Basic Skincare Tips untuk Pemula (All Skin Types) | Bintang Mahayana

Holla!

Di postingan kali ini gue mau berbagi tips lagi setelah sekian kali posting kebanyakan review produk aja haha. Akhir-akhir ini lumayan sering dapat DM di Instagram untuk rekomendasiin skincare dengan berbagai jenis kulit. Kebanyakan teman-teman yang memang baru mau coba eksplor skincare over the counter maupun teman-teman yang sudah eksplor tetapi belum menemukan yang tepat.

Semoga bermanfaat, yaa! :)



 

APA ITU BASIC SKINCARE?

Sesuai namanya, Basic Skincare artinya produk-produk esensial yang dibutuhkan oleh kulit kita untuk dapat menjaga kelembaban dan kesehatannya. Tentunya, basic skincare setiap orang berbeda. Tergantung dari kondisi kulit masing-masing, kondisi geografi baik iklim maupun cuaca lingkungan sekitar, dan juga budget tentunya haha. Tetapi, gue infokan yang umum saja, dikenal dengan istilah CTMP - Cleansing, Toning, Moisturizing, and Protecting.

  

C - Cleansing

Proses cleansing yang dimaksud di sini, dikenal juga dengan istilah Double Cleansing yang terdari dari first cleanser (oil-based) dan second cleanser. First cleanser ada banyak jenisnya, mulai dari yang paling ringan secara tekstur hingga paling thick: micellar water - cleansing oil - milk cleanser - cleansing balm.

 

Tujuan: proses double cleansing ini bertujuan untuk mengangkat seluruh minyak, kotoran, debu, bahkan sisa make up di wajah agar tidak terjadi penyumpatan pada pori-pori yang dapat memicu timbulnya jerawat maupun komedo (jenis jerawat yang paling ringan). First cleanser berfungsi untuk mengemulsifikasikan produk-produk berbahan dasar minyak seperti make up maupun sunscreen serta mengangkat sebum berlebih pada wajah. Sebelum dilanjutkan dengan second cleanser.

Baca Juga : [REVIEW] Good Virtues Co - Glowing & Goodness Brightening Facial Cleanser



Jenis: Beberapa jenis Second Cleanser alias sabun cuci muka berdasarkan jenis teksturnya adalah: cleansing gel - facial wash (facial cleanser) - facial foam (cleansing foam) - facial whip foam. Urutan terakhir, yaitu facial whip foam secara tekstur memiliki busa yang paling padat. Sehingga, biasanya memiliki pH yang lebih tinggi di antara yang lain. Sedangkan facial wash dan facial foam biasanya memiliki busa juga. Namun, tidak sepadat facial whip foam. Facial foam atau cleansing foam memiliki busa yang relati leboh banyak dibandingkan facial wash maupun facial cleanser biasa. Sedangkan cleansing gel biasanya berbentuk gel transparan dan lebih sedikit busa atau bahkan tidak berbusa sama sekali.

 

Akan tetapi, kita tidak perlu selalu double cleansing jika tipe kulit kita kering atau sedang tidak menggunakan suncreen maupun make up. Apabila di rumah saja, teman-teman yang kulit yang Combination maupun Oily, ada baiknya double cleansing meskipun tidak ke mana-mana. Tujuannya untuk mengangkat sebum berlebih yang ada di wajah. Namun, perlu diperhatikan bahwa Double Cleansing sebaiknya dilakukan hanya pada malam hari saja. Alasannya, jika kita double cleansing terlalu sering (AM dan PM), dikhawatirkan cleansers malah menyerap semua minyak. Cleansers bisa jadi tidak dapat membedakan mana minyak yang harus diangkat dan minyak yang seharusnya ditinggalkan di kulit kita. Akibatnya, bisa timbul iritasi seperti gatal, kemerahan, dan bahkan jerawat. Gue pernah nih, waktu awal-awal nyobain Cleansing Oil Biore, saking enaknya eh jadi keterusan pakai AM-PM, langsung deh timbul jerawat bentol gara-gara Over-Cleansed.

  


T - Toning

Khusus untuk Toning, aku bagi menjadi 2 level ya agar lebih dipahami. Jadi, Level 1 adalah HIDRASI sedangkan Level 2 adalah EKSFOLIASI. Apa bedanya?

Level 1 - Hidrasi

Hidrasi artinya kita berusaha menambahkan kadar air pada kulit kita, yang mana ini tidak dapat diproduksi secara alami oleh kulit kita. Satu-satunya air yang dapat diproduksi oleh tubuh hanyalah keringat yang bersifat asam. Sehingga, tidak dapat menghidari. Apabila kadar air pada kulit kita menurun, maka cara kulit kita untuk mempertahankan diri adalah dengan memproduksi minyak alami kulit (sebum) lebih banyak guna menjaga kelembabannya. Kondisi inilah yang juga disebut dengan kondisi Dehydrated Skin. Jadi, nggak selamanya kulit yang dehidrasi itu adalah kulit yang kering, bersisik, maupun mengelupas. Kulit yang sangat berminyak juga bisa jadi salah satu tandanya kulit teman-teman itu dehidrasi, lho!

 

Lalu, bagaimana caranya agar kulit kita tidak dehidrasi?

Teman-teman perlu mencari Hydrating Toner yang cocok. Fungsi dari hydrating toner sendiri adalah untuk mengjidrasi kulit kita dengan menarik kadar air dari udara ke dalam kulit kita. Selain itu, hydrating toner juga berfungsi untuk mengembalikan pH kulit kita menjadi normal, yaitu di kisaran pH 5-5,5. Apabila kulit kita pada pH yang terlalu rendah dapat terjadi dehidrasi bahkan iritasi. Namun, apabila pH nya terlalu tinggi, kulit akan menjadi kering bahkan hingga timbul rasa gatal dan perasaan seperti ketarik.

Baca Juga : [REVIEW] ISNTREE Hyaluronic Acid Toner Plus (5 types Hydrochloric Acid) 




Penggunaan hydrating toner yang kaya akan Hyaluronic Acid mampu menghidrasi kulit kita. Sebenarnya, Hyaluronic Acid (HA) ini sudah ada dalam tubuh kita secara alami. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan kulit kita untuk memproduksi HA akan melambat. Akibatnya, kadar HA menurun dan kulit menjadi rentan mengalami Trans-Epidermal Water Loss (TEWL), yaitu gejala kulit kehilangan kelembaban akibat kehilangan kadar air di bagian kulit permukaan. Sehingga, kita butuh HA sintetis untuk kembali “mengingatkan” kulit kita terhadap apa yang mampu mereka lakukan selama ini.

 

 

Level 2 - Eksfoliasi

Eksfoliasi artinya adalah pengikisan sel-sel kulit mati. Terjadinya penumpukkan sel kulit mati pada permukaan kulit inilah faktor penyebab kulit kita jadi terlihat kusam, tidak segar, dan tidak bercahaya. Memang, kulit kita sudah mampu meregenerasi dirinya sendiri setiap 28 hari sekali. Tetapi, dewasa ini apalagi di masa pandemi, kulit kita rentan terhadap stres yang akibatnya lebih lambat dalam meregenari diri. Selain karena faktor usia, kebiasan atau pola hidup yang kurang sehat seperti begadang, konsumsi kafein berlebih, merokok, sering terpapar polusi dan sinar matahari dalam waktu yang lama, bahkan konsumsi makanan yang berminyak, pedas, dan berlemak pun juga dapat memengaruhi tampilan kulit kita.

 

Mengapa eksfoliasi berada pada level 2?

Karena, sebelum eksfoliasi kulit kita harus lebih dahulu terhidrasi. Tanpa hidrasi yang cukup, proses eksfoliasi sintetis atau dengan bantuan skincare topikalbukan tidak mungkin malah menyebabkan terjadinya iritasi seperti kering, gatal, kemerahan, hingga jerawat. Terkadang, di beberapa jenis kulit proses eksfoliasi juga dapat menyebabkan terjadinya Purging, yaitu proses timbulnya jerawat pada area di mana biasanya timbul jerawat (pada masa siklus) untuk mengeluarkan bakteri-bakteri jerawat yang terperangkap di bawah lapisan kulit dan terjadi hanya dalam waktu yang relatif singkat. Waktunya bisa berbeda-beda di kulit setiap orang. Jika banyak jerawat terpendam, kemungkinan prosesnya akan lebih lama.

  

Bagaimana caranya eksfoliasi?

Secara garis besar, eksfoliasi dibagi menjadi 2, yaitu: Chemical Exfoliation dan Physical Exfoliation

Chemical Exfoliation

Proses eksfoliasi dengan menggunakan eksfoliating ingredient yang meresap ke dalam lapisan kulit yang lebih dalam dan mempercepat laju regenerasi sel kulit mati agar segera digantikan dengan sel kulit yang baru. Contoh dari exfoliating ingredient adalah AHA (glycolic acid; lactic acid), BHA (salicylic acid), PHA, retinol, bakuchiol, dan lain sebagainya. Untuk kulit yang cenderung kering, lebih disarankan menggunakan AHA, sedangkan untuik kulit kombinasi cenderung berminyak serta acne-prone lebih disarankan menggunakan BHA.

Baca Juga : [REVIEW] AVOSKIN Miraculous Refining Toner | Beneran Hempaskan Komedo dan Pori-pori Besar?



Where to Buyclick here

Bagi pemilik kulit super sensitif, lebih disarankan menggunakan PHA karena molekulnya paling besar dibanding BHA dan AHA. Gue sendiri normal skin dan kadang kering, serta acne-prone. Jadi, efektif menggunakan kombinasi dari ketiga jenis exfoliant tersebut. Hanya saja, kalai kulit sedang sensitized, biasanya gue akan pakai AHA saja karena lebih melembabkan. Semakin kecil ukuran molekul suatu zat, maka kemampuannya untuk penetrasi ke bagian kulit yang lebih dalam akan semakin besar. Urutan ukuran molekul dari paling kecil hingga paling besar:

AHA > BHA > PHA

Sel kulit mati ini nantinya akan dibawa ke permukaan kulit, sedangkan sel kulit baru berada di bawahnya. Sehingga, diperlukan physical exfoliation untuk membantu menyingkirkan sel kulit mati yang menumpuk di permukaan.


Physical Exfoliation

Sebenarnya, physical exfoliation sendiri tidak terbatas dengan penggunaan ingredient tertentu seperti pada chemical exfoliation. Namun, lebih dititikberatkan pada metode eksfoliasinya. Apapun yang membutuhkan gerakan fisik pada permukaan kulit, termasuk ke dalam katagori physical exfoliation. Contohnya: gerakan memijat dengan tangan pada saat memebersihkan wajah, penggunaan cleansing tools, penggunaan masker (mud mask, clay mask, organic mask), penggunaan face scrub, dan lain sebagainya.

 

 

Eksfoliasi mana yang sebaiknya dipakai?

Disesuaikan dengan jenis kulit kalian masing-masing, yaa. Memang sebaiknya digilir. Karena, masing-masing jenis eksfoliasi menarget lapisan kulit yang berbeda. Sehingga, akan lebih maksimal hasilnya apabila dikombinasikan keduanya di waktu yang berbeda. Namun, untuk pemilik kulit sensitif, sebaiknya gunakan metode physical exfoliation yang paling ringan saja, yaitu dengan pijatan tangan saat mencuci wajah dengan facial wash.  

 

 

 

M - Moisturizing

Moisturizing alias melembabkan ada 2 jenis, yaitu emollient dan occlusive. Moisturizing step ini bisa dilakukan dengan menggunakan serum maupun moisturizer (pelembab). Namun, penggunaan serum sejujurnya tidak termasuk ke dalam basic skincare wajib. Gue biasa pakai serum memang untuk menarget masalah kulit tertentu. Biasanya disesuaikan dengan jenis actives ingredients yang tergantung di dalamnya. Tetapi, bukan berarti kalau ingin menggunakan basic skincare saja kalian nggak boleh pakai serum yaa.

 

Saat ini, gue pun memasukkan serum ke dalam slot basic skincare routine gue, yaitu serum Hyaluronic Acid. Kandungan HA cukup mild di kulit dan fungsinya selain sebagai humectant (menarik kadar air dari udara) juga dapat berfungsi sebagai emolient (melembabkan dengan cara meresap ke bagian kulit yang lebih dalam) karena bentuknya adalah serum. Jenis emollient lain bisa dengan menggunakan pelembab yang bertekstur gel maupun lotion. Sedangkan untuk occlusive bisa menggunakan pelembab yang bertekstur cream, sleeping mask, maupun face oil.

Baca Juga : [REVIEW] NATUR Miracle Face Oil Serum Revive Skin Rosehip Oil & Sesame Oil



By the way, gue sering banget dapat pertanyaan, “Kak, kalau sudah pakai moisturizer, boleh pakai night cream lagi nggak?” atau “Kak, kalau sudah pakai night cream boleh pakai sleeping mask nggak?”.

 

Pertanyaan pertama, soal moisturizer vs night cream, sebenarnya apa, sih beda dari keduanya? Intinya sama-sama pelembab, kok teman-teman. Tetapi, penamaan night cream biasanya ditujukkan untuk moisturizer dengan bahan aktif tertentu seperti misalnya: niacinamide, AHA, BHA, mapun retinol. Biasanya lebih ditujukkan untuk fungsi tertentu selain basic moisturizer, seperti: anti-aging. Sedangkan moisturizer lebih ke pelembab biasa yang tidak mengandung bahan aktif dan lebih untuk melembabkan dan memperbaiki skin barrier saja. Misal, pelembab dengan kandungan aloe vera, centella asiatica, ceramide, dan lain sebagainya. Jadi perlukah memakai keduanya? Sekali lagi, perhatikan kebutuhan kulit teman-teman. Jika memang ada kandungan tertentu dari night cream yang ingin teman-teman dapatkan, ya silakan dipakai. Yang lebih penting lagi adalah jika kombinasi kedua produk tersebut tidak membuat kulit teman-teman menjadi gerah, terlalu lengket, maupun terlalu berminyak.

 

Pertanyaan kedua, kombinasi night cream dengan sleeping mask. Biasanya keduanya memiliki bahan aktif. Paling sering terdapat dalam sleeping mask adalah lactic acid, yaitu salah satu jenis AHA. Lalu, bolehkan me-layer bahan akti dalam waktu bersamaan? Jawabanya, boleh dengan catatan bahwa kombinasi keduanya memang bisa ditoleransi oleh kulit teman-teman. Gue pernah ada pengalaman pakai produk retinol dan lactic acid dari sleeping mask malah muncul jerawat. Ternyata kombinasi keduanya tidak dapat ditoleransi di kulit gue. Tetapi, bukan berarti di kulit orang lain hasilnya sama, yaa. Sekali lagi, tergantung toleransi kulit teman-teman masing-masing.

 

 

 

P - Protecting

Sesuai dengan judulnya, protecting berarti melindungi. Terdapat 2 jenis proteksi, yaitu pada siang hari dan malam hari. Namun, proteksi pada malam hari bagi gue lebih hybrid dengan step moisturizing dalam konteks basic skincare.

 

Proteksi pada siang hari - Sunscreen

Pada siang hari, kulit kita terpapar oleh sinar UV, baik UVA dan UVB. Apabila kondisi ini terjadi dalam jangka waktu di atas 10 menit tanpa perlindungan, maka hal paling ringan yang mungkin terjadi pada kulit wajah adalah sunburned atau terbakar. Entah menjadi kemerahan (bagi pemilik kulit sensitif maupun very fair skin tone) atau menjadi gelap dan kusam. Menurut pernyataan dari Food and Drug Association (FDA) di Amerika Serikat, nilai SPF minimum yang dibutuhkan kulit agar terlindungi dari sinar UVA/UVB di outdoor area adalah 50. Itupun dengan jumlah yang cukup. Biasanya dikenal dengan istilah takaran dua ruas jari. Tetapi, gue sendiri selalu pakai lebih dari itu. Kira-kira sebesar diameter koin Rp1.000,00 untuk mengcover seluruh wajah (termasuk area mata dan bibir) dan sedikit area leher. Sehingga, biasanya gue pasti akan menambah pump untuk area leher. Meskipun gue berhijab, sinar UVA sendiri dipercaya bisa menembus tembok. Nah, apalagi cuma hijab, ya kan?

 

Proteksi pada malam hari - Occlusive

Tujuan dari proteksi ini sendiri sebenarnya adalah untuk mengunci seluruh kelembaban skincare products yang sudah kita gunakan sebelumnya. Saat kita tidur, sebagian skincare kita akan menguap dan bukan tidak mungkin saat bangun tidur kulit kita menjadi kering. Terutama, jika kita tidur di ruangan ber-AC maupun jika kulit kita tipenya adalah yang super dry atau sangat kering. Nah, untuk itulah diperlukan sesuatu yang occlusive. Produk occlusive ini mampu membuat lapisan di permukaan kulit untuk mencegah terjadinya Trans-Epidermal Water Loss (TEWL). Bagi gue pribadi, karena kulit gue normal, tekstur cream moisturizer sudah cukup occlusive. Hanya di hari-hari tertentu gue menambahkan sleeping mask maupun face oil. Teman-teman juga bisa menggunakan sheet mask sebagai proteksi tambahan jika dirasa lebih nyaman.

 

 

 

RECOMMENDATION FOR EACH SKIN TYPES

Bagi teman-teman yang masih bingung dalam menentukan jenis kulitnya, cobalah perhatikan saat bangun tidur di pagi hari. Sebelum mencuci kulit wajah, perhatikan mana dari deskripsi kondisi di bawah ini yang paling menggambarkan kondisi kulit teman-teman.


DRY SKIN TYPE

Tipe kulit kering biasanya ditandai dengan permukaan kulit agak kasar. Bahkan di kulit super kering bisa bersisik hingga mengelupas. Kulit kering memiliki kadar air dan kadar minyak yang rendah. Sehingga, biasanya pori-pori akan cenderung lebih terlihat besar. Apabila sangat kering, bukan tidak mungkin juga muncul garis-garis halus. Terutama di area-area lipatan dan area dengan kulit yang lebih tipis, seperti area mata.

 

C  : cleansing balm, cleansing oil, cleansing milk, facial cleanser, facial foam, facial whip*

*Tergantung toleransi kulit. Gue sendiri saat kulit masih normal to dry pakai Senka Perfect Whip nggak bikin kering sama sekali. Karena, claim produknya sendiri memang untuk normal to dry skin.

Rekomendasi produk: Haple Pure Shea Butter, Biore Make Up Remover Perfect Oil, Good Virtues Co. Brightening Facial Cleanser Glowing & Goodness, Senka Perfect Whip, Nature Republic Cleansing Foam.

Baca Juga : [REVIEW] HAPLE 100% Pure Rose Water & 100% Pure Shea Butter


T : gunakan hydrating toner yang bertekstur gel kental atau milky toner.

Rekomendasi produk: Laneige Cream Skin Refiner (milky toner), ISNTREE Hyaluronic Plus Toner, SNP Prep Peptaronic Toner.

 

M : gunakan moisturizer yang bertekstur cream/ lotion.

Rekomendasi produk: Nivea Cream Tin, Jumiso Centella & Snail Cream, SUKIN Signature Facial Moisturizer.

 

P : gunakan sunscreen yang bertekstur milky.

Rekomendasi produk: Skin Aqua UV Moisture Milk SPF 50 PA+++, Skin 1004 Air Fit Suncream SPF 50 + PA++++, Nivea Sun Serum Instant Aura SPF 50 (Pink).

 

 

COMBINATION SKIN 

Pemilik kulit kombinasi biasanya memiliki kulit berminyak di area T-Zone. Jika kadar minyaknya lebih sedikit, biasanya akan cenderung Normal Skin. Jadi, normal skin itu masih ada minyaknya, tetapi tidak sebanyak kulit kombinasi dan berminyak. Area kulit lainnya biasanya bisa normal maupun kering.

 

C : micellar water, cleansing balm*, cleansing oil, gel cleanser, facial cleanser, facial foam, facial whip.

*pilih yang teksturnya paling ringan serta menggunakan bahan dasar yang non-comedogenic. Tidak disarankan menggunakan cleansing balm berbahan dasar Shea Butter karena biasanya agak thick di kulit.

Rekomendasi produk : SAFI White Expert Purifying Make Up Remover, SAFI White Expert 2 in 1 Cleanser and Toner, NIVEA Micelair Xpert, Biore Make Up Remover Perfect Oil, Senka Perfect Whip, Himalaya Neem Face Wash.

Baca Juga : [REVIEW] SAFI White Expert 2 in 1 Cleanser and Toner




T : gunakan hydrating toner bertekstur gel* maupun watery.

*disesuaikan dengan preferensi masing-masing

Rekomendasi produk : ISNTREE Green Tea Toner (watery), ISNTREE HA Toner (watery)/ HA Plus Toner (gel), Innisfree Jeju Pore Volcanic Toner (watery), Laneige Essential Power Skin Refiner Light (watery), SNP Prep Peptaronic Toner.


M : gunakan yang bertekstur gel/ lotion*

*disesuaikan dengan preferensi masing-masing

Rekomendasi produk : Innisfree Soothing Revital Aloe Gel, Illiyoon Ato Ceramide Gel, SUKIN Signature Facial Moisturizer.


P : gunakan yang bertekstur gel atau memiliki claim oil control maupun mattifying.

Rekomendasi produk : L'Oreal Matte and Fresh SPF50, NIVEA Sun Serum SPF50 (tutup hijau), Skin Aqua UV Moisture Gel SPF 30, Skin1004 Air Fit Suncream SPF50*

*tekstur milky tetapi hasil akhir cenderung matte.

Note : Beberapa jenis kulit ada yang tidak mampu menoleransi SPF yang terlalu tinggi. Apabila SPF 50 membuat kusam karena berminyak, maka bisa diturunkan ke SPF di bawahnya yaitu SPF 30 maupun SPF 25. 



OILY SKIN

Kulit oily tentu saja sesuai namanya, berminyak ditandai dengan adanya minyak di nyaris seluruh bagian wajah. Sejujurnya, rekomendasi oily skin hampir tidak jauh berbeda dengan combination skin. Tetapi gue coba beri rekomendasi yang paling ringan secara tekstur. Sehingga tidak suffocating ketika dipakai. Terutama untuk teman-teman dengan tipe kulit yang super oily.

C micellar water, cleansing oil*, gel cleanser, facial cleanser

*pilih yang teksturnya ringan dan bisa berubah menjadi milky atau foam setelah terkena air.

Rekomendasi produk : SAFI White Expert Purifying Make Up Remover, SAFI White Expert 2 in 1 Cleanser and Toner, NIVEA Micelair Xpert, Biore Make Up Remover Perfect Oil, Senka Perfect Whip, Himalaya Neem Face Wash, Cosrx Salicylic Acid.


T : gunakan hydrating toner bertekstur gel* maupun watery.

*disesuaikan dengan preferensi masing-masing

Rekomendasi produk : ISNTREE Green Tea Toner (watery), ISNTREE HA Toner (watery), Innisfree Jeju Pore Volcanic Toner (watery), Laneige Essential Power Skin Refiner Light (watery), SNP Prep Peptaronic Toner (gel), NACIFIC Phyto Niacin Whitening Toner (watery).


: gunakan yang bertekstur gel.

Rekomendasi produk : Innisfree Soothing Revital Aloe Gel, Illiyoon Ato Ceramide Gel.


: gunakan yang bertekstur gel atau memiliki claim oil control maupun mattifying.

Rekomendasi produk : L'Oreal Matte and Fresh SPF50, NIVEA Sun Serum SPF50 (tutup hijau), Skin Aqua UV Moisture Gel SPF 30, Skin1004 Air Fit Suncream SPF50*

*tidak disarankan untuk kulit yang super oily.

Note : Beberapa jenis kulit ada yang tidak mampu menoleransi SPF yang terlalu tinggi. Apabila SPF 50 membuat kusam karena berminyak, maka bisa diturunkan ke SPF di bawahnya yaitu SPF 30 maupun SPF 25.



Jika memiliki salah satu dari 3 tipe kulit di atas namun juga sensitif dan berjerawat, lalu bagaimana?

SENSITIVE & ACNE-PRONE SKIN TYPE

Sensitivitas kulit tiap orang berbeda-beda. Namun, pada umunya kulit sensitif sering ditandai dengan kemerahan jika berada di bawah paparan sinar matahari terlalu lama, terjadi physical rubbing saat scrubbing atau mencuci wajah, mudah terasa gatal bahkan perih. Sedangkan acne-prone sendiri artinya rawan berjerawat. Kondisi kulit yang sensitif tadi, kebanyakan juga diikuti dengan kondisi acne-prone.


Lalu, ingredients apa saja yang perlu dihindari?

Biasanya, kulit sensitif apalagi yang super sensitif akan cukup reaktif terhadap alcohol. Terutama jenis bad alcohol, seperti: alcohol (simply alcohol = ethanol), methanol, alcohol denat.

Namun, pada beberapa jenis kulit bahkan ada yang tetap tidak bisa menoleransi jenis good alcohol seperti: cetearyl alcohol dan stearyl alcohol. Sehingga, akan cenderung lebih aman jika menghindari alcohol sama sekali.

Selain alcohol, kandungan fragrance kerap kali memiliki potensi irritative. Sehingga ada baiknya dihindari. Baik pure fragrance atau parfum, maupun essential oil based fragrance. Hindari pula penggunaan direct essential oil dengan kadar yang cukup tinggi. 


Ingredients apa saja yang sebaiknya digunakan?

Kulit sensitif dan acne-prone biasanya menyenangi ingredients yang mampu memberikan soothing sensation seperti: Aloe Vera, Centella Asiatica, Rose, Artemisia/ Mugwort. Gunakan pula ingredients yang sifatnya antioksidan yang menenangkan dan melembabkan seperti: panthenol, allantoin, green tea/ camellia sinensis leaf.



Thank you all for dropping by! Hope it helps :)

No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.