain. Maupun secara profesional dalam bentuk karya yang bisa dilihat. Orang sibuk bicara tentang "Pentingnya Personal Branding". Tetapi nggak jarang yang gue dengar jatuhnya delusional. Orang terlalu sibuk menjadi "wah" tetapi luput dari esensi branding itu sendiri. Contohnya, dulu gue berfikir, "pokoknya gue nanti pas kerja pertama kali, harus langsung di perusahaan besar." Tetapi saat itu gue belum sadar esensinya apa. Gue kira punya jejak pernah bekerja di perusahaan besar saja cukup. Sampai akhirnya, gue sadar bahwa yang terpenting adalah legacy. Apa yang bisa kita tinggalkan di tempat sebelumnya atau di tempat kita saat ini? Gue punya prinsip, nggak mau resign sampai gue yakin gue sudah punya footprints yang baik di tempat itu. Soal ini sudah sempat gue singgung di artikel gue yang berjudul "Resign".

Baca JugaRESIGN

Seiring dengan berjalannya waktu, gue suka nggak sadar bahwa hobi-hobi gue yang berbicara atas nama gue. Mereka yang bekerja sama membangun portfolio gue untuk dua konsep sekaligus, personal dan profesional. Mulai dari Make Up, melukis, bahasa, blogging, sampai yang gue nggak sangka: persuasive skill. Gue sering diminta jadi penengah padahal gue juga bingung kudu gimana. Tapi, yang mereka bilang, "I trust you, Bin. Cause they listen when you talk." Lucu memang kadang. I never meant to be wise, gue juga masih butuh banyak koreksi dan belajar. Tetapi, ini sedikit banyak juga jadi berpengaruh terhadap professional skill gue. Apalagi pekerjaan gue selama ini nggak pernah lepas dari yang namanya negotiation.  Gue selalu menganalogikan rezeki itu portal-portal. Mereka bisa datang dari banyak pintu. Tergantung kita, mau jemput lewat jalan yang mana dulu? Nanti, biar Allah.SWT yang buka dan mengalirkan. Kadang datangnya macam orang yang keluar pintu dengan berbaris, satu per satu keluar. Ada kalanya juga beramai-ramai dalam satu waktu layaknya hujan.



5. Keep Away All the Negative Vibes that Doesn't Make You Grow

Sering gue dengar, blocking people is immature. Tetapi, gue menganggap sebaliknya. Kalau memang the person does no good but harm in your life, keep them away!  Kita manusia yang berhak punya keseimbangan batin. Kalau kehadiran mereka membuat kita rugi, justru bodoh kalau kita masih bertahan. If you can't stand the heat, get out of the kitchen - salah satu idiom Bahasa Inggris favorit gue sejak SMP. Tetapi, yang harus diingat, gue bisa menjadikan mereka "guru". Pasti ada yang bisa kita pelajari. Contohnya, gue pernah dijauhi hanya karena suatu pencapaian yang sebenarnya gue dapat juga secara nggak sengaja. Awalnya iseng, nothing to lose, eh lolos AFS. Seminggu lebih gue dianggap musuh. Seolah gue nggak berhak dan nggak pantas mendapatkannya. Apa salahnya? Gue ikut tes secara fair sama seperti peserta lainnya. Gue bersaing satu Indonesia. Mengalahkan 8.000 orang lainnya yang memilih Jepang sebagai negara tujuan. Apa gue pernah pamer? Yang ada gue sedih setiap ditanya, "Kapan berangkat ke Jepang?" Sampai pernah gue cerita ke seorang teman, "Tau nggak sih, setiap ditanya begitu, gue rasanya kayak diusir dari sekolah." Walaupun ya, itu cuma pikiran pendek anak SMA labilnya gue saat itu. Bahwa sebenarnya, gue hanya belum bisa mengerti bahwa ada orang-orang yang bahkan lebih excited daripada gue sendiri. Ada orang-orang yang mendukung gue dan mendoakan gue. Pun ada juga orang-orang yang nggak bisa mengontrol perasaan kecewa terhadap dirinya sendiri sehingga blaming dan merasa bahwa apa yang mereka jalani adalah buah dari ketidakadilan semesta.

If you were not there during the hard time, not there to listen when I needed help, don't ever dare to step forward when I am happy and feeling enough.
Gue nggak bermaksud jahat. Tetapi, gue cukup mendoakan kebaikan buat orang-orang seperti itu dari jauh. Benci itu dosa. Tetapi teman tetap harus dipilih dan memilih-milih teman itu tidak dosa. Agama yang menyuruh. Pun juga, gue pernah baca menurut sebuah penelitian psikologi, sifat kita itu dipengaruhi oleh rata-rata sifat 5 orang yang paling intens berinteraksi dengan kita setiap harinya. Inilah mengapa kita harus memilih dengan siapa kita berteman. 



6. Have Backup Plans

When we are settled, we actually is being prepared from another storm. Remember, the sky is always clear before the hurricane.
Pernah nggak, sih? Habis excited banget sama sesuatu, tiba-tiba langsung down lagi gara-gara apa yang terjadi nggak sesuai rencana dan ekspektasi kita? Gue pernah, sering malah wkwk. Tetapi, nggak pernah berlangsung terlalu lama karena gue akhirnya sadar kalau gue butuh menyiapkan backup plans, always. Lagi-lagi harus uji coba. Sampai kita benar-benar menemukan metode yang tepat. Kita sendiri yang harus rajin research, sebenarnya jalan hidup kita ini mau dibawa ke arah mana, sih? Allah selalu berkomunikasi dengan kita lewat kuasa-Nya dalam memberikan kode-kode yang menuntut kita untuk peka. Allah tidak pernah tidur, jadi kita jangan sampai ketiduran.

Di kondisi QLC, mentality kita rawan goyah. Sehingga, kalau kita kehilangan pegangan, akan jadi nggak tau arah. Bingung, pusing, stres, nggak tau harus ke mana dan ngapain. Percayalah, hal-hal itu manusiawi dan kalian tidak sendiri. Gue bersyukur masih bisa sedih dan kecewa. Artinya Allah masih sayang. Karena, dengan perasaan sedih dan kecewa itu, gue jadi lebih punya banyak waktu dan kesadaran untuk menghamba secara tulus. Bukan hanya perkara kewajiban semata. Memang, manusia bisa punya rencana dan Allah Yang Memutuskan. Tetapi dengan usaha dan doa itu, kita jadi terarah. Supaya nggak serta merta langsung hilang arah saat menemui jalan buntu. Kadang, kita harus putar balik dan lihat lagi ke belakang. Menganalisa satu per satu, "oh ini yang salah, ini yang kurang, ini yang harus dipertahankan, dan ini yang harus ditingkatkan." Dengan punya backup plans, biasanya kadar kecewa nya nggak akan sedrastis kalau kita hanya punya single plan yang belum berhasil. Hal ini juga yang lambat laun gue sadari sebagai salah satu modal utama untuk thriving.


 

7. Finish What You Started

Learn how to rest, NOT to quit

Salah satu hal yang paling delusional yang sering diucapkan banyak orang adalah jangan pernah takut mencoba hal baru. Loh, kenapa? Selama ini, gue juga selalu menganut faham bahwa mencoba hal baru itu wajib. Tapi, sayangnya seringkali ini dilakukan terlalu sering dan berakhir tidak ada hal yang benar-benar "selesai". Yang ada hanya a bunch of unfinished stuffs. Benar, belajar itu nggak ada ruginya. Tetapi, kalau timing nya salah ya nggak akan membawa kita sampai jauh. Sepertinya poin nomor 7 ini terkesan sepele. Padahal, menurut gue ini salah satu Major Life Skill yang butuh untuk dikuasai oleh semua orang. Dulu, gue sudah pernah blogging. Tetapi, karena gue nggak menemukan purpose yang jelas saat itu, sehingga blog gue juga isinya nggak karuan. Maka, gue memutuskan untuk vacuum. Barulah gue sadar, blogging adalah salah satu elemen yang gue mulai dan belum selesai. Sampai akhirnya, launched website ini dan perlahan orang-orang mulai mengenali gue sebagai seorang blogger. Jadi, nggak masalah berapa banyak hal yang kita mulai. Tetapi, berapa banyak yang mampu kita selesaikan?



***

Thank you for coming to my TED Talk!






No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.