RESIGN

Holla!
Di postingan kali ini gue mau cerita soal resignation. Setelah beberapa hari susah tidur karena kok rasanya ada hal mengganjal pengen banget nulis artikel ini dan cerita. Mungkin dari judulnya aja buat beberapa orang bisa dianggap kontroversial yaa? Tapi di sini, gue benar-benar setulus itu bercerita mewakilkan diri gue sendiri. Nggak ada bermaksud menggurui atau menyinggung pribadi manapun. 
If you wanna know my story further, keep on reading! :)

Jaga Professionalitas, Inilah 6 Cara Resign Terbaik dan Terhormat
Source: shopback.co.id

PROLOGUE
Akhirnya gue memutuskan untuk resign dan ganti pekerjaan. But not gonna be in corporate again for a certain period of time. Gue ingin mengejar passion gue selagi bisa. Sambil surviving sekuat yang gue bisa. Ya, tau. Banyak kok yang bilang gue bego karena resign dari korporasi besar bahkan anak perusahaan asing. Tapi percayalah, kerja itu sama kek jodoh. Do not be shaded by how amazing it looks from the outside.

Gue gada maksud jelek-jelek in tempat kerja lama. Kalian silakan baca sampai selesai untuk tahu perspektif gue secara keseluruhan. Hanya sedikit berbagi pengalaman. Gue nggak pernah nyesal bahkan beruntung bisa kerja di sana. Banyak banget kesempatan self development yang gue dapet. Bener-bener kebanggan di CV. Sayangnya, gue hanya nggak menemukan tempat itu sebagai apa yang gue cari selama ini. That’s not what I wanna do for living. Hidup bukan hanya soal kebebasan secara finansial, bukan? Walaupun itu penting.




QUESTIONING
Tapi gue yakin, ini adalah yang terbaik. Karena akhirnya gue bisa pulang sebelum pandemi ini se-massive sekarang. Gue lebih merdeka secara psikologis. Pun secara fisik. Karena jam tidur mulai bisa gue atur lagi. Dulu, karena di proyek, Sabtu-Minggu rasanya nyaris nggak ada bedanya sama Senin. Kapanpun bisa ditelpon kontraktor karena mereka butuh instruksi dari gue.

Nggak bersyukur? Bukan. Tapi hampa karena sekali lagi, bukan itu yang gue cari. Bukan yang utama. Sekali lagi gue nggak muna bahwa duit itu penting. Siapa yang nggak butuh duit? Tetapi, di balik nominal itu, ada segudang pengorbanan mental dan fisik yang harus dibayar. Sampai gue lupa diri. Bahwa gue bukan robot. Gue manusia. Gue sendiri yg over-pushing me. Bukan perusahaan, bukan orang lain. Kerja lembur bagai kuda itu nyata adanya.

I started questioning. Gue sampe pernah bilang sama atasan gue di tempat yang lama:
"Pak, apakah saya memang nggak ditakdirkan untuk kerja kantoran seperti ini? Atau sebenarnya saya hanya salah melamar posisi?"
Intinya satu yang gue ingat yang beliau sampaikan:
"Apapun pilihan kamu, yakinlah dengan itu. Kamu bisa lari, berlari lah sekencangnya."

Well, hidup itu sebenarnya memang perkara pilihan, bukan?
Kadang kita ngerasa bangga, menyesal, sebagian menghantui kita seumur hidup. Tapi, apapun jalan yang kita pilih, live it up to the fullest!
Gue masih inget kata-kata Div Head gue saat gue pamit:
"Yah, Bintang kok baru sebentar sudah pergi? Kita sedih loh. Nggak dibantuin Bintang lagi."

Sampai keterusan ngobrol dan bilang:
"Bu, makasih yaa, saya sudah diizinkan bergabung dengan team walau sebentar. Ini pekerjaan pertama saya. Di perusahaan sebesar ini. Selamanya ini nggak akan saya lupakan."

Kemudian ibu nya kaget dan bilang:
"Serius? Ini pekerjaan pertama kamu?"
"Iya, Bu hehehe. Ibu nggak percaya gitu" sambil dengan nada bercanda.
"Serius saya nggak nyangka, loh. Bahasa Inggris kamu bagus. Kita semua di sini jadi bisa surat menyurat pakai Bahasa Inggris yang baik. Tender juga dokumennya detail, rapi, dan Bahasa Inggrisnya bagus. Kamu nggak kayak baru pertama kali kerja."
"Ibu bisa aja. Saya banyak banget nanya juga kok Bu sama nyari-nyari di Google. Saya mana pernah ngurusin tender kalau nggak kerja di sini? Mimpin rapat mingguan aja nggak pernah." sambil tertawa berdua.

Rasanya sesedih itu waktu pamit. Tapi, di satu sisi juga lega. Bahwa habis ini ada lembar baru yang akan segera dimulai.
"Maaf ya, Bu. Saya nggak bisa lanjutin proyek lagi. Saya mau mengejar mimpi saya yang lain. Semoga nanti yang menggantikan posisi saya bisa lebih banyak berkontribusi lagi buat perusahaan."
"Semoga sukses yaa, Bintang. Kami berterima kasih untuk footprints yang kamu sudah tinggalkan untuk team."

Melangkah keluar ruangan, menahan tangis. Malu cuyy, udah dicegat temen-temen se divisi di luar ruangan. Sampe dipaksa suruh makan bakwan dulu wkwk. Ya emang, sih. Gue di kantor cenderung pendiam, nggak banyak omong. Semua bilang:
"Bintang kalau udah kerja, fokusnya gila. Kayaknya sekitarnya mau gimana juga nggak bakal keganggu."
Ya, memang begitulah gue. Kadang ada sisi individualis nya yang nggak jarang bikin orang salah paham. Gue hanya merasa setiap detik waktu gue berharga. Kalau gue sudah target jam 8-10 ngerjain A ya gue nggak akan ngerjain B. Gue akan fokus ngerjain A sampai selesai. Pengalaman sudah mengajarkan gue bahwa multitasking belum tentu lebih produktif. Seringnya malah buyar kalau di gue lol.





MY BRAIN vs MY BODY
Gue bisa sampe jam 10 malem di kantor. Sendirian. Di lantai 6. Sampai satpam pada takut gue kenapa2. Saking gue kalo udah kerja sulit berhenti. Sampai akhirnya, gue ambruk. Opname tanpa keluarga kandung adalah my lowest point in life. Pertama kalinya operasi organ. Padahal gue kira selama ini badan gue selalu bisa diajak kompromi. Nyatanya, dia pun juga bisa berontak. Kalau badan gue bisa teriak mungkin dia udah teriak suruh gue berhenti menyiksa dia.

Gue selalu dianggap orang tua gue sendiri bahwa gue anak yang bisa dipercaya. Gue mandiri. Tapi, pada saatnya gue tetaplah manusia biasa yang juga butuh orang lain (bukan bergantung). Di saat fisik gue lemah, saat inilah saat gue paling ngerasain banget betapa hidup itu bukan hanya perkara gue seorang diri. Di saat tenaga gue Allah ambil, dan gue hanya bisa nangis tengah malam. Ulas balik ke masa-masa gue bisa dengan lincahnya keliling dunia, seorang diri. Mungkin selama ini gue terlalu sombong terhadap diri gue sendiri. Merasa gue bisa. Merasa gue sanggup. Sampai lupa, bahwa gue nggak akan punya kekuatan itu tanpa diberi oleh Yang Maha Kuat.

Atasan gue berkali-kali bilang:
"Kamu tahu kan, pekerjaan kamu berat?" I nodded.
"Kamu tahu kenapa saya nyuruh kamu yang kerjain?" Terdiam.
''Karena saya percaya kamu yang bisa. Saya belum tentu tau kok gimana cara ngerjainnya. Tapi saya tahu ada isi di kepala kamu yang menjadikannya bisa."
"Pak, andaikan saya nggak bisa sakit, saya nggak akan berhenti. Otak saya juga selalu mendorong saya kalau saya mampu seperti yang Bapak percayakan sama saya. Tapi fisik saya lain, Pak."

Sering, gue dianggap sok pintar. Kadang gue nggak bertanya dan selalu berusaha mencari jawabannya sendiri. Gue selalu menganggap bertanya lah saat sudah menyerah. Aneh memang. I was that selfish-minded.
"Kamu tahu kamu punya isi di kepala kamu. Tapi itu bisa jadi kekuatan dan kelemahanmu. Kamu kalau ngerasa sudah berisi di kepala. Yang lainnya nggak akan bisa masuk lagi."
Gue terdiam. Sakit tapi benar adanya. Kenapa gue kesannya sombong sekali jadi manusia? Gue menangis sejadinya saat kembali ke kosan.

Gue - si ambisus yang selalu merasa otak gue sanggup. Gue - si anak pertama yang selalu merasa harus tampil sempurna dan jadi contoh. Tapi nggak mensinergikannya dengan otak yang lain dan yang utama lagi dengan badan gue sendiri. Seolah gue lahir di zaman yang salah. Kenapa nggak ada orang yang mengerti? Tapi nyatanya, memang gue sendiri yang sulit. Otak gue pasti akan nyuruh berfikir 24/7, tapi fisik gue hanya sanggup delapan jam. Sampai rasanya kembali ke tempat tidur pun otak gue masih disandera oleh kerjaan. Gue nggak pernah benar-benar nyenyak. Bangun tidur langsung cek WA dan e-mail. Tiap Kamis selalu dihantui laporan dan rapat rutin di mana gue yang bertanggung jawab menyelenggarakan.





BEING POWERLESS
Selama sakit, gue berkali-kali deny. Merasa gue masih bisa nahan. Sampai akhirnya, cowok gue ngajak gue periksa di RS sampai dibela-belain cuti. Am so sorry. Hasilnya, positif accute appendicitis atau radang usus buntu akut. Gue langsung dijadawalkan operasi besok sorenya. Tapi, saat itu gue terpaksa berangkat sendiri dari kosan ke RS. Baru dia dateng lagi di saat gue mulai ngamar sebelum operasi. Gue koma selama 65 menit. Padahal normalnya 15 menit pasca operasi, anestesinya akan hilang dan gue harusnya sudah sadar. Hanya ada cowok gue dan bude gue yang kebetulan rumahnya di Bekasi dan Bogor.

Setelah operasi, bude harus pulang karena ada urusan lain yang mendesak. Kemana orang tua gue? Mama dan Papa sudah di ujung persiapan berangkat ibadah haji dengan kondisi kedua adik gue yang masih sekolah. Nggak mungkin mereka ditinggal. Gue pasrah, gue bilang:
"Sudah, nggak apa-apa kok, Ma. Mbak masih bisa sendiri. Masih kuat jalan kok ini. Sebentar lagi juga operasi. Doain aja yaa."

Ya gue tau, kok. Mama sebenernya nahan nangis sambil berdoa supaya operasinya lancar. Tapi semua lagi dalam kondisi sulit. Mungkin itu salah satu ujian juga buat orang tua gue. Di saat mereka mau melaksanakan ibadah yang mulia, gue harus sakit. Apa mereka bisa ikhlas?






WHAT I LOVED THE MOST ABOUT THE COMPANY
Bagi orang lain, pekerjaan gue sebelumnya terlihat sangat ideal untuk orang seusia gue. Dengan kondisi belum menikah, di pusat kota, perusahaan bonafide, exposure ke banyak network dan stakeholders. No formal but direct training. I jumped right into the field. Jujur aja gue salut sama kantor lama karena they didn’t treat me as a “fresh graduate”. They treated me as if I’ve been a pro all these years. Mereka percayain gue mimpin tender, survey project sampai ke Kalimantan, ambil keputusan di lapangan, bahkan perbaikan sistem proyek terutama soal database dan tender administration. Perusahaan mana yang mau percaya?

But I am quite certain, ini adalah keputusan yang benar. Semua ilmu yang mereka beri, akan gue manfaatkan selama gue melakukan pekerjaan yang sekarang. Secara benefit pun gue seneng karena kantor gue yang lama gedungnya bagus (suka jadi lokasi prewed dan memang punya ballroom untuk acara-acara termasuk wedding), makan siang gratis dan lauknya selalu enak-enak. Punya bank juga jadi urusan apapun gampang banget tinggal ke basement. Lingkungan rohani nya solid dan meneduhkan. Tentunya, membanggakan bagi siapapun yang menyandang posisi sebagai employee nya.





SELF DEVELOPMENT POST RESIGNATION

1. Hard Skill
Jujur, gue lebih banyak belajar soal skill data analysis dan pengolahannya. Gue jadi semakin sistematis saat bekerja. Bahkan dalam hal berkomunikasi secara tertulis, semua ada sistemnya sendiri. Semua ada workflow chart, measurable targets, dan instruments nya. Gue jadi semakin terbiasa dengan English for Business. Di mana ini jelas sangat berpengaruh ke depannya di mana pun dan dengan siapapun nantinya gue akan bekerja sama. Termasuk di bisnis sekarang yang sedang gue rintis dan jalani.

Gue jadi lebih aware akan waktu yang gue punya, jadi time management skill gue pun meningkat. Karena gue tau betapa kecewanya gue sama diri sendiri ketika gue nggak bisa memenuhi target yang atasan gue berikan (meskipun kadang terdengar nggak masuk akal lol). Tapi gue selalu menganggap itu sebagai challenge. Bahwa gue mampu asal gue bisa kerja cerdas. Selalu ada jalan bagi si pemalas, bukan? Semakin gue mengakui gue pemalas, biasanya gue akan semakin berfikir kreatif. I need to get this done in the easiest way possible resulting the very best outcome I could. Selalu itu yang ada di pikiran gue. Bagaimana caranya ini bisa selesai cepat tapi gue nggak kesusahan?


2. Soft Skill
Ini lebih banyak kaitannya dengan hubungan horizontal. Gue jadi lebih peka, karena sebelumnya gue dinilai individualis dan nggak peka. Meskipun di lingkungan sosial pergaulan luar kantor gue adalah 180 derajat kebalikannya. Gue juga jadi lebih bisa mengontrol emosi meskipun belum sempurna. But I am better than the old me, slightly. Gue jadi makin bersyukur karena sadar cari uang itu nggak mudah. Sehingga, hubungan vertikal juga berangsur lebih baik lagi. Didukung dengan kondisi kantor sebelumnya yang punya musholla yang super nyaman dan adem. Banyak kajian dan komunitas muslimnya juga dekat dengan gue. Sampai diajak ikut lomba antar anak perusahaan maupun internal. Beneran ngerasa se-kehilangan itu sebenarnya. Tapi bahagia banget karena semenjak kenal mereka, gue jadi ada semangat lebih buat ngejar dhuha sebelum kerja.







DEEP CONVO WITH PAPA

Gue menganggap resign ini bukan sebagai kemunduran dari perjalanan karir gue. Tapi justru ini awal dari kemajuan diri. Gue semakin tau apa yang gue mau dan tidak. Bukan hanya sekadar mementingkan pandangan sosial maupun personal branding pada umumnya. Lebih kepada, I found my ikigai - alasan gue hidup. Bahwa sebelum mencapai kestabilan yang lainnya, gue terlebih dahulu harus stabil jiwa nya. Saat jiwa gue stabil, otak gue ini bisa gue ajak collab di luar batas kewajaran yang gue pernah bayangkan sebelumnya. 

Gue pernah ingat suatu kajian:
"Rezeki, selama urusan dunia, sudah ada Yang Mengatur."

Suatu hari saat curhat sama Papa di telepon saat gue masih di Jakarta, papa bilang:
Mbak, Papa tahu. Jiwa mu itu leader seperti Papa. Sulit sekali diatur. Makanya, Papa sedari awal yakin, kamu pasti akan membangun bisnismu sendiri. Membangun sesuai maumu. Kamu nggak bisa didikte apalagi kalau nggak sesuai prinsipmu. Bahkan oleh Papa sendiri. Kadang kita kerja juga melawan hati nurani kita sendiri, kan?  Bakat pemimpin mu itu adalah gift. Nggak semua orang punya dan itu mengalir dalam darahmu, secara genetik dari Papa.
Seketika gue teringat buku Prof. Rhenald Kasali yang berjudul Self Driving. Inilah yang gue tanam dalam-dalam di benak gue dan gue bertekad seutuhnya:
I am gonna be my self driver, not just a passenger.

Ternyata, gue sadar. Bukan masalah gue nggak bisa bekerja sama. Tapi, ketika prinsip gue tergoyah, gue nggak akan bisa merasa secured. Ketika sesuatu hal nggak masuk di logika gue, gue akan otomatis menjadi defensive. Jiwa debater gue nggak pernah mati. Sampai orang bisa menjejali otak gue dengan logika, evidences, dan data, gue akan kejar. Kalau gue salah, gue pasti akan akui gue salah. Tapi kalau gue merasa benar dan omongan orang nggak bisa masuk logika. Sampai mati gue kejar pendapatnya. Fasisme? Slightly. Tapi sebenarnya nggak juga. Gue hanya akan diam setelah gue merasa gue sudah menyampaikan apa yang menurut gue seharusnya gue katakan, meskipun itu sakit. Gue butuh orang lain tahu, bukan setuju.






EPILOGUE

Gue nggak ingin takut lagi. Tapi gue juga selalu mencari cara dan nggak pernah ingin jalan di tempat. Gue percaya takdir. Tapi, gue juga percaya bahwa takdir itu harus dijemput dan diusahakan. Nggak masalah kalau gue harus menjemputnya dengan cara yang berbeda. Toh, ada banyak jalan ke Roma. Jalan tiap orang boleh berbeda, meskipun tujuannya bisa jadi sama. Nggak masalah apa pendapat orang. Pada akhirnya, yang paling tahu hidup gue sendiri adalah Allah dan diri gue sendiri.

Orang bilang "jangan resign sebelum lo dapat pekerjaan yang baru." Logika ini nggak salah. Sama sekali nggak salah. Hanya saja, gue mengalami kondisi yang tidak biasa. Gue nggak bisa menunggu lebih lama kalau gue masih ingin hidup lebih lama dengan jiwa yang tenang. Gue punya rencana. Lebih dari satu. Perlahan gue coba. Sampai gue bisa berkata:
"Ternyata ini maksud Allah memberi gue ini. Ternyata ini yang Allah ingin gue ngerti, sadar, dan paham. Ternyata ini jalan gue." 

H-1 bulan, gue menaruh surat resign gue di meja atasan dan menemui pihak HR. Gue resign dengan cara yang terhormat dan baik-baik. Gue briefing semua items yang akan gue hand over in ke orang lain. Pun pamit dengan siapa saja yang gue bisa temui semaksimal yang gue bisa.


***


2 comments:

  1. Terharu song :')
    Jiwa-jiwa cancer ambisius gini mah tahan banting dan adatif dimana aja emang. Cepet sembuh tang, and good luck for ur future endeavours!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for visiting, Owi! ENTJ-Cancerian is a different kind of human being memang yaa, lol. Am all good now. Malah jadi punya banyak waktu buat self-work out. May the blessings be with you too!

      Delete

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.