Margaret Thatcher - an ENTJ Leader I Look Up To

Holla readers! 
Tiba-tiba aja gue kepikiran bikin postingan tentang Ny. Thatcher. Asli gue nge fans banget sama mantan Perdana Menteri Inggris satu ini. Apalagi beliau memiliki MBTI type yang sama kayak gue. (Mungkin next gue mau bahas tentang MBTI kali ya di postingan gue hehe). So, kenapa sih gue begitu terinspirasi sama leader yang satu ini? Keep reading :)

Margaret Thatcher (Perdana Menteri Inggris 1979-1990)
Source: portalhr.com
Margaret Thatcher merupakan PM Inggris yang menjabat sejak tahun 1979-1990. Beliau sendiri dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan berani dalam mengambil keputusan. Beliau nggak gampang terpengaruh oleh tekanan dari massa maupun pembantu-pembantunya. Bahkan, presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagan aja nggak sanggup untuk mempengaruhi beliau dalam mengubah keputusannya atas kasus Kep. Falklands yang waktu itu diduduki oleh Argentina. Padahal Kemenlu Inggris udah nyaranin beliau buat berkompromi. Presiden Reagan juga nyaranin beliau "udahlah rundingan aja, Nya sama Argentina". Atuda, namanya juga ENTJ yah. Rada-rada susah diatur gimana gitu. Kalau udah punya keputusan, yang diyakini benar. Udah. Ketok palu. Keputusan yang berani banget, sih, menurut gue. Padahal waktu itu usia kepemimpinannya baru berumur 3 tahun. Secara prestasi belom diakui banget, sih. Karena, masih tingginya angka pengangguran di Inggris waktu itu. 

Sekilas, beliau seolah seperti pemimpin yang diktator gitu ya? Saklek abis. Padahal, beliau itu jelas nggak sebodoh itu gaes. An ENTJ knows exactly what's wrong and inefficient in system level. Kenapa? Jadi gini, silahkan simak cerita berikut ya. Ini gue kutip dari artikel kompas International dengan beberapa perubahan supaya nggak terlalu panjang:

Keputusan Thatcher untuk merebut Falklands jauh lebih berani dibanding dengan kebijakan Perdana Menteri Tony Blair untuk mengekor Amerika Serikat dengan menyerbu Irak pada tahun 2003. Dalam Perang Irak, Amerika dan Inggris mustahil kalah secara militer sedangkan dalam Perang Falklands kekalahan bagi Inggris merupakan sebuah kemungkinan yang nyata. Dalam politik domestik, Thatcher juga pemimpin yang bernyali besar sekaligus cermat secara taktis. Pada dasawarsa 1970an hingga pertengahan 1980an ketika negara masih berperan besar dalam hampir semua sektor ekonomi, pemerintah Inggris hampir selalu bertekuk lutut menghadapi tuntutan serikat buruh. Namun pada tahun 1984, Nyonya Thatcher memutuskan untuk menghadapi serikat pekerja batubara yang dipimpin Arthur Scargill, seorang aktivis buruh Marxis radikal. Scargill menentang keputusan pemerintah untuk menutup tambang-tambang batubara yang sudah tidak ekonomis dan mengira Thatcher akan menyerah begitu listrik padam akibat pasokan batubara yang terputus. Ternyata Thatcher sudah bersiap diri dengan menimbun stok batubara sehingga dalam adu kuat yang berlangsung selama satu tahun, pemogokan besar yang sering diwarnai dengan bentrokan berakhir tanpa konsesi dari pemerintah. Berkat Thatcher, sejak itu serikat buruh tidak lagi menjadi momok bagi industri Inggris. Pada tahun 1979, kehilangan 29 juta jam kerja akibat pemogokan, pada tahun 1989 angka itu turun menjadi dua juta jam kerja.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Margaret Thatcher, Tipe Pemimpin yang Didambakan di Indonesia", https://internasional.kompas.com/read/2013/04/16/1842533/margaret.thatcher..tipe.pemimpin.yang.didambakan.di.indonesia
Penulis : Anton Alifandi


Margaret Thatcher and Tony Blair
Source: http://www.abc.net.au/
Coba bayangin! Kurang keren apa. Di saat PM satunya ngekor sama AS, ini PM yang cewek (not meant to be genderally racist) justru berani maju dengan keputusannya tanpa bayang-bayang negara adidaya lainnya, specifically AS. Satu hal yang gue suka. Beliau biarpun tegas dan berani, bukan berarti close-minded. Beliau pasti melayani debat yang tujuannya membuktikan jikalau ide-ide beliau memang benar dan bisa dibuktikan. Jadi, menurut analisa gue, saran-saran yang beliau tolak sudah bisa dipastikan, beliau punya segudang riset, fakta, data, dan tetek bengeknya yang bisa menguatkan bahwa saran-saran itu akan menimbulkan dampak negatif lebih besar ketimbang positifnya.
Makanya, beliau nggak turutin.

Sosok pempimpin yang decisive begini dirindukan publik banget sih. Buat gue, seorang pemimpin itu harus mencakup 3 hal:
1. Empowerment
Beliau tidak hanya powerful, tapi empower others. Terbukti dengan menurunnya angka permogokan buruh di Inggris pada masa pemerintahannya. Beliau nggak cuma bikin kebijakan terus yaudah urusan lo pokoknya kudu setuju. Enggak! Beliau memikirkan jauh ke depan. Punya further plan yang tidak terduga. Sehingga, plan itu sendiri yang akhirnya mampu mensejahterakan rakyat. Malah dikasih tau kan. "Woy ni lahan batubara dah kagak bagus. Gak ekonomis. Udahlah gue tutup aja. Rugi lo entar. Nih, dah gue siapin yang lebih bagus supaya lo lebih sejahtera." Begitu lah kira-kira kalo diterjemahkan ke dalam gaya bahasa gue wk.

2. Environmentally Concious
Sadar betul akan apa yang terjadi di lingkungan. Penting banget dimiliki seorang pemimpin. Apalagi pemimpin negara. Waduh ga kebayang kalo beliau nggak aware. Gimana beliau bisa menyelesaikan permasalahan. Bahkan, dari tingkat sistem. Kalau beliau sendiri aja gak sadar kalau itu adalah masalah, ya kan?

3. Decisive
Nah ini, poin yang gue ulang-ulang dari tadi. Pada akhirnya, sebagai pemimpin lo akan dituntut untuk membuat keputusan dan nggak sedikit merupakan keputusan besar. Apalagi dengan skala kepemimpinan beliau. Satu keputusan dampaknya ke satu negara. Bahkan, bukan nggak mungkin malah justru berdampak juga ke negara-negara yang menjalin hubungan bilateral dengan Inggris. 

No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.