My Writing Journey as a Blogger Until Google Adsense Approval and Shown in Google First Page

Holla!
Di postingan kali ini mungkin agak sedikit berbeda karena bakal cerita soal pengalaman pribadi seputar menulis di blog dan bagaimana caranya blog ini diterima oleh Google AdSense. Beberapa kali sempat dapat DM di instagram @bintangmhyn soal blogging dari teman-teman yang mungkin mau merintis karir menulis mereka di dunia blog. Makanya, gue buat postingan ini untuk kalian semua. 
Keep on reading! 

Image result for vanilla sky
Source: wallbee.us

The Beginning - Awal Mula 

Gue memang udah suka banget nulis dari kelas 6 SD. Dulu gue suka nulis-nulis novel gitu bareng temen SD gue yang gue panggil Aen. Kita suka tukeran buku tulis yang isinya udah kita tulis macem novel dan dijepret sama lanjutan-lanjutan ceritanya. Mungkin satu novel bisa 3 buku tulis sidu waktu itu haha. Yaampun itu novel ala-ala gue di mana lah, yaa? Inget banget dulu tokoh utamanya cewek yang gue kasih nama "Gladys". Inget nya itu doang yaampun. Waktu kelas 6 SD emang lagi booming banget novel-novel Teenlit gitu makanya gue memulai “karir” ini dengan menulis cerita fiksi. 

Lanjut masa SMP, gue lebih banyak kesempatan untuk berkarya lewat menulis di bidang Karya Tulis Ilmiah. Gue ikut lomba di berbagai tempat dan alhamdulillah bisa dapat juara juga. Sesekali nulis puisi but meh nggak banget lah untuk dipublikasikan. Konsumsi pribadi aja. Sempat blogging di Blogger juga dulu tapi bukan page yang ini. Udah nggak tau ke mana lah pokoknya. Isinya juga nggak karuan. Nulis semaunya sendiri termasuk puisi yang nggak banget tadi yang entah kok ya akhirnya dipublikasikan di blog juga. Waktu smp blogging memang lagi trend banget. Entah karena novel Kambing Jantan nya Raditya Dika lagi booming juga atau entah apa hype factor lain, teman-teman sekelas juga pada bikin blog di berbagai platform. 



The Incubation - OFF Blogging

Setelah lulus SMP, gue nggak pernah menyentuh blog gue lagi. Di keseharian semasa SMA, gue lebih dikenal di bidang “English Debate” dan “Karya Tulis Ilmiah.” Pokoknya nggak pernah nyentuh fiksi lagi. Selalu fokus di KTI. 

Memang sih, waktu gue exchange setahun ke Jepang, gue sempat iseng buka blogger lagi. Dengan maksud menceritakan pengalaman gue selama exchange. Sayangnya, konten semacam ini dinilai terlalu sensitif bagi keluarga Jepang gue dan hosting organization. Walaupun gue nggak ada cerita yang jelek-jelek apalagi menjelekkan orang lain dengan nama. Gue sempat post beberapa foto tapi dengan size yang kecil dan resolusi nya juga rendah. Jadi kalau zoomed in ya akan pecah. Maksudnya untuk melindungi privasi yang bersangkutan. Gue sampai ditemui pihak chapter dengan membawa print out tulisan gue yang saat itu memang gue tulis dalam Bahasa Inggris. Kenapa mereka bisa nemu? Karena gue share link nya ke Facebook Page gue jadi host family gue bisa baca. Jadi ya, mereka bisa paham artinya. Mereka juga menjelaskan bahwa mereka lega karena di akhir tulisan gue menceritakan tentang bagaimana gue bisa dapat banyak pelajaran untuk memahami budaya lain. Terutama tentang keluarga dengan budaya yang lain. Tetap aja, sih tapi mereka minta gue untuk take down tulisan gue. Entahlah, saat itu semua alasan mereka terdengar nggak masuk akal. Gue ogah debat dan gamau ambil risiko dapat penalty untuk early-return atau dipulangkan sebelum program berakhir. Jadi yaudahgue terpaksa take down tulisan gue.

Jujur, pengalaman itu terlalu menakutkan bagi gue yang saat itu masih berusia 16 tahun. Pasalnya, gue harus buka blog gue di depan mereka semua dan menghapus itu supaya mereka bisa lihat bahwa gue benar-benar take down semuanya. Pelajaran berharga memang. Orang punya privacy consent yang berbeda-beda. Sejak saat itu gue sadar, kita benar-benar sepenuhnya harus bertanggung jawab atas konten apapun yang kita garap dan publikasikan. Tapi, dampaknya gue jadi ogah blogging lagi.  Tahun 2012 adalah tahun terakhir gue menulis di blog lama gue itu.



Restart It All - Kembali Menulis

Tahun 2013 gue kembali ke Indonesia dan lulus SMA. Lanjut kuliah dan nggak pernah terpikir untuk menulis lagi. Mungkin karena kuliah gue udah overwhelming yaa. Drafting gambar sama bikin maket terus ampe ngantuk.  Hehe nggak kok. Kuliah Arsitektur juga harus rajin baca. Kadang kita juga ada tugas untuk bikin jurnal arsitektur. Ini kali pertama gue menulis lagi setelah sekian lama. Lagi-lagi balik ke scientific paper. Nggak ada yang salah kok. Hanya kadang ngerasa butuh aja berbagi pikiran personal dalam bentuk opini kah misalnya. Tulisan yang isinya bukan hanya seputar research and citations. Eventhough I love doing research since Junior High. 

Sampai pada suatu hari di tahun 2018, gue lagi sering banget nih bikin content di Instagram. Waktu itu lagi trend banget fitur “Type” yang sekarang masuk di dalam salah satu fitur “Create” di Instastory. Gue sering bikin Open Discussion tentang berbagai hal. Bisa tentang Jepang, Isu Terkini, bahkan Skincare and Make Up. Nah, terus waktu gue bikin story Q&A About Japan dengan hashtag #TanyaJepang, ternyata banyak yang antusias.  Akhirnya banyak yang replied dan bahkan mendukung gue untuk bikin blog, buku, sampai YouTube channel bahkan. Ya ampuuun. 

Jadi, waktu itu akhirnya sobat blogger gue Ridha Tantowi (Owi), DM gue untuk taro tulisan gue di Blog aja. Mana tahu suatu saat bisa dibukukan. Eh, iseng lah gue minta bikinin. Jujur aja karena masih “trauma” blogging hahaha. Sampai kalau liat badge Blogger tuh selalu keinget kejadian di Jepang. Akhirnya gue berani iyain aja. Yaudah dibuatlah page ini. Plus Owi juga yang bantuin gue untuk beli domainnya sehingga URL gue bisa customized. Gue ga bisa beli sendiri karena mohon maaf banget gue nggak punya CC. Sedangkan domain host nya luar punya. Kalau mau tanya Owi mampir aja ke web dia yaa ridhatantowi.com.  Yang bisa gue jelasin adalah  sistemnya itu bayar per tahun. Tergantung kurs dollar saat jatuh tempo. Gue juga tetap nitip lewat Owi sampai sekarang. Itung-itung silaturahmi kan sama teman seangkatan sejurusan jaman kuliah. Yaampun btw page ini dibuat waktu Owi masih exchange di Portugal. Jadi page ini made in Portugal hahaha.


Google AdSense Approval

Okay, singkat cerita di tahun 2018 akhirnya gue mulai nulis di Blogger gue yang baru. Awalnya tampilannya belum seperti sekarang. Masih pakai default template dari Blogger. Terus gue googling aja Blogger Layout Template. Kalian bisa check di bagian paling bawah page ini untuk tau host nya. Tentu tampilan ini beberapa gue modifikasi. Berbekal pengetahuan tentang HTML code ala kadarnya tentunya. 

Gue sempat males nulis juga kok. Kalian bisa lihat sendiri di bagian Archive di samping kanan. Dalam satu tahun tulisan gue nggak sampai 20 posts. Bahkan ada bulan di mana gue sempat off publishing. Pokoknya grafiknya naik  turun. Sampai gue sadar bahwa beberapa post gue ada gitu ya yang baca. Page views per post nya bahkan ada yang lebih dari 1.000. Pernah suatu ketika gue baru aja 4 menit yang lalu published tulisan gue, page views nya udah 15. Buat gue sendiri itu gila sih. Kalau di tahun 2009 blog gue mencapai total 2.000 an page views, di tahun 2019 itu setara dengan page views per post. Karena sadar, oh mulai ada yang komen walaupun dikit, tapi tulisan gue ini ada loh yang baca hahaha. Terima kasih, yaa!

Sejak saat itu gue jadi semangat nulis lagi. Terus gue kerja di korporasi. Gue ngerasa waktu gue untuk nulis memang berkurang tapi sebisa mungkin gue sempatkan. Lumayan meredakan stress juga karena sejujurnya menulis itu kayak meditasi bagi gue personal. Di waktu libur atau weekend gue kadang juga ikut workshop atau seminar. Entah kenapa tertarik banget dengan dunia digital marketing. Pokoknya jadi lebih melek bahwa Google itu lebih dari sekadar mesin pencarian. Jujur, menulis memang hobi. Tapi, nggak ada salahnya kan memonetisasi hobi? Bukan semata dimonetisasi terus yaudah deh bikin artikel seadanya atau yang click bait aja. Menulis itu kebahagiaan. Kalau bisa dimonetisasi, itu bonus. 

Approval e-mail from Google AdSense
Singkat cerita, gue memanfaatkan dua platform, yaitu Instagram Ads yang tentu aja connected ke Facebook Page dan Google Ads. Nah, gue mulai tuh iseng cari info seputar Google AdSense. Gimana sih caranya biar blog kita approved by Google. Jujur, nggak ada maksud pelit ilmu sama sekali. Tapi gue pun waktu pertama kali dapat e-mail dari Google rasanya kayak antara mimpi dan ketidaksengajaan yang membawa berkah. Ada banyak artikel di luar sana yang bilang bahwa kita harus punya sekian pageviews. Tapi, sekali lagi yang tahu kriteria nya hanya team kurasi Google AdSense. Satu hal yang bisa gue bagi, sebelum approval e-mail itu datang, gue hanya terus menulis artikel, pasang di Instagram Ads dengan link yang akan langsung membawa pengunjung ke halaman ini, kadang share juga ke akun Linked In, dan terus menulis lagi. Sudah? Iya, sudah. 


SEO - Masuk TOP 5 di Halaman Pertama Google
Kalian yang akrab dengan dunia content writing mungkin udah nggak asing dengan Search Engine Optimazation (SEO). Gue juga awalnya benar-benar awam. Selama ini juga cuma lihat aja gitu kadang di Linked In ada job opening untuk “SEO Specialist” tapi nggak tahu itu, tuh apa, ya? Bahkan gue baru tau SEO itu apa dan guna nya apa ya waktu ikut workshop di Jakarta Creative Hub. Waktu itu pengisinya dari Talk DGTL. Intinya, gue baru sadar bahwa tanpa SEO, blog ini nggak bakal stand out. 

Bisa dibayangkan ada berapa banyak blogger saat ini? Dengan berbagai macam label. Travel blogger, beauty blogger, lifestyle blogger, food blogger, dan masih banyak lagi. Baik yang sudah punya domain sendiri atau yang masih pake default domain dari platform blogging yang dipakai. Tapi, itu baru personal blog aja. Di luar sana banyak e-commerce yang punya blog section juga. Misal, kita mau review produk kecantikan. Otomatis kita akan bersaing dengan para e-commerce yang notabene nya tidak hanya membahas produk itu tapi juga menyediakan layanan jual-beli. 

Terus, gimana artikel atau postingan gue bisa masuk di halaman pertama google bahkan menjadi 5 teratas? 
Jujur, nggak semudah itu. Gue baru sadar pun setelah 3 bulan artikel di posted. Kalian bisa cek postingan gue 7 Alasan Kamu Harus Traveling ke Jepang Minimal Seumur Hidup Sekali. Waktu itu iseng aja ngetik di Google “7 Alasan Traveling ke Jepang”. Lah, kok di bagian image kayak header image postingan itu yaa. Benar aja, atasnya langsung artikel di blog ini. Gimana bisa? Listing article dan Instagram AdsSempat baca di suatu artikel yang mohon maaf nggak bisa gue cantumkan sumbernya karena nggak sempat gue save dan udah lama. Intinya ada research di mana statistik menunjukkan bahwa artikel yang mengandung unsur data statistik lebih banyak diminati oleh pembaca atau dalam hal ini para peselancar Google. Baru ngeh juga memang waktu workshop di JCH ini sempat disinggung. Menulis itu juga sebenarnya kayak fesyun yaa. Ada trend nya. Memang saat ini listing article sedang banyak diminati. Menurut pengamatan gue pribadi, artikel yang berbentuk poin-poin itu menghemat waktu membaca dan jauh lebih mudah dipahami struktur tulisannya. Sehingga, traffic nya akan cenderung lebih tinggi dibanding dengan non-listing articles. Cenderung berarti nggak semua atau selalu begitu yaa. Artikel gue yang lain juga ada yang pageviews nya lebih banyak daripada yang listing articles. Tetapi nggak masuk Google First Page hahaha. 

Lalu, apa dong faktor utamanya?
Banyak tips di luar sana yang menyebutkan untuk memperbaiki kualitas tulisan kita. Padahal banyak artikel berkualitas di luar sana yang masih underrated. Terkadang artikel yang struktur tulisannya cenderung sulit dipahami juga ada yang bisa masuk halaman pertama Google. 

Kok bisa? Terus apa dong yang paling penting?
Kayak orang jualan. PALUGADA. Apa Lu Mau, Gua Ada. Jadi, supply meets demand. Kalau kita angkat suatu topik, pastikan informasi yang kita sediakan adalah yang orang lain cari. Nggak, kok. Nggak semua artikel gue se-berkualitas dan se-PALUGADA itu. Tapi, kalian bisa lihat sendiri Top Views gue adalah artikel-artikel yang seperti apa. Sebagai salah satu contoh, gue pernah bikin REVIEW - RICH DAD, POOR DAD by Robert T. Kiyosaki (Bahasa Indonesia). Buku itu cukup kontroversial. Jadi, alih-alih langsung beli bukunya, sebagian orang justru akan mencari review nya dulu. Ini buku worth it nggak, sih? Selain supply dan demand nya ketemu, di dalamnya gue menuliskan informasi buku layaknya resensi dan membahasnya per bab. Supaya orang dapat gambaran alur buku ini sebenernya gimana, sih? Bukan memindahkan isi buku ke tulisan gue. Tapi kalau dalam music video istilahnya Sneak Peek. Pun disertai dengan opini gue tentang bagian yang gue bahas. Tentu tidak semua bagian gue ceritakan. Hanya bagian-bagian yang sudah dikurasi. Baru ditutup dengan rekomendasi. 

Okay, udah paham nih. Terus gimana caranya kita tau demand orang lain dan informasi apa yang kita harus kasih? 
Well, ini perkara jam terbang juga, sih kalau menurut gue pribadi. Kecuali mungkin kalian di sini ada yang Data Scientists, kalian akan dengan mudah mengidentifikasi informasi apa saja yang orang banyak cari. Kalau bukan? Read, read, read! Penulis sehebat apapun juga pasti selalu membaca. Bukan hanya membaca dalam pengertian harfiah. Tetapi memahami, menganalisa, dan mengolah. Ada banyak data di dunia ini. Kita yang bisa meramunya menjadi deretan informasi. Memilah, baru kemudian mengolahnya menjadi satu kesatuan informasi berbentuk tulisan. Gampangnya gini, deh. Kalian kalau mau nulis pengennya dikenal karena apa, sih? Misalnya, ingin dikenal sebagai Beauty Blogger. Ya sudah, berarti kalian harus aware terhadap perkembangan trend di dunia kecantikan. Entah skincare atau make-upA little goes along way. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. 

Udahlah, #NulisAjaDulu. Terkadang kita terlalu banyak berpikir dan men-teorikan segala sesuatu. Alhasil, orang lain sudah mulai, kita masih berjuang mengumpulkan nyali. Gue bisa bilang kayak gini, karena gue pernah ada di fase “takut nulis.” Takut di-judge orang. Takut tulisannya jelek dan nggak bermutu. Padahal, dimulai lagi aja belum. Punya referensi dan blogger panutan sah-sah aja. Tapi, yang lebih penting bagi gue adalah authenticityBuat mereka mengenal kalian lewat tulisan kalian. Hadirkan diri kalian ketika menulis. Gue tipe orang yang percaya bahwa dalam tulisan, ada “jiwa” dari penulisnya. Pokoknya jadilah original dan hindari plagiarisme. Last but not least, everyone can write. If I could be a Blogger, so could you!

_________________________

See you on my next blog post!
Cheers,


- Bintang ☆





No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.