5 Kasus Mengerikan Korban Skincare dan Klinik Kecantikan Berbahaya di Dalam dan Luar Negeri | Bintang Mahayana

Saturday, July 03, 2021
Holla!
Di postingan kali ini gue mau bahas soal beberapa kasus mengerikan yang naas menimpa saudara-saudara kita sesama perempuan akibat penggunaan skincare dan perawatan kecantikan yang ternyata berbahaya bagi kulit dan kesehatan. 


Tujuan dari postingan ini dibuat adalah untuk mengingatkan kita semua agar senantiasa berhati-hati dalam memilih produk maupun jasa perawatan kecantikan. Bahwa untuk mendapatkan kulit yang sehat juga perlu proses yang mungkin bagi sebagian orang tidak sebentar. Semoga tidak ada di antara kita yang sampai harus mengalami kejadian serupa, yaa.

Kalau penasaran bagaimana saja kisahnya, keep on reading!






1. Beauty Blogger Asal Singapura Alami Jerawat Parah Pasca Beauty Clinic Endorsement

Seorang beauty blogger asal Singapura berinisial J, alami kejadian mengerikan setelah dirinya menjalani perawatan di salah satu klinik kecantikan di negaranya. Ia mengaku bahwa sejak dulu kulitnya memang tidak terlalu mulus. Sesekali ada jerawat dan hiperpigmentasi akibat jerawat hormon yang kerap didapatkannya sejak masih remaja. Kian beranjak dewasa dengan profesinya sebagai beauty blogger, ia pun tampak manis dengan kulit yang bersih dan terawat. 


Namun, kondisi kulitnya menjadi sangat parah sejak ia mendapatkan perawatan di sebuah klinik kecantikan. Ia melakukan 1x treatment wajah untuk mengatasi permasalah kulitnya. Memang saat itu kondisi kulitnya terlihat membaik. Namun, tak berapa lama kemudian kulitnya mulai timbul jerawat dan kemerahan. Ia pun kembali mendatangi klinik kecantikan tersebut untuk menanyakan kondisinya. 




Tetapi, terapis di klinik tersebut mengatakan bahwa kulit J merupakan tipe kulit yang sensitif. Terapis tersebut juga mengatakan bahwa kondisi itu sangatlah wajar karena nantinya jerawat tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kemudian, terapis itu juga menyarankan agar J melakukan perawatan tambahan serta menggunakan sebuah krim yang dipercaya mampu mengatasi masalah jerawatnya. 


Alhasil, bukannya membaik kulitnya malah semakin parah karena menimbulkan jerawat nanah di seluruh wajahnya dan membuat kulitnya tampak kemerahan. Ia pun melaporkan hal tersebut ke klinik kecantikan dan menuntut ganti rugi. 


Selanjutnya, J memeriksakan dirinya ke dokter kulit dan membawa krim tersebut. Dokter pertama yang ia kunjungi mengatakan bahwa krim nya kadaluarsa. Tak puas dengan jawaban tersebut, J mendatangi seorang dokter kulit lagi dan mengatakan bahwa ia mengalami alergi akibat krim tersebut. Kemungkinan juga terdapat bahan-bahan berbahaya di dalamnya.


Kendati demikian, J tidak mengungkapkan nama klinik tersebut karena khawatir kasus ini akan berbuntut masalah hukum yang panjang dan berakibat membahayakan dirinya. Namun, pelajaran yang dapat kita ambil dari kasus ini adalah jangan mudah percaya iming-iming produk yang tidak jelas kandungannya. 


My Personal Thought:

Sebagai blogger yang pernah menerima tawaran barter untuk perawatan gratis di sebuah klinik kecantikan, gue menolaknya. Karena gue sendiri merasa sejauh ini skincare OTC yang gue gunakan sudah cukup dan gue juga tidak mengenal klinik tersebut. Gue punya pengalaman buruk bahkan dengan klinik ternama saat berusia 14 tahun, yang menyebabkan ketergantungan hingga harus mengalami masalah jerawat selama 6 tahun lamanya. 


Baca Juga: Lagi Mau Coba Skincare Baru? Ini 5 Hal yang Harus Dihindari Agar Kulit Tetap Aman



Bukan berarti melakukan perawatan ke klinik kecantikan itu salah. Tetapi, alangkah lebih baik jika kita melakukan riset terlebih dahulu tentang teknologi dan cara kerja perawatan di klinik tersebut. Jangan awam banget kayak kejadian gue dulu. Pun, menurut pendapat gue pribadi, sekali perawatan di klinik biasanya harus rutin konsultasi ke dokter terus yang tentu biayanya juga tidak sedikit. Sehingga, perawatan di klinik dengan dokter adalah opsi terakhir yang bisa gue ambil kalau memang problem yang gue alami sudah tidak bisa ditangani dengan produk over the counter lagi.





2.  Alami Gosong Mirip Luka Bakar di Wajah Setelah Menggunakan Rangkaian Krim Pemutih Tidak Ber-BPOM

Seorang Wanita asal Kalimantan alami luka gosong mirip luka bakar di seluruh wajahnya akibat mencoba rangkaian krim pemutih yang berbahaya. Wanita berinisialo R ini aslinya memiliki kulit hitam manis dan bersih. Namun, ia mengaku bahwa teman-temannya kerap kali merekomendasikannya untuk mencoba krim pemutih yang dibelinya di pasar tradisional. Harga untuk 1 paketnya diketahui senilai Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Bisa dikatakan harganya tidak murah, yaa. Meskipun beli sepaket yang tentu ada beberapa produk. 


Source: Tribunnews Banjarmasin


Baru sehari pakai, wajahnya bukan berubah menjadi lebih cerah dan sehat malah gosong seperti terkena sunburned atau gosong matahari. Dikutip dari Tribunnews Banjarmasin, krim yang digunakannya tidak mengantongi sertifikat BPOM dan berdasarkan hasil penelitian, ternyata krim tersebut mengandung merkuri yang berbahaya. 



My Personal Thought:

Bisa dikatakan fenomena perdagangan kosmetik ilegal di Indonesia kini kian memprihatinkan. Sebaiknya hindari mencoba produk-produk perawatan yang tidak terjamin atau sekadar ajakan teman. 


Gue sendiri pernah ditunjukkin akun sosial media skincare serupa di Instagram. Orang yang bersangkutan ini nanya pendapat gue, ya otomatis gue nggak rekomen. Dari packaging dan warna krim nya saja gue sudah nggak percaya. Aneh aja masa warnanya kuning keruh begitu. Terus di packaging-nya informasinya juga nggak lengkap. Tetapi klaimnya bombastis. Pakai merek yang jelas saja, yaa teman-teman. Kalaupun ada yang mengaku sudah ber-BPOM, sebaiknya dicek lagi apakah benar sudah terdaftar di website resmi BPOM atau belum. Apalagi kalau produk maupun brand-nya masih baru.


Baca Juga: Lagi Mau Coba Skincare Baru? Ini 5 Hal yang Harus Dihindari Agar Kulit Tetap Aman






3. Muncul Guratan Mirip Stretch Marks di Sekujur Tubuh Akibat Krim Pemutih yang Mengandung Steroid

Dr. Mita SpKK Ungkap Pasien yang mengalami guratan mirip stretch marks di sepanjang area kaki dari paha hingga betis. Gue nonton di YouTube nya Tasya Farasya waktu mengundang dr. Mita. Di video tersebut, beliau mengatakan bahwa pasiennya itu sedang persiapan ujian menjadi pramugari di salah satu maskapai penerbangan. Ia telah mempersiapkan dari jauh-jauh hari dengan harapan bahwa kulitnya akan putih dan mulus saat seleksi. 


Namun naas, saat mendekati waktu seleksi, sekujur tubuhnya malah dipenuhi guratan-guratan yang sangat jelas terlihat. Mirip stretch marks tetapi lebih dalam dan kehitaman. Pasien ditemani walinya memohon agar dokter dapat mengembalikan kulitnya seperti semula.


Source: Instagram dr. Mita SpKK.


Hati siapa yang tak hancur jika dokter mengatakan bahwa jaringan kulitnya rusak oleh kandungan steroid yang tinggi. Sehingga, kondisi tersebut bisa dikatakan permanen. Kalaupun dilakukan perawatan, tidak akan kembali 100% normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa. 


Hal ini disebabkan oleh rusaknya jaringan kulit yang sebenarnya dalam, tidak hanya di permukaan saja. Bagi teman-teman yang punya stretch marks pasca turun berat badan atau melahirkan, pasti tahu, kan bagaimana susahnya menghilangkan stretch marks? Apalagi guratan yang sudah jelas-jelas melukai jaringan kulit hingga di menembus lapisan epidermis. 



My Personal Thought:

Inilah pentingnya mengenali ingredients yang terkandung dalam skincare. Lebih penting lagi, senantiasa cintai diri sendiri apapun skin tone yang kita miliki. Kita sendiri yang menentukan cantiknya kita. Tidak perlu tergiur mengikuti apa yang orang lain anggap "standar" karena tidak akan ada habisnya.


Baca Juga: Cara Mengenali Produk Kecantikan dari Label Kemasan dalam Upaya Mendukung Sustainable Beauty






4. Seorang Wanita Alami Koma Setelah Menggunakan Krim Bermerkuri

Seorang wanita Meksiko yang tinggal di Amerika Serikat, alami koma setelah dirinya menggunakan sebuah krim bermerkuri. Yang lebih mengerikan lagi, ternyata wanita tersebut telah menggunakan produk krim tersebut secara rutin setiap hari selama 7 tahun lamanya. Tetapi baru, ketahuan gejala dan efek sampingnya di kemudian hari yang bahkan mengancam nyawanya sendiri karena di dalamnya terkandung zat bernama methylmercury. Bahayanya methylmercury ini juga dapat menyebabkan terjadinya hilang ingatan, gangguan kecemasan, depresi, hingga tremor. Ngeri bangetkan?



Source: CNN.com



Berdasarkan keterangan yang dikutip dari CNN, wanita tersebut menggunakan produk krim wajah dari sebuah drugstore brand terkenal yang banyak kita jumpai juga di Indonesia. Namun, di situs tersebut disebutkan bahwa bukan pihak brand sebagai produsen lah yang memasukkan zat methylmercury tersebut. Tetapi, ada pihak ketiga (third party). Krim tersebut juga diketahui diimpor dari Sacramento, Meksiko. 


My Personal Thought:

Pelajaran berharga buat kita semua yang mungkin sering atau pernah belanja imported skincare products, harus lebih berhati-hati lagi. Kadang kita suka keburu FOMO begitu lihat new skincare yang belum available di Indonesia. Pastikan tempat kita membeli harus dapat dipercaya. 


Segel kemasan aman dan tidak ada tanda-tanda bahwa produk pernah dibuka. Barcode maupun QR dapat discan. Kemudian, yang tak kalah penting, pastikan produk tersebut telah teruji secara klinis menurut standar yang berlaku di negara asalnya. Misalnya saja produk Amerika, harus terdaftar dan bersertifikat FDA (Food and Drug Association).






5. Krim Brand High End yang Terkenal Jadi Penyebab Kemerahan Parah karena Mengandung Pengawet Berbahaya

Siapa di sini pecinta high end skincare? Ternyata, harga yang mahal juga tidak menjadi jaminan, loh bahwa brand tersebut akan terbebas dari kasus seperti ini. Dulu, gue mengira bahwa skincare nightmare hanya terjadi pada produk abal-abal yang entah terdaftar secara jelas merek dagang dan izin BPOM nya atau tidak. Gue sendiri pernah pakai brand ini dan sayangnya tidak cocok saudara-saudara. Yaa, ada bagusnya juga, sih. Jadi gue nggak perlu repurchase hehe.


Jadi, kejadiannya adalah seorang wanita pebisnis asal London, UK berusia 52 tahun mencoba sebuah produk high end. Namun, tiba-tiba saja kulitnya memunculkan banyak sekali ruam kemerahan yang menyebabkan kulitnya seperti habis terbakar. Ternyata, di dalam produk tersebut terdapat sebuah zat yang bernama Methylisothiazolinone (MI), yaitu sebuah pengawet yang digunakan brand tersebut di dalam produknya. Dengan tujuan, produknya dapat bertahan lebih lama. 



Anehnya, bahan tersebut sebetulnya pertama kali mendapatkan approval untuk digunakan di UK sejak tahun 2005. Namun, para dokter mengatakan bahwa ini adalah kejadian terburuk dalam kasus skincare yang pernah ditangani sejauh ini. Para ahli hukum menyarankan untuk mem-banned MI. Namun, pihak manufaktur seolah abai dengan hal tersebut. Duh, kok makin ngeri?


My Personal Thought:

Layaknya korban, kita pasti akan merasa terkhianati jika brand kesayangan kita yang selama ini kita gunakan dan kita sukai produk-produknya, harus menyebabkan skincare nightmare seperti ini. Apalagi jika brand tidak memberikan perlindungan bagi pihak konsumen atas kejadian yang menimpanya. 


Harga bukan jaminan bagi segalanya. Selalu usahakan untuk melihat suatu produk secara objektif dan utamakan riset komposisi pembuat produk sebelum membeli. Cantik juga harus pintar. Jadi, pintar-pintarlah kita sebagai konsumen dalam memilih produk yang aman bagi kulit kita.



***
Thank you for dropping by!
See you on my next blogpost :)

Bintang Mahayana ©️ 2021

No comments:

Holla! Thanks for reading my post. Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan terkait konten. Komen spam, annonymous, maupun berisi link hidup akan dihapus. Centang "Notify Me" agar kalian tahu kalau komennya sudah dibalas, yaa!

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.