#CeritaMalasBintang : Belajar Bahasa | BAGIAN 1

April 24, 2020
Holla!
Di postingan kali ini, gue mau berbagi iseng-iseng aja. Pengen banget menjadikan ini seri #CeritaMalasBintang. Kok, kayaknya bakal seru gitu, yaa. Cerita-cerita yang gue tulis di sini semuanya based on true story. Di mana gue merasa, terkadang jalan hidup gue kayak novel dan gue sebagai tokoh utama sering mengalami berbagai kejadian yang di luar akal sehat, di luar rencana, dan ketidaksengajaan yang sebenarnya adalah skenario Yang Maha Kuasa. Gue nggak pernah merasa hidup gue semenarik itu sebelumnya. Hingga suatu ketika, gue pernah iseng mengangkat ini di Instagram Story. Ternyata respon teman-teman yang baca malah nagih ingin tahu kelanjutannya. 
Selamat membaca cerita dari orang pemalas.


Takeshita Dori Street - Harajuku
Source: Personal Doc (2012)

Setengah Anak IPA dan IPS (IPAS)

Saat gue SMA, sekolah gue memulai jam pelajaran pertama pada pukul 06.45. Pagi banget, kan? Mana rumah gue jauh, lagi. Gue biasa bangun pagi pukul 05.00 untuk ibadah solat subuh. Jujur, kadang pengen bangun mepet. Masalahnya, kalau gue telat bangun 5 menit aja, Mama pasti udah paduan suara selama setidaknya 15 menit sendiri. Jadi gue paksakan. Padah rasanya smasih ngantuk dan ingin tidur lagi. Sayangnya, pukul 06.10 nanti mobil jemputan gue bakal sudah sampai. Ya, otomatis harus langsung mandi dan siap-siap berangkat sekolah. Sedangkan sekolah gue bisa sampai pukul 16.00 atau 16.30 di hari Rabu. Satu-satunya hari yang cukup gabut adalah Sabtu. Tapi bukan libur, yaa. Sekolah gue tetap masuk pagi di Hari Sabtu walaupun hanya untuk olahraga dan kesenian. Sehingga, berakhir di pukul 13.00. Masalahnya, sekolah gue ini mewajibkan siswa kelas 10 untuk asrama tanpa terkecuali. Jadi, SMA gue ini semi-boarding school. Gue tinggal di asrama dan tiap Sabtu sore dijemput pulang oleh keluarga. Minggu sore, diantar balik ke asrama lagi. Kebayang, kan capeknya? Di rumah cuma numpang tidur, makan, mandi doang, deh.

Herannya, di sekolah gue selalu dianggap anak rajin. Padahal, nggak ada yang sadar aja kalau gue suka nggak sengaja ketiduran di kelas. Gue mencatat pelajaran di sekolah bukan untuk mengerti materinya, tapi supaya nggak ngantuk. Mungkin karena kebiasaan ini banyak yang "salah paham" dikiranya gue rajin. Alhasil, buku catatan gue sering jadi korban difotokopi seangkatan. Gue bukan si anak pintar yang serba tahu segalanya, tapi gue juga nggak pernah menunjukkan kalau gue nggak tahu banyak hal. Kendati demikian, gue punya guru-guru yang luar biasa bisa menggali potensi gue yang bahkan gue sendiri nggak pernah sadari. Gue anak IPA. Ikut ekstrakulikuler KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) gara-gara waktu hari pertama suruh milih ekskul gue salah masuk ruangan tapi sudah terlanjur duduk. Gue suka Bahasa Inggris, tapi tidak dengan Kelas Bahasa Inggris. Ngapain lah bahas teks yang bisa dibaca sendiri? Buku pelajaran Bahasa Inggris sekolah membosankan. Sampai akhirnya, guru Bahasa Inggris gue menawarkan gue untuk masuk English Debate Team (EDT) dan jadi English Speaking Model (ESM). Semua siswa ESM akan diberi badge semacam bordiran khusus di baju seragam yang dipakai saat pakai seragam putih-abu setiap Senin dan Rabu. Selasa dan Kamis adalah jadwalnya seragam hijau - karena sekolah gue masuk katagori green school. Jumat adalah jadwal baju batik. Sabtu adalah baju olahraga dan pramuka. Jadi, hanya setiap Senin dan Rabu, siapapun yang bertemu gue, wajib hukumnya bicara dalam Bahasa Inggris. Termasuk Mbak Kantin sekalipun. ESM semakin bertambah hingga akhirnya nyaris semua siswa diwajibkan mengikuti English Day - hari di mana semua wajib ber-Bahasa Inggris. Akibat ESM ini, gue jadi dipercaya untuk ikut kompetisi debat baik di luar sekolah maupun hanya internal sekolah. Jujur, kadang gue ikut lomba bukan karena ngejar sertifikatnya. Tapi, gue bosen sekolah.

Gue jadi suka banget nonton debat juga di YouTube. Gue dengarkan kalau teman-teman gue yang giliran jadi speaker saat debat. Gue perhatikan bedanya dengan native debaters. Bagaimana mereka merancang argumen bahkan challenging motion debat itu sendiri. Gue lebih suka belajar Bahasa Inggris dengan balutan entertainment. Baca novel fiksi, denger lagu, nonton serial TV, dan maen Twitter. It's real! Gue maen Twitter sejak 2009 dan hal ini sedikit banyak membantu gue dalam Bahasa Inggris. Setidaknya, secara informal. Sisanya, gue terpaksa join LIA karena nggak boleh berhenti dari kelas 7 SMP sama Mama. Tapi, gue masih bersyukur karena di LIA, metode belajarnya masih banyak diskusi. Teks nya juga sedikit banyak menawarkan pengetahuan umum yang unik. Malesnya cuma kalo lagi bikin materi presentasi aja, sih. Kalau presentasinya sendiri lumayan seru. Kadang teachers juga bisa ngajak main Monopoli atau nonton film Up. Cocok lah jadinya sama selera belajar ala pemalas. Mungkin, dalam belajar, jiwa gue sebagian itu anak-anak. Gue ingin tahu banyak hal, tapi caranya nggak ingin yang monoton dan repetitif.

Akhirnya, gara-gara gue sering ikut debat, gue jadi dianggap debater. Lucunya, gue juga sampai mewakili sekolah bersama dua senior gue lainnya sesama anak KIR di ajang debat nasional bergengsi - FEKSI (Festival Ekonomi Kreatif Seluruh Indonesia) tahun 2011 tingkat SMA se-Indonesia di Kementrian Perdagangan RI dan memperoleh Juara 3 Nasional. Semua bermula dari Guru Ekonomi gue yang sebenarnya nggak mengajar ekonomi di kelas gue waktu gue kelas 10. Hanya saja, beliau sempat jadi Pembimbing BUGEMM (Budaya Gemar Menulis dan Membaca - sebuah proyek Karya Tulis Ilmiah yang wajib dikerjakan oleh seluruh siswa tanpa terkecuali, baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggis. Sebagai salah satu syarat kenaikan semester maupun kelas. Keterlambatan BUGEMM akan berakibat pada penahanan rapor). Guru gue ini langsung menawari gue untuk mewakili sekolah di ajang Debat Ekonomi. Ada 3 tim yang dikirim saat seleksi awal, yaitu langsung seleksi tingkat Provinsi. Anomali - yang lolos dan maju mewakili Provinsi ke Tingkat Nasional adalah tim gue yang isinya anak IPA semua. Setelah berhasil mengalahkan juara bertahan SMA lain yang tentunya anak IPS semua. Akhirnya gue bertiga dengan tim - gerombolan Anak Setengah IPA dan IPS (IPAS) dan satu guru pendamping, berangkat ke Jakarta dan bertemu dengan Menteri Perdagangan RI masih dijabat oleh Bapak Gita Wirjawan. Sebelum acara mulai sempat ada TV Show yang Host nya Dimas Beck segala lagi, kalau nggak salah nama acaranya Status Selebriti. Ngapain gitu, kan di Kementrian? Hahaha. Tapi asli deh, itu pertama kalinya gue masuk tv interview walaupun dengan judul acara yang nggak nyambung dengan situasi dan kondisi saat itu. Sejak saat itu, mungkin gue lebih dikenal sebagai Anak IPA yang berprestasi di bidang IPS, secara tidak sengaja.



Seleksi Program Pertukaran Pelajar

Kehidupan itu berlanjut hingga akhirnya, gue dengar kabar kalau ada Seleksi Program Pertukaran Pelajar. Jujur aja, gue berfikir logikanya, sekolah di luar negeri itu masuknya lebih siang. Plus, pulangnya lebih cepat. Setelah melalui berbagai pertimbangan, gue bisa dibilang gambling aja daftar Program Pertukaran Pelajar. Nothing to lose. Lolos ya alhamdulillah, nggak ya nggak apa-apa. Gue akan tetap melanjutkan sekolah gue seperti biasa. Singkat cerita, setelah kurang lebih satu tahun ikut Seleksi Program Pertukaran Pelajar, yaitu AFS (American Field Service), gue berhasil lolos. Setelah sempat bangun kesiangan waktu mau Seleksi Tahap 2 - yang untungnya secara tiba-tiba diundur 30 menit. Sehingga gue nggak telat. Tiba-tiba ada berkas sampai di rumah yang menunjukkan bahwa Placement Country gue adalah: JEPANG. Dari Top 3 priority list yang gue pilih, USA, Jerman, dan Jepang, takdir membawa gue untuk ketemu Mei Tantei Conan. Mungkin kalian berfikir, gue pasti sebahagia itu dengan segala daydreaming tentang Jepang, bukan? Pada kenyatannya, gue stress.

Jepang adalah negara pilihan Mama yang sejujurnya hampir nggak pernah jadi tujuan gue untuk urusan akademik. Bagaimana nggak, stress?
1. Jepang terkenal sebagai negara yang masyarakatnya disiplin.
2. Bahasa Jepang adalah termasuk salah satu yang tersulit di dunia.
3. Tidak banyak masyarakat Jepang yang mahir ber-Bahasa Inggris.
4. Gempa Bumi adalah bagian dari keseharian masyarakat Jepang.
5. Isu soal nuclear plant Fukushima yang sedang hangat-hangatnya di tahun 2012.
6. Tahun 2011 lalu, senior gue hanya menjalani separuh dari program karena terpaksa early return akibat bencana Tsunami yang melanda bagian Utara Jepang.

Dari list di atas, gue sudah keringat dingin sejak menyadari poin 1. Duh, gue kan pemalas, yaa. Gue merasa disiplin itu cenderung monoton. Didikan Papa itu berbanding terbalik kadang dari Mama. Papa mengajarkan bagaimana sesekali kita patut melawan arus, selama itu tidak membahayakan diri sendiri dan tidak kelewat melanggar hukum yang berat. Terkadang, kita sengaja menunda hanya untuk memberi jeda. Prinsip Papa, "Salah ya, minta maaf dan jujur saja alasannya kenapa. Jangan sibuk mencari alasan untuk pembenaran." Misal, gue capek banget. Yaudah, kalau mau ijin telat, bilang saja apa adanya dan kalau memang harus dihukum karena itu, terima saja konsekuensinya. Papa sebenarnya orang yang disiplin. Papa suka menunggu berjam-jam di bandara daripada buru-buru mengejar penerbangan. Tapi, ada kalanya Papa juga menanamkan prinsip slow-life.
Hidup itu belum tentu bisa selalu se-teratur maumu. Kalau itu selalu yang jadi tujuanmu, kamu bakal stres dan memperpendek umurmu sendiri. Ada kalanya kita membiarkan diri kita bersantai dan melakukan kesalahan hanya untuk menghindari suatu ketergesa-gesaan. - Papa

Jujur, kadang gue bolos saat SMA karena alasan yang nggak penting. Sering, waktu jaman menuju keberangkatan. Gue nggak masuk sekolah hanya karena gue ingin merenungkan rencana gue di Jepang dan gue capek setiap hari selalu ditanya "Bintang, kapan berangkat ke Jepang?" di sekolah. Tapi, sayangnya, hal seperti ini sangat tidak normatif di Jepang. Bahkan, dianggap hal yang memalukan. Apalagi, jika posisinya kita sebagai Gaijin atau orang asing. Telat 2 menit saja, orang Jepang pasti meminta maaf. Sekalipun hanya janjian dengan sahabatnya sendiri.

Hingga Hari H pengurusan Visa di Jakarta pun, gue masih merasa "Nggak mungkin gue berangkat. Gue daftar ini bukan untuk berangkat ke Jepang. Gue kan maunya Amerika." Entah kenapa saat itu gue sedang obsessed dengan beberapa TV show di sana. Sehingga, gue jadi penasaran ingin tahu lebih jauh tentang budayanya. Tapi, Jepang? Ini pilihan Mama, bukan? Tapi, ah sudahlah. Gue sedari awal sudah daftar atas kemauan sendiri, apapun motivasinya. Maka, hasilnya akan sepenuhnya jadi komitmen dan tanggung jawab gue ke depannya.

Teman-teman di sekolah justru yang lebih excited selau ingin update "Bintang, kapan berangkat?" Padahal gue saat itu, tidak se-excited itu. Malah kadang, jujur aja ada keraguan antara mau berangkat dan tidak. Sekali lagi, rasanya waktu gue SMA, gue pengen langsung kursus keahlian aja. Sampai terfikir, gue ingin menjadikan Bahasa Jepang hanya sebagai batu loncatan. Kalau gue bisa mahir, berarti gue menambah list keahlian bahasa. Sesederhana itu. Nggak sampai terfikir tujuan yang muluk-muluk. Sebagai anak orang tua yang terbiasa bekerja sama dengan asing, secara alamiah gue juga terfikir untuk mengikuti jejak langkah yang sama. Terkadang, cara fikir gue sulit diterima orang dari bangsa gue sendiri karena terbentur norma-norma yang ada - tidak semua, tetapi kebanyakan.




Berangkat ke Jepang

Akhirnya, 21 Maret 2012 gue bersama dengan 4 anak Indonesia lainnya dari berbagai daerah diberangkatkan ke Jepang. Pertama kalinya naik pesawat Garuda Indonesia yang punya 2 aisles kanan dan kiri. Terbang selama 7 jam. Dari udara Jakarta yang panas mencekik hingga tiba di Narita Airport pk 09.00 JST (Japan Time) dalam keadaan angin kencang dan dingin yang menusuk, karena sedang peralihan Winter ke Spring. Kita berpisah karena hanya gue dan satu teman lainnya yang dikarantina di Tokyo (Kanto Region/ Jepang Timur). Dua orang dikarantina di Nagoya (Kansai Region/ Jepang Barat), sedangkan satu lainnya di Fukuoka (Jepang Selatan). Singkat cerita, akhirnya kita diantar ke rumah Host Family masing-masing. Saat itu gue di Kota Kawasaki-shi.

Jujur, rasanya saat itu gue bukan seperti anak SMA. Kalau di Indonesia, kondisi yang tepat menggambarkan gue saat itu seperti orang dewasa yang commuting dari Bekasi ke Bogor. Gue tinggal di Kawasaki-shi, Kanagawa Prefecture dan bersekolah di Ofuna-ku, Yokohama-shi, Kanagawa Prefecture. Keduanya, baik Kawasaki-shi dan Yokohama-shi ada di Prefecture yang sama, yaitu Kanagawa-ku, di mana Yokohama-shi adalah Ibu Kota Prefecture. Sebenarnya, kalau gue datang tepat waktu dan memilih jadwal kereta yang tepat, 30 menit dari Stasiun Shin-Kawasaki ke Stasiun Ofuna memakan waktu sekitar 30 menit (di kereta saja). Sedangkan 10-15 menit jalan kaki cepat dari unit flat apartment ke peron. Jadi ya, kalau ditotal kurang lebih 45 menit sekali jalan. Sayangnya, kalau gue ketinggalan kereta pukul 07.00, gue harus menunggu 20 menit untuk kereta berikutnya di Yokosuka Line ke arah Odawara. Hal ini bisa membuat gue telat 30 menit sampai sekolah. Karena sesampainya di Stasiun Ofuna, gue akan naik bus sekolah yang juga punya jadwal sendiri. Seminggu pertama, kebiasaan ini bikin gue sakit kaki nggak karuan. Lelah juga dengan arsitektur sekolah gue yang banyak sekali tangga. Dari kelas ke ruang olahraga indoor saja ada kurang lebih 100 anak tangga yang harus dilewati. Kebiasaan sehat, tapi perubahan ini terlalu drastis dibandingkan dengan gaya hidup gue semasa di Indonesia. Di rumah tinggal siap-siap dan duduk manis di mobil jemputan, begitupun sebaliknya saat pulang sekolah. Di saat teman-teman lain di kelas 11 sudah mulai bawa motor atau mobil sendiri, gue masih nggak tergerak untuk belajar menyetir kendaraan bermotor. Why would I? - dulu mikirnya. Habis tenaga buat nyetir ke sekolah. Mending duduk manis di jemputan. Kalau masih ngantuk bisa lanjut tidur lagi, hehehe.




Kegiatan Student Exchange yang Super Sibuk

Sebenarnya, ada masa-masa di mana sekolah itu membosankan. Jenuh sekali gaya belajar di Jepang. Pasif hanya mendengarkan guru dengan setengah kelas lebih siswanya mengantuk, baca Manga, atau bahkan tertidur. Sempat mikir, "Ini sebenarnya gue di sini ngapain, yaa?" Lewat sebulan, pattern culture di sekolah gue mulai terbaca. Gue mulai terbiasa dengan kondisi dan kebiasaan sekolah yang melelahkan walaupun kadang masih mengeluh juga dalam hati. Tapi, kadang lucunya banyak yang menganggap gue di Jepang hanya enak jalan-jalan.

Seorang siswa pertukaran pelajar dianggap sebagai duta negara di negara hosting. Walaupun belum tentu perlakuannya seistimewa itu. Jujur, setidaknya 3 bulan pertama lo akan merasa seperti selebriti. Semua ingin kenal dan ngobrol. Hingga saatnya, mereka menganggap lo nggak lebih dari bagian mereka saja. Di saat ini juga biasanya demand terhadap partisipasi lo sangat dituntut dalam segala bentuk acara sekolah maupun program. Minggu ini bisa jadi ada Festival Bunkasai, tiba-tiba besoknya ada mandat dari AFS untuk kunjungan ke Sekolah Dasar di Yokohama atau ada Cookout Party - yang hampir bisa dibilang Evaluasi macam kakak pembina ospek yang diawali dengan makan-makan. Aktivitas ini jujur melelahkan. Kadang kita harus camping di saat rasanya tulang badan sudah remuk dengan aktivitas sekolah termasuk Bukatsu (ekskul). Apalagi ekskul yang gue ambil adalah Kyuudo (Japanese Traditional Archery), bidang olahraga yang tentunya memang sudah terkenal punya aturan yang lebih strict bagi anggotanya. Termasuk soal waktu latihan. 

Kita juga masih harus ikut Japanese Class dan sekali lagi dilakukan dengan commuting di akhir pekan. Terkadang aktivitas ini begitu menyiksa fisik. Meskipun, secara mental, gue sangat senang bisa ketemu dengan teman-teman student exchange lainnya. Jujur, kadang rasanya gue malas sekali ikut. Terutama selama bulan Ramadhan. Kalau acara makan-makan, gue suka minta ijin skip. Bukan karena nggak kuat iman, tapi di sana puasa selama 16 jam dan saat Summer. Sempat gue dilarang puasa karena alasan kesehatan - yang menurut mereka, ini dapat menyebabkan dehidrasi. Tapi, ketika tiba acara Fuji Summer Camp, gue nggak mau ketinggalan camping di kaki Gunung Fuji. Meskipun dalam kondisi berpuasa. 




Malas Belajar Bahasa Jepang

Nggak seperti teman-teman student exchange lainnya yang suka latihan soal untuk JLPT (Japanese Language Proficiency Test), gue malah ogah belajar. Gue nggak suka belajar bahasa secara textbook. Karena, gue merasa dulu gue belajar Bahasa Inggris tidak mahir karena metode itu. Makanya, seringkali gue mendapatkan vocabulary karena aktivitas sehari-hari: dengar lagu, nonton film, nonton TV, baca novel. Bukan beli buku latihan soal dan gue otomatis paham. Makanya, gue juga menerapkan yang sama dengan Bahasa Jepang. Gue sering bertanya langsung saat sedang ngobrol sama teman sekelas. "Itu artinya apa, contoh kalimat nya bagaimana, dan pantasnya digunakan dalam kondisi seperti apa?". Gue terlalu malas untuk buka kamus. Sampai akhirnya, gue ikut-ikutan teman sekelas beli kamus elektronik. Tapi yang gue beli untuk business. Jadi kosakata nya lebih banyak dan memang banyak juga konten pengetahuan umumnya. Sedangkan punya teman-teman rata-rata yang khusus Koukou-sei atau Anak SMA. Gue juga banyak bertanya dan ngobrol dengan Host Family. Sehingga, cara belajar gue cenderung audio. Sesekali belajar secara visual untuk menghafal karakter Kanji. Tapi, sekali lagu gue anaknya pemalas dan mudah bosan. Gue nggak suka melakukan sesuatu secara berulang-ulang.

Akhirnya, Desember 2012 gue lulus ujian JLPT N3. Entah bagaimana caranya, pokoknya gue Goukaku (predikat memuaskan). Padahal JLPT ini kalau dalam Bahasa Inggris setara TOEFL PBT. Masalahnya, ini Bahasa Jepang yang tau sendiri lah. Bisa baca soal aja sudah alhamdulillah. Apalagi di N3, conversation speed nya nyaris mendekati actual speed dari percakapan sehari-hari. Dengan cara inilah akhirnya, gue bisa menguasai 3 bahasa (trilingual).

Kuncinya, bertanya lah pada orang yang tepat dan biarkan mereka membagi ilmunya pada kita. Seringkali, orang belajar bahasa dengan berbicara. Tapi mereka abai pada kemampuan mendengarkan. Kalau kita berbicara, kita hanya akan mengulang ilmu yang kita punya. Tapi, kalau kita mendengar, kita akan mendapatkan ilmu yang ada dalam pikiran orang lain.



No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.