Self-Quarantine, Kok Malah Breakout? | #BintangBeautyTips

April 28, 2020
Holla!
Di postingan kali ini gue mau bahas soal self-quarantine problem yang banyak dikeluhkan orang-orang "kok, gue selama di rumah aja malah jerawatan, sih?" Kalian termasuk? Sebenarnya apa sih, yang menyebabkan kulit kita breakout padahal nggak ke mana-mana? Coba kalian perhatikan pernyataan-pernyataan di bawah ini dan temukan cara mengatasinya.
Kira-kira, mana yang paling menggambarkan diri kalian banget, yaa?


Alami Breakout Akibat Coba Skincare Baru? Begini Cara Mengatasinya ...
Source: allyoung.co.id


1. Malas Berolahraga dan Tidak Banyak Melakukan Aktivitas Fisik Lainnya

Admit, it!  Siapa di sini yang sebelumnya rajin nge-gym atau Anker (Anak Kereta) yang selalu aktif commuting setiap harinya? Tiba-tiba, pola hidup kalian berubah drastis selama self-quarantine. Apalagi sekarang sedang bulan Ramadhan. Biasanya selama menjalankan ibadah puasa, kita lebih mudah merasa malas dan lemas. Apalagi masih 10 hari pertama. Padahal, kalau kita mager, akibatnya produksi keringat kita terganggu. Jarang berkeringat menyebabkan racun-racun dalam tubuh yang seharusnya dikeluarkan lewat pori-pori malah stays di bawah permukaan kulit. Tanpa adanya produksi keringat, bakteri-bakteri penyebab jerawat yang seharusnya dikeluarkan bersama keringat malah menyumbat pori-pori. Jenis acne yang paling ringan adalah komedo. Jika tidak teroksidasi akan menjadi whiteheads (komedo putih), sedangkan bila teroksidasi oleh udara akan menjadi blackheads (komedo hitam). Komedo yang banyak dan meradang hingga kemerahan inilah yang kita sebut "beruntusan" akibat bakteri (bukan pengaruh hormon). Nah, jika terus dibiarkan, lama-lama dia akan meradang dan menjadi jerawat.

Lagi puasa mana bisa olahraga? Eitss! Siapa bilang? Kita tetap bisa self-workout meskipun sedang menjalankan ibadah puasa. Hanya bedanya intensitasnya bisa dikurangi untuk olahraga berat dan waktu nya disesuaikan. Misalnya, bisa dilakukan sebelum sahur atau menjelang waktu berbuka. Biasanya gue lebih suka waktu yang ke-2. Yaitu menjelang berbuka puasa. Sekitar 1 jam hingga 30 menit sebelum berbuka. Jangan dibayangin gue olahraga super berat sampai angkat beban gitu, yaa hehe. Cukup lakukan gerakan-gerakan ringan seperti stretching dan jalan di tempat. Bahkan, gue juga menambahkan squat jump. Tapi nggak perlu dipaksakan sampai harus 100 hitungan yaa. Cukup 20-25 kali aja sudah lumayan, kok daripada nggak olahraga sama sekali.  


2. Pakai Skincare Saat Lagi Mood Aja

Jujur, selama self-quarantine gue juga mengalami skincare routine on-off. Kadang habis tarawih keburu ngantuk pengen segera tidur supaya nggak kesiangan bangun sahur. Eh, malah nggak pakai skincareI  sama sekali dan berakhir besok paginya kulit jadi dehidrasi dan bukan nggak mungkin timbul jerawat :( Padahal nggak ada bedanya mau #dirumahaja atau nggak, kita tetap harus pakai skincare. Nggak perlu selalu 10 steps skincare yang shahih, tapi setidaknya basic skincare jangan sampai ditinggalkan.

As my skincare philosophy: cleanse, moisture, and protect. Yuk, kita coba bahas satu-satu yaa. 

Cleanse
Cuci wajah 2x sehari. Untuk pemilik kulit sangat kering, biasanya step ini bisa dilakukan hanya dengan air saja atau bisa juga tetap pakai facial wash yang cukup gentle. Sehingga nggak bikin kulit jadi nambah kering. Untuk malam hari, usahakan selalu double cleanse. Karena, sunscreen  tidak bisa dibersihkan hanya dengan air saja. Gunakan oil-based cleanser sebagai first cleanser kalian bisa dengan menggunakan cleansing oil, cleansing milk, atau cleansing balm. Senyamannya kalian aja. Micella Water (MW) bisa nggak?  MW tidak bisa mengangkat minyak. Kalau kalian nggak pakai makeup maupun sunscreen baru bisa menggunakan MW sebagai first cleanser kalian. 


Moisture
Menjaga hidrasi dan kelembaban kulit kita sangat penting. Kalau kulit kita kering, otomatis akan mengundang berbagai skin concern yang sebenarnya bisa kita hindari. Kebayang nggak sih, kalau kulit kalian ngelupas selama puasa? Apalagi daerah bibir yang nggak punya kelenjar minyak. Pasti nggak enak banget kan rasanya? Nah, kalau kalian males pakai serangkaian skincare yang ribet, pastikan tetap pakai basic moisturizer yang sesuai dengan jenis kulit kalian masing-masing. Untuk kulit cenderung berminyak, tipe gel bakal lebih ringan dan nggak bikin nambah minyakan. Sedangkan untuk kulit cenderung kering bisa pakai yang tipe lotion atau cream


Protect
Untuk pagi hari, kecuali kalian benar-benar di ruangan tertutup tanpa jendela tanpa ekposur dari sinar matahari sama sekali, jangan skip sunscreen. Karena radiasi sinar matahari tetap bisa masuk melalui celah-celah jendela. Meskipun tidak terpapar secara langsung, pantulan dari gelombang sinar yang berhasil masuk ke rumah kita tetap berbahaya bagi kesehatan kulit. Malam hari pun, kita tetap butuh proteksi, yaitu zat oklusif yang mampu mengunci kelembaban kulit selama kita tidur. Jika kita sebelumnya pakai water-based products, maka tutuplah rangakaian malam dengan oil based products, contohnya face oil. Untuk pemilik kulit berminyak mungkin bisa menggantinya dengan gel sleeping mask jika tidak terlalu suka dengan tekstur face oil



3. Kurang Mengonsumsi Air Putih, Sayuran dan Buah-buahan

Selama berpuasa, kita akan cenderung mengonsumsi makanan dan minuman yang manis saat sahur maupun berbuka. Tapi, nggak jarang kita malah lupa nggak mengonsumsi air putih secara cukup. Padahal, konsumsi air putih dapat memaksimalkan kerja ginjal yang sangat penting bagi sistem ekskresi tubuh kita. Air putih juga sangat baik untuk membantu melancarkan sistem pencernaan terutama memaksimalkan fungsi usus besar sehingga menghindarkan kita dari potensi konstipasi atau sembelit. Konsumsi air putih juga erat kaitannya dengan hidrasi kulit. Padahal, hidrasi yang diberikan air sendiri saja tidak bertahan lama karena akan masuk ke ginjal lalu kandung kemih dan dapat dikeluarkan melalui urin. 

Berbeda dengan sayuran dan buah-buahan. Terutama sayuran hijau, dilansir lebih lama bertahan di dalam tubuh kita. Fakta ini pun baru gue sadari setelah menonton video nya Dr. Murrad dan Caroline Hirons. Masuk akal, sih. Sayuran dan buah-buahan akan diserap sarinya oleh usus dan kemudian diedarkan ke seluruh tubuh lewat peredaran darah. Jadi, jangan lupa selalu jaga konsumsi ketiga zat ini, yaa.


4. Tidak Rutin Membersihkan Tempat Tidur dan Mengganti Sarung Bantal

Hal ini sering dianggap nggak penting kadang bagi sebagian orang. Nggak penting karena terlalu sering dilupakan. Dulu gue juga sama. Sebelum sarung bantal udah nggak terlalu dingin atau udah kelewat banyak pasir kecil yang entah dari mana, gue malas ganti sprei. Faktanya, selama self-quarantine, sebagian dari kita banyak menghabiskan waktu di kamar. Apalagi di atas kasur. Sudahlah malas pakai skincare, malas ganti sprei pula, cucok! Padahal, selama kita di rumah pun tetap ada debu-debu halus yang berterbangan. Sebagian hinggap di kulit kita dan sebagian lainnya mengendap di perabot rumah tangga, termasuk pada sarung bantal. Apalagi misalnya kita tidur miring. Jadi, jangan heran kalau tiba-tiba muncul jerawat-jerawat manja di pipi kalian, yaa.


5. Terlalu Banyak Pemicu Stres Baik Internal Maupun Eksternal

Kita tahu, saat ini ada banyak berita di media yang mengabarkan berita-berita yang bisa bikin kita pusing, bukan? Kita jadi takut keluar rumah karena pandemi ini belum juga menunjukkan penurunan grafik. Malah cenderung terus eksponensial. Belum lagi stres kerjaan. Bahkan beberapa juga mungkin ada yang korban PHK atau kena potong gaji dari perusahaan karena sedang krisis. Jika 4 hal di atas menggambarkan kondisi kalian dan yang ke-5 ini pun sama, nggak heran kalau kalian merasa kondisi kulit kalian sangat tidak sehat. 

Gue pun sama, kok. Gue nggak bisa bilang don't be stressful. Karena stress itu manusiawi. Kita nggak bisa senang terus. Malah aneh, kalau kita nggak merasa stres. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah cara kita mengatasinya. Apakah kita membiarkan stres itu menguasai kita secara kontinu atau bisakah kita mencari distraksi lainnya untuk mengalihkan perhatian kita terhadap faktor stres? Tapi yang perlu diingat, distraksi hanya bersifat temporer atau sementara. Sehingga, kita tetap perlu manajemen stres untuk jangka panjang. Mengenali betul apa yang memicu stres itu penting, karena beda faktor beda penanganan. Jika stres ternyata berasal dari internal seperti hormon, ya kita harus jaga pola hidup sehat dan juga tetap jaga kebersihan diri. Konsumsi zat-zat yang bergizi dan lagi-lagi hidrasi dengan air putih dan serat. Tapi, kalau faktor pemicunya dari luar atau eksternal, kita bisa #jagajarakdulu dari hal-hal tersebut. Tidak masalah kalau mau puasa socmed dulu. Bahkan kalau masih ingin main socmed tapi nggak ingin ada hal-hal negatif yang mengganggu, blocking toxic people on social media isn't even harsh. Kita yang memilih following kita siapa, kita pula yang harus bijak memilihnya.



Jadi, kira-kira sudah menemukan jawabannya belum kenapa kalian mengalamai breakout  
selama self-quarantine?


***

No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.