Sebongkah Cerita Arsitektur Masa Kecil hingga Tugas Akhir

Aloha!
Postingan ini penting gak penting bisa dibilang. Gue cuma pengen curhat tentang kestressan gue akhir-akhir ini menghadapi Tugas Akhir. Apapun yang terjadi di sekitar gue selalu mengingatkan gue kembali ke Tugas Akhir (TA) yang gak berakhir-akhir ini. 

Jadi, TA gue ini sejujurnya udah gue kerjain dari semester 7 lalu. Di jurusan gue, penelitian dan desain dibagi 2 matkul berbeda. Penelitian which is Proposal TA (4 sks) dari mulai pemilihan judul, rebutan dosbing yang sesuai dengan bidang dan topik TA, sampai research and 3 kali preview (sidang) udah gue lewatin. Hasilnya biasa aja. Gak wow. Karena gue banyak tersandung masalah pribadi yang bisa dibilang cukup menyita perhatian dan menguras tenang dan pikiran. Haha anyway, semenjak semester 8 ini gue bangkit. TA gue 8 sks mo mampus lah sekolah gue 4 tahun ditentuin sama si TA ini. Kalo gue ga maju sidang akhir goodbye! Tapi, gue gak mau apapun yang terjadi dalam kehidupan gue menghalangi tujuan gue hidup dan cita-cita gue. TA? Tabrak Ae!

Kenapa gue buat postingan ini, supaya hype nya gue sama TA gak menurun. Itu aja sih. Sama biar blog gue punya Dropdown Menu "Architecture" hahaha. Sebelum gue cerita TA gue tentang apa, gue mau cerita tentang awalnya kenapa gue bisa terjebak di kubangan ini. Sejak kelas 4 SD gue emang udah bercita-cita jadi arsitek. Ortu gue gada yang background arsitek. Bokap orang Teknik Geologi salah satu PTN di Bandung. Nyokap orang Akuntansi univ di Malang. Beneran nggak ada background desain. Tapiiii, kecintaan nyokap gue akan bisnis yang akhirnya merembet ke desain interior, dunia arsitektur jadi dekat dengan gue sejak saat itu. Dulu, akhirnya setelah lahir adik gue yang pertama, kita sekeluarga punya rumah sendiri di Bogor. Nggak repot ngontrak dan kudu pindah-pindah lagi. Nah, desain rumah itu nyokap gue yang bikin. Bermodal seluruh majalah yang menurut gue sejarah banget sih. IDEA kalau kalian tau. Itu majalah desain pertama yang gue, seorang anak kelas 4 SD saat itu, baca. Gue perhatiin pertama kali itu denah rumah. Gue nanya sama bokap. 
"Pa, gambar kayak gini gimana?"
"Pakai komputer itu. Kerjaannya arsitek"
"Arsitek?"
"Iya, yang desain rumah, bangunan, bisa taman juga."
"Mbak mau jadi arsitek"

Niat gue sesederhana: kalau gue jadi arsitek gue mau bangun rumah yang lebih bagus. Soalnya, waktu itu rumah gue baru berdiri sebulan tapi bocor. Gypsum nya rusak semua. Gue gatau salah nya di mana. Dengan curah hujan Bogor yang setinggi itu, sekarang gue gak heran sih. Tapi, pasti ada yang gak beres di konstruksi atapnya entah apa. Gue waktu itu masih awam. Tapi gue benar-benar ikutan mantau rumah itu mulai dari masang patok, fondasi, bekisting, masang bata, masang kusen, plester, masang lantai. Pokoknya bener-bener sampai akhirnya, gue bertiga sama bokap nyokap itu ngecat tembok bareng. Kebayang kan, sayangnya gue sama rumah itu gimana? Makanya gue marah waktu akhirnya bokap terpaksa dipindah tugas ke Palembang. Gue ga mau keluar dari Bogor gimanapun caranya. Gue udah betah di sana. Belum tentu rumah di Palembang lebih nyaman. Belum tentu teman-teman di sana juga bikin gue betah. Gue belum pernah ke Sumatera sebelumnya. Di bayangan gue dulu, Sumatera jelek hahahah. Gue bahkan di usia 13 tahun waktu itu udah nge set, gue harus kuliah, kerja, dan tinggal di kawasan Jabodetabek. Dulu, bokap gue udah sering ngajak gue diskusi banyak hal. Termasuk investasi saham, properti, dan segala macem. Tapi, mau gimana. Dengan berat hati gue pindah. Sekarang, rumah itu pun akhirnya kita jual karena nggak ada yang rawat. Jujur gue nangis begitu tau rumah itu di jual tahun 2017 lalu.

Later, setelah 4 tahun gue kuliah di Arsitektur, gue sadar. Kenapa gue nangis itu bukan karena rumahnya. Rumah di Palembang sekarang jauh lebih luas, bagus, dan nyaman. Tapi, histori rumah di Bogor itu yang nggak kebeli.

Kalau dulu rumah itu nggak terbangun, gue mungkin nggak akan bercita-cita jadi arsitek.
Kalau dulu rumah itu nggak terbangun, gue mungkin nggak akan punya cerita seru baju gue ketumpahan cat terus ketawa-ketawa sama bokap nyokap gue.
Kalau dulu rumah itu nggak terbangun, gue mungkin nggak akan pernah ngerasain senengnya punya rumah baru yang kita bangun sendiri, bukan dibangun sama developer

Intinya, Arsitektur itu lekat banget dengan Memory. Makanya sampe ada teori Architectural Memory (Memori Arsitektur) dan Meaning in Architecture (Makna Arsitektur). Banyak sih, tapi dua teori itu yang mengingatkan gue sama rumah masa kecil gue di Bogor dulu. Samar-samar, gue masih inget gimana gue masuk ke rumah, liat nyokap bikin kue, liat adek gue nonton TV, sampai akhirnya malem, gue sama adek lari ke garasi liat bokap gue parkir baru pulang kerja dari Jakarta. Tiap jengkal rumah itu punya memori. Tiap anak tangga yang gue suka pake maen sama adek gue, Tangga yang dipake adek gue belajar merangkak, yang bikin adek gue sampe di kamar mandi lt 2 dan mainan air di bak (padahal dia belom bisa jalan). Kusen-kusen jendela panjang di taman samping tempat nyokap gue naro tanaman, yang kalo pas hujan badai dan lupa ga ditutup, ruang TV gue langsung banjir. Setiap letak ruangannya bikin sequence cerita rumah itu sendiri. Dari situ gue sadar, tangga itu bukan cuma sarana transportasi vertikal aja. Dia, punya makna tergantung siapa yang make, istilahnya user. Buat adek gue yang waktu itu masih 11 bulan, tangga ya jadi tempat main, latihan merangkak. Kalau buat gue, tangga bisa jadi sarana gue menghindari tugas gue disobek adek. Karena tinggal gue ngerjain di tangga, tutup pagernya, dia gabisa naik. 

Skip ke tahun-tahun pertama gue kuliah arsi, gue kaget. Awalnya kayak gak sesuai ekspektasi gitu. Desainnya yang utama cuma di satu matkul Dasar Desain Arsitektur (DDA) which is 8 sks! Lainnya adalah teori-teori yang waktu itu membosankan buat gue. Dalem hati, "desain tinggal gambar aja mikirnya ribet amat sih." Maklum, gue ENTJ. Nggak terbiasa bermain-main dengan logika dan eksperimen gitu. There's logic, there's judgement, there's decision. DONE!

Tapi kayaknya, semenjak gue kuliah arsi lama-kelamaan tugas gue bikin gue mau gamau mikirin banyak alternatif (experimental). Dulu, jujur, alternatif desain gue cenderung mengada-ada. Diadain biar sama dosen dianggep gue dah mikir banyak. Padahal jelas, tiap gue baca brief tugas, otak gue langsung "Oh oke gue buat gini aja." Case closed. Tapi, sayangnya bagi pemikiran dosen gue, arsitektur dan desain itu harusnya merupakan serangkaian proses trial and error. Lah, gue si maba sotoy kan jadinya keceplosan:
Memangnya apa yang salah dengan desain saya, Pak? Kalau ini memungkinkan, kenapa saya harus cari-cari alternatif yang lain.
Tapi, dosen gue yang gue curigai ENTP, membuat gue skak mat dengan bilang:
"Desain itu nggak ada yang salah. Terserah kamu mau buat apa. Wong arsitek nya kamu. Bukan saya. Terserah wes pokoknya, seng penting apik ya."
"Yang bagus itu gimana, Pak?"
"Nah, itu, bagaimana kamu bisa tahu desain ini bagus tidak kalau nggak ada pembandingnya? Apapun keputusan desain yang kamu ambil, punya konsekuensi nya sendiri. Ambil yang banyak positifnya.Wes gak usah kebanyakan asistensi. Pusing kamu nanti ndak jadi-jadi."

Okay, semenjak saat itu kadar judgement gue bergeser di angka 60%. Sehingga kadar perceiving gue naik di angka 40%. Terelebih lagi, sekarang gue semakin percaya dengan teori "MBTI bisa berubah sesuai lingkungan." In my case, dosen paling ampuh mengubah mbti gue. Depan dosen kadang kalo gue udah pusing karena sebelum asistensi gue begadang, gue malah jadi INTJ.
Hanya sanggup bilang :
"Baik Pak, nanti saya revisi."
Peduli dalam hati gue men defense desain gue mati-matian. Tapi again gue kena tegur.
"Kamu jangan banyak berubah dong. Saya jadi pusing"
"Habis gimana, Pak. Jujur setiap habis asist saya jadi mikirin saran bapak. Setelah saya tes, iya juga ya. Nanti saya tes lagi, muncul ide baru lagi."
"Ya, tapi kamu harus stop. Kalau nggak nanti TA mu gak selesai Bintang. Waktu nya gak cukup."
DOORRR!!! Saran gue buat MABA ARSITEKTUR:
Dek, selama masih maba, manfaatin experimental sebanyak yang kamu mau. Jangan males buat maket yang banyak. Kalahin maket nya Frank Gehry. Buat banyak alternatif. Kalahin denahnya Peter Eisenman. Karena, nanti saatnya kalian masuk di ranah TA, eksperimental hanya boleh 30% an. Sisanya, design judgement, drafting, detailing. SIDANG.
 ***

"Selesai Tidak Selesai, Kumpulkan!" 

Okay, sekarang saat nya gue cerita TA gue. Mungkin nggak banyak sih. Karena di bawah gue sertain beberapa gambarnya. TA gue ini jenisnya Problem Solving (pemecahan masalah). Judulnya:

Kampung Wisata Nelayan Akuarium : Revitalisasi Kawasan Ex-Penggusuran
 di Penjaringan, Kota Jakarta Utara

Di bawah ini gue buat peta konsep kawasannya (mayan bo nge trace di AutoCAD nya 3 hari). Karena, fokus gue bukan hanya di bangunan. Tetapi di lansekap. Jadi, gue juga mendesain sebagian kawasannya. Tujuannya, supaya jadi satu kesatuan kawasan sesuai dengan Program Pemprov DKI Jakarta saat ini yang ingin merevitalisasi (menghidupkan kembali) baik secara fisik maupun ekonomi Kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa. "Kampung Akuarium" sebagai salah satu lahan korban penggusuran kebijakan Pemprov masa jabatan sebelumnya, ingin dijadikan pemukiman lagi. Bedanya, yang tadinya landed house, sekarang mau dijadikan Rumah Susun oleh Pemprov DKI Jakarta. Nah, yang membedakan dari program pemerintah dan TA gue adalah: gue bikin konsep Kampung Wisata Nelayan. Kampung Wisata artinya, umum boleh masuk di zona yang diperbolehkan. Kenapa Nelayan? Sesuai isu yang gue pilih: IDENTITAS. Sehingga, gue bertujuan menciptakan Identitas bagi warga Kampung Akuarium yang notabene nya berprofesi sebagai Nelayan. 


Sekarang masuk ke lahan nya. Gue jujur aja jadi belajar macem-macem. Ngapain anak arsi belajar "Dasar-Dasar Pengolahan Ikan"? Ya memang salah sendiri gue sok iya, bikin TA tentang Kampung Wisata Nelayan. Ya, jadinya kan ini Bukan Rusun Biasa. Karena, dengan gue tau dasar-dasar pengolahan ikan, gue jadi tau apa aja kebutuhan nelayan untuk profesi dan tempat tinggalnya. Gue jadi tau permasalahan yang dihadapi nelayan: misal hygiene. Masalah kebersihan dan polusi bau udah masalah umum banget di Kampung para Nelayan. Sehingga, harus gue cari solusi permasalahannya secara arsitektur baik lewat desain bangunan maupun penataan lansekap.




Don't judge! Gambar layout gue gak banget I know. Mostly I did it on Photoshop CS5 (dahell). Menyita waktu, tapi ini gambar penyelamat gue di depan penguji. Kalau gak ada layout, nasib preview gue bisa-bisa wabillahi taufik wal hidayah!


Di atas, gue memutuskan untuk buat 2 tipikal unit. A - Unit Rusun Khusus Nelayan dan B- Unit Rusun Campuran. Sesuai dengan profesi yang menempati. Karena, nggak semua warga Kampung Akuarium itu berprofesi sebagai nelayan. 

TIPIKAL A - Unit Rusun Khusus Nelayan


 (ps: Sadar apa yang aneh sama gambar di atas? Ya, tangga. 
Terbuka tanpa atap pelindung dan railing. Alasan: capek wk)


 TIPIKAL B - Unit Rusun Campuran




 (ps: Sejujurnya ada kesalahan fatal yang dosen gue gada yang ngeh saking ter-distract 
sama rusun nelayan. Kalau diperhatiin, di akso gue, reng galvalumnya menghilang. 
Baru sadar setelah di print dan gue terlalu capek buat ngulang lagi. Sekian.)




No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.