Tips Lolos Seleksi Beasiswa (Conference, Summit, Exchange, etc)

May 16, 2018
source: www.westislandblog.com
Okaerinasai!
Selamat datang kembali di Blog gue yang isinya campur-campur ini ya.
Semoga kalian nggak bosen baca tulisan gue seterusnya.
Gue bikin postingan ini sesuai judulnya, gue mau berbagi Tips Lolos Seleksi Beasiswa
Ini berkali-kali di request sama temen-temen via DM Instagram. Maaf baru posting karena habis ada tanggungan sidang TA yang ke-3 haha. Baiklah, dengan senang hati gue bagi di sini. Tulisan ini nggak menjamin kalian bakal lolos setelah baca dan menerapkannya ya. Semua balik lagi ke rezeki masing-masing. Beasiswa itu ibarat jodoh juga, cocok-cocokkan wk. Kalau dirasa bermanfaat boleh dipraktekin sekaligus di share juga ke socmed kalian biar jadi amal jariyyah hehe.


Biar enak dibaca, gue langsung buat poin-poin diikuti dengan penjelasan aja ya gaes. Okay, pertama, gue mau jelasin poin-poin yang menurut gue perlu diperhatikan sebelum lo memutuskan untuk memilih dan apply suatu program.

PRIOR APPLICATION
1. Kenali Program yang Akan di Apply
Ini penting banget. Gue sering denger testimoni temen-temen applicants tuh sebenernya nggak paham-paham betul sama program yang mereka apply. Demi gengsi lah, biar jalan-jalan gratis lah. Nggak salah. Tapi kalau tujuan utamanya nggak kena, buang-buang waktu dan biaya aja gaes. 

Selain itu, dengan mengenali program tersebut kalian jadi paham sama value dari program itu. Jangan suka males deh untuk kepo sama description program yang di apply. Biar kalian tuh punya gambaran juga. Sebenarnya "Siapa, sih, yang mereka cari?" Saran gue, jangan pernah bosen untuk kepo di media apapun tentang program-program kayak gini. Di socmed, kalo ada iklan "sponsored" gitu jangan maen langsung scroll-up deh. Coba sesekali kepo, kunjungi websitenya. Semakin banyak prorgam yang kalian ketahui, semakin besar peluang kalian menjadi scholarship awardee, karena akan semakin punya banyak opsi. Gagal satu, mungkin berhasil di program yang lain.

2. Eligibility
Nah, setelah kalian tau visi misi program yang mau di apply itu, ini penting banget dong. Kalian orang yang tepat bukan sih untuk program ini? Buat gue, eligibilitas itu ada 2. Satu, eligibilitas program. Dua, eligibilitas personal. Eligibilitas Program maksudnya adalah persyaratan-persyaratan tertulis yang disediakan oleh pihak penyelenggara acara atau penyedia beasiswa tentang "Siapa saja yang boleh mendaftar". Misal, range usia, latar belakang pendidikan, kewarganegaraan, skill tertentu, dokumen pendukung, deadline of application dan sebagainya. Kalau Eligibilitas Personal itu lebih kepada kondisi lo secara personal, sih. Kira-kira program ini bakal menyita waktu sekolah atau kuliah lo nggak sih? Terus, program ini juga memungkinkan nggak buat lo ikut, apakah dia bentrok dengan jadwal penting lainnya: sidang TA, misalnya?

3. Biaya Program
Penting banget untuk tau program itu funded or self funded? Kalau misalnya funded, fully-funded atau partial-funded? Kalo self-funded, berarti lo kudu punya link yang banyak dong buat sponsorship. Apa sudah tau prosedur-prosedur permohonan dana nya? Kecuali, lo emang mampu bayar sendiri sih so what. Tapi, siapa sih yang nggak mau bisa "jalan-jalan keren nan gretongan"?

4. Kondisi Khusus
Misal, di tempat penyelenggara lagi ada konflik, nih sama Indonesia. Coba deh pikir ulang, kira-kira lo kudu tetep maju atau ada option program lain yang similar? Tentu, lo gak mau dong jadi innocent victim yang niatnya mau menimba ilmu tapi malah terancam keselamatannya?

5. Izin Orang Tua
Haha jujur aja, gue apply apapun selama ini ga pernah ijin. Soalnya, ortu gue alhamdulillah selalu demokratis dan suportif banget ke anak-anak mereka. Selama gue sehat, programnya juga bukan buang-buang duit gajelas doang sih, ortu selalu dukung. Tapi, buat kalian anak-anak yang punya perijinan ketat, daripada keburu lolos terus gaboleh berangkat, nyesek, mending ijin dulu deh ya.

Nah, setelah 5 poin di atas udah lo kantongi, saatnya gue berbagi tips tentang cara gue menghadapi rangkaian tes/ seleksi mulai dari berkas, wawancara, or any further selection tergantung programnya.

APPLICATION
1. Hindari Typo saat Pengisian Seleksi Berkas
Ini tahapan crucial pake banget. Masalah ini sering banget dianggep enteng sama kebanyakan orang. Gatau ya, gue sering denger aja istilah "cuma seleksi berkas" gitu di kalangan applicants. Hey! Ini bakal jadi first impression dari penyelenggara/ calon pemberi beasiswa ke elo, loh! Jangan anggap remeh segala hal teknis yang menurut kalian ribet. Buat gue, typo is unforgivable untuk urusan kayak gini. Logikanya gini aja ya. Kalau lo aja ngisi berkas penting gitu typo, mereka bakal menilai lo orang yang ceroboh. "Ni orang sebelum submit gak di cek dulu apa? Nggampangin banget sih, nggak menghargai". Intinya, lo mau dapet duit, kesempatan, lesson, experience, networking apapun itu lah, please be a little bit detail and perfectionist for the sake of your virtue. Apalagi kalau lo tau program itu favorit, applicants nya ribuan tapi diambilnya dikit. Bukan nggak mungkin, lo tersingkir akibat petty business se nggak penting typo.

2. Be Honest, Humble, and Grounded
Gue sering banget menemukan pertanyaan-pertanyaan dalam online form terutama, yang menurut gue dasar banget. Contohnya: Ceritakan tentang diri Anda dalam 100 kata!
Nah loh, di sini mereka bakal melihat personaliti dan psikologis lo. Mereka kepo, peran lo tuh siapa sih di dunia ini? Lo tuh gimana sih kalo di dalam kehidupan sehari-hari? Kenapa? Because they're seeking for your uniqueness! Makanya, nggak jarang muncul juga pertanyaan macam "Apa kelebihan Anda?" (sejujurnya ini pertanyaan yang paling gue benci haha, mau jujur tar riyya'; ga jujur bohong dosa juga). Lo ga perlu harus jadi yang "The Most Outstanding Person A Whole Lifetime" kok. Simply, hook them to get to know you as personal as possible. Ini selalu gue buktikan berkali-kali di setiap seleksi yang gue hadapi. Semakin personal, semakin baik. Tandanya, lo adalah orang yang terbuka. Mereka butuh itu. Karena, kalau lo tertutup, yah ngapain gue repot-repot ngurusin elu? Lu nya aja diurusin gamau. Gausah diurusin, dikepoin ae ogah!

Gue selalu memulai dengan menceritakan okupansi gue itu sebagai apa. Misal, sekarang gue sebagai Mahasiswa Arsitektur semester 8. Gue sebutin dah tuh kegiatan atau fokus gue terkait kebidangan gue itu saat ini apa, misal TA. Yaudah ceritain aja, gausah takut dengan pertanyaan "emangnya mereka nanya?" Habis itu, gue masuk ke ranah lebih dalam lagi, keluarga. Gue ceritakan gue di keluarga anak ke berapa dari berapa bersaudara. Bahkan, gue cerita keluarga gue itu kebiasaanya seperti apa, misal: gue selalu cerita bahwa keluarga gue demokratis dan sangat menghargai dan mendukung satu sama lain. Nggak jarang gue cerita sampe kepada kondisi di mana gue tinggal di kota, bahkan pulau berbeda dengan mereka. Terus, gue sampaikan juga harapan gue buat mereka dengan gue ikut program ini apa. Misalnya, karena ingin membanggakan orang tua dan jadi panutan bagi adik-adik. Serius, kalo gue baca lagi sih emang menye banget lah nulis kayak gitu di form. But hey, I'm telling you it worked on me.

Lo bukan gak boleh menunjukkan kelebihan lo. Tapi, mind your words. Kalau memang mereka nanya achievements lo, tell them. Tapi gue sarankan, jadilah selalu gelas yang Setengah Penuh , Setengah Kosong. Bahkan, beberapa orang bijak bilang, jadilah gelas kosong! Maksudnya, lo tau nih lo punya modal, tapi bukan berarti lo puas. Tunjukkan betapa lo adalah orang yang selalu haus akan ilmu. Your curiousity, interests them a lot! Semisal, penggunaan opening sentence semacam: I would like to improve... I would like to know more about...I would love to learn about...or I am curious about....

3. If the Question is a Case, Be Creative!
Di part ini biasanya pihak penyelenggara program/ pemberi beasiswa mau liat proses berpikir kita tuh gimana sih. Caranya kita mengambil suatu pertimbangan dalam penyelesaian masalah itu gimana. Kadang, pertanyaan maupun case yang ditawarkan itu sepele pake banget. Tapi, jangan salah. Semakin sepele, justru kreatifitas lo bakal jadi point of interest. Apakah lo seseorang yang mampu berpikir out of the box? Karena, kreatifitas itu mahal. Creativity is your own added value!

Contohnya, waktu gue seleksi AFS. Gue inget pernah ditanya dalam seleksi wawancara:
 Apa yang kamu akan lakukan sebagai duta Indonesia jika kamu diberangkatkan ke negara hosting?
Simpel dan mendasar banget kan? Kelihatan jelas bahwa pertanyaan ini template sesuai dengan tujuan programnya sendiri: Intercultural Exchange. So, yaudah jawaban default versi gue pastinya memperkenalkan budaya Indonesia serta mempelajari budaya negara hosting pastinya, karena exchange kan bukan promosi. Artinya, bukan hanya memperkenalkan. Tetapi mempelajari juga. Hanya, di sini harus ada "added value" dari jawaban gue yang bisa dikatakan membedakan dengan peserta seleksi lainnya. Hook your interviewer with your very best opening sentence! Jawaban gue selanjutnya rahasia hahaha.

4. Know your Potentials, Deliver them at The Very Best!
Nggak jarang kita minder kalau disuruh ngelist daftar kelebihan kita. Baik saat pengisian form maupun wawancara, ya kan? Manusiawi, sih. Kita nggak mau dianggap sombong. Tapiiii, kalau kalian nggak "sombong", kalian cuma lewat aja. Bhay! Sombong di sini yang gue maksud adalah jangan takut menunjukkan sikap optimis kalian terhadap diri kalian sendiri. Selama itu jujur dan tidak mengada-ada, itu akan selalu jadi strength point kalian. Makanya, sesekali coba deh iseng tes-tes psikologis gitu. Biar tau kepribadian kita tuh gimana sih? Terkadang, ada juga pertanyaan macem "Bagaimana penilaian orang-orang di lingkungan Anda terhadap Anda?" Makanya, jangan ragu diskusi sama teman-teman. Minta penilaian mereka terhadap diri kita itu penting menurut gue. Bahkan, kadang gue nanya juga sama orang-orang yang baru gue kenal. Penting untuk tahu first impression orang terhadap kita karena, bagi gue itu adalah penilaian spontan yang paling jujur. Mungkin kalian berfikir, "tapi kan nggak boleh nge judge orang dari luarnya aja?"

Gini gaes, arahnya bukan ke sana sebenarnya. Ya, emang jangan langsung judge "si A begini" kalau kita emang belom kenal betul kepribadiannya. Tapi, hey, emangnya semua manusia di dunia ini punya waktu untuk kenal lo sampe ke akar-akar? Memangnya, CEO kalau mau rekrut karyawan gitu kudu kenal lo 3 tahun dulu baru bisa nentuin lo pantes diterima kerja apa nggak? Dalam konteks ini, judge by its cover penting banget! Why? Kaitannya dengan efisiensi waktu juga. Selain itu, menurut gue ini bisa jadi sarana introspeksi buat kita dalam men-deliver diri kita terhadap orang-orang sekitar. By no means of being fake, but self-improvement matters the most!

5. Belajar dari Pengalaman Orang Lain yang Pernah Lolos Seleksi di Program Tersebut
Reference bisa jadi salah satu strategi jitu buat kalian lolos seleksi program yang kalian mau. Makanya, jangan mager deh kalau ada acara edu-expo, live streaming, seminar apapun itu yang bisa membuka kesempatan kalian untuk sharing bareng alumni program tersebut. Banyak banget tips di atas yang yang gue pelajari dari senior-senior sebelumnya. Poin pentingnya: tips itu sudah dipraktekkan dan bisa dibuktikan.

Banyak banget strategi yang lo gak bisa pelajari secara textbook. Tetapi bisa lo pelajari lewat knowledge transfers. Buat gue, ngobrol adalah bentuk knowledge transfers yang paling mudah, cepat, dan efisien. Gue bisa betah diskusi berjam-jam masalah kayak gini tanpa merasa gelisah. Malah, seringnya lupa waktu. Ibaratnya, kalau gue baca buku 1 jam udah pedih mata, ngobrol 3 jam mah ga berasa. Kalau dalam 1 jam gue baca bisa dapet 2-3 bab, gue ngobrol 3 jam mungkin habis 1 buku.

No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.