Tren Wellness dan Konsumerisme di Jakarta: Healthy or Unhealthy?
Beberapa hari lalu, marak diskursus di platform Threads by Meta yang mempertanyakan tentang tren wellness. Terutama di ibu kota seperti Jakarta. Salah satu user menulis utas, "sejak kapan, sih kita pilates harus pakai outfit branded?" TS mempertanyakan nuansa kelas wellness yang mengisyaratkan bahwa kebiasaan yang menurutnya tak lazim.
Setidaknya di era sebelum pandemi, orang-orang hanya mengutamakan kenyamanan pribadi, selama pakaian yang digunakan tidak mengganggu gerakan olahraga maupun berpotensi mengganggu aspek safety. Misalnya, pakaian untuk pilates. Diupayakan tingkat kelonggaran pakaian tidak sampai membuat kain yang kita pakai tersangkut di reformer dan membuat kita terjatuh. Secara membingungkan, saat ini ada kesan eksklusifitas bahwa pilates lebih lazim dilakukan dengan menggunakan outfit dari branded brands tertentu.
Strava Art & Social Media Blueprint
Namun, nuansa tersebut tidak hanya kental di salah satu cabang olahraga saja. Baik dalam tipe exercise, workout, maupun sports. Contoh lain, di cabang olahraga lari. Beberapa tahun belakangan muncul istilah "Pelari Kalcer". Kata "kalcer" sendiri merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, "culture" yang berarti "budaya".
Dalam publikasi Jurnal Cyber PR (Public Relations Studies) tahun 2025*, disebutkan bahwa istilah Pelari Kalcer merujuk pada individu yang menjadikan lari bukan sekadar sebagai aktivitas olahraga, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle) dan identitas diri (self identity) yang digunakan sebagai validasi digital (digital validation). Lari dianggap sebagai ruang untuk ekspresi diri dan bagian dari kehidupan masyarakat urban di tengah dinamika kehidupan perkotaan dan era sosial media.
Hadirnya aplikasi metrik olahraga, seperti Strava juga kerap memunculkan postingan olahraga yang beririsan dengan gaya hidup. Hingga muncul istilah "Strava Art" yang merujuk pada postingan sosial media yang menampilkan metrik maupun badge Strava. Beberapa individu dalam penelitian jurnal tersebut menyebutkan bahwa Strava Art tidak hanya menunjukkan metrik seperti jarak tempuh, pace, dan sebagainya, tetapi juga sebagai wujud konsitensi dan pencapaian diri. Misalnya, untuk menunjukkan capaian personal best.
Apalagi kini makin marak berbagai event lari mulai dari fun run hingga marathon. Salah satu event yang paling terkenal di Jakarta adalah BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim), yang memuat kategori 5K, 10K, Half Marathon, hingga Full Marathon (42.195km) dengan melintasi ikon-ikon Jakarta dan finish di GBK.
![]() |
| BTN Jakarta International Marathon 2025 Doc: BTN Jakim, 2025. |
Wellness for Brand's CSR
Saat ini mulai banyak lini bisnis di berbagai industri yang menggunakan konsep wellness sebagai bagian dari strategi marketing brand atau CSR (Corporate Social Responsibility). Dengan salah satu tujuannya adalah untuk berkontribusi pada komunitas dan masyarakat luas. Kalau dalam konsep CSR konvensional, kita hanya menganggap aktivitas tersebut terbatas pada aktivitas filantropis terhadap lingkungan, meskipun tujuan keberlanjutan bisnis pun berjalan beriringan.
Namun, dalam aktivitas CSR modern, konsep edukasi juga marak digunakan untuk soft marketing brand. Makanya, tak jarang promosi brand mengusung konsep wellness event yang turut mengundang figur publik dan konsep dresscode. Salah satu contohnya adalah Sociolla yang mengadakan Sociolla Bestie Pink Run dengan jarak lari 5K dan menyediakan goodie bags serta Socobox produk-produk sponsor. Saat event berlangsung di Menara Mandiri Jakarta, beauty brands yang berpartisipasi juga mendirikan booths dengan berbagai aktivitas untuk tujuan promotion and sales.
Baca Juga: My First 5K Run: Sociolla Bestie Pink Run 2025
Lifestyle, Fashion, and Consumerism
Dengan hadirnya social media yang memberikan validasi digital, walau terkadang semu, fashion terkadang menjadi elemen yang tak terpisahkan dari aktivitas itu sendiri. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa tidak semua unggahan aktivitas di social media ditujukan untuk validasi eksternal. Ada juga yang hanya untuk memudahkan progress tracking untuk konsistensi dan pencapaian pribadi. Namun, tidak bisa dipungkiri pula bahwa terkadang, ada beberapa gears maupun pakaian olahraga yang dapat membantu progress dalam mencapai wellness goals kita. Meskipun hal tersebut bukan satu-satunya faktor yang dapat memengaruhi performa kita.
Perilaku konsumsi adalah sebuah keniscayaan yang dilakukan umat manusia. Pertannyaannya, sejauh apa kita bertanggung jawab terhadap perilaku konsumsi tersebut agar tidak terjebak dalam konsumerisme berlebihan? Bukankah hal tersebut akan menjadi kontraproduktif terhadap tujuan kita berolahraga karena tidak hanya membuat kondisi finansial kita sakit, kondisi mental dan fisik kita juga bisa ikut sakit kalau gaya hidup kita tak sesuai dengan kemampuan?
Menurutku, kita seringkali terjebak dalam ilusi bahwa kita akan lebih semangat dan konsisten setelah upgrade fashion dan gears. Pada kenyataannya, tidak selalu begitu. Itulah pentingnya untuk melakukan filterisasi terhadap segala bentuk informasi yang kita tangkap dari media dan punya kesadaran kelas (class consciousness). Sehingga, kita bisa lebih introspeksi dan mawas diri untuk menjalani gaya hidup sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita saat ini. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki barang-barang nice to have atau ikut exclusive events sama sekali, tetapi pahami tujuan utama serta berhitung Cost Benefit Analysis (CBA) secara jujur, sangatlah penting. Jangan sampai, resources yang sudah kita kumpulkan dengan penuh perjuangan setiap harinya, berakhir kita keluarkan untuk hal-hal yang manfaatnya tak seberapa.
___
Please do not repost this article. For business inquiries, email:
contact.bintangmahayana@gmail.com
REFERENCE
Soraya dan Herman. 2025. Self Identity Pelari Kalcer Gen Z melalui Aplikasi Strava. Jurnal Cyber PR, Volume 5, No. 2, Desember 2025, Hal. 105 - 124.




No comments:
Holla! Thanks for reading my post. Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan terkait konten. Komen spam, annonymous, maupun berisi link hidup akan dihapus. Centang "Notify Me" agar kalian tahu kalau komennya sudah dibalas, yaa!