21 Skin Care Mistakes I've Done in My Early 20s (Part 2)

March 16, 2020

Holla!
Di postingan kali ini gue mau sharing seputar kesalahan-kesalahan seputar skincare apa saja yang sudah pernah (dan kadang masih hehe) dilakukan di masa-masa awal 20 an. Oh ya, karena postingan ini dibagi 2 parts, jadi, untuk kalian yang belum baca Part 1, bisa baca artikelnya di sini yaa.
Kalau sudah baca Part 1 dan ingin tahu kelanjutannya,
keep on reading! :)


Image result for skincare mistakes
Source: latestbulletins.com

11. Used Too Many Products

More doesn't always mean more for the skin. 
Setidaknya itu motto yang wajib banget gue pegang sekarang. Jujur, layering tidak sepenuhnya baik untuk kulit. Pada dasarnya, kulit kita adalah living organism, yang sudah cukup pintar untuk melindungi dan meregenerasi dirinya sendiri. Kulit kita akan memproduksi sel kulit yang baru setiap 28 hari sekali. Sayangnya, kadang kita terlalu naive ingin hasil yang instant, sehingga ingin selalu menggunakan bahan-bahan aktif yang dapat mempecepat proses regenerasi kulit tersebut. Ini tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak selalu dapat dibenarkan juga. Karena, kulit kita kondisinya berubah-ubah. Ada kalanya teknik layering ini dapat diterima dengan baik oleh kulit kita. Tetapi, ada kalanya juga malah membuat kulit kita dehidrasi. Sehingga, kelenjar sebum terdorong untuk memproduksi minyak alami kulit lebih banyak lagi. Setelah nonton YouTube nya Harper's Bazaar, salah seorang dermatologist mengatakan bahwa ada penyakit yang disebabkan oleh terlalu banyaknya produk skincare yang dipakai pada kulit secara topikal, yaitu 


12. Wasted Money on Products I Barely Needs

Pernah nggak sih, kalian tergoda sama SALE? Pernah juga nggak, sih kalian tergoda nyoba suatu produk karena baru launching dan denger review dari teman kalau produk itu sebagus itu? Well, kadang kita memang suka tergoda kan, nyobain produk baru di tengah arus beauty industry yang semakin maju dan fast-moving. Tapi, masalahnya, apa kulit kita beneran butuh sama produk itu? Misalnya, kulit kalian udah cerah sebenarnya, tapi karena suatu brand baru aja launching produk baru mereka dengan embel-embel brightening atau whitening, kalian juga ikutan nyoba karena lihat semua orang pada review. Belum lagi promo dari Official Website brand itu yang biasanya di awal launching banyak penawaran menarik. 

Akhirnya, kita tergoda beli dan yah, tentu aja nggak ada hal signifikan yang terjadi. Gue pernah banget kayak gini, tapi parahnya malah mencoba produk yang sebenarnya nggak bakal bekerja untuk skin concern yang gue hadapi saat itu. Misal, face mist. Kalau gue sendiri bukan pengguna face oil, sebenarnya gue nggak butuh-butuh amat sama face mist just for the sake of its cooling sensation. Padahal kalau mau seger doang mah ya gue bisa tinggal wudhu lol.  Toh, hydrating toner gue juga sudah mengandung ingredient yang punya cooling sensation. Balik lagi, skincare is personal matter. Jadi memang harus kenal dulu sama kulit kita butuh nya apa, maunya apa, dan bagaimana.



13. Not Being Aware of the Ingredients Before Buying

Sebelum benar-benar serius belajar tentang skincare, gue termasuk yang sering banget melakukan kesalahan ini. Sebenarnya, ini ada plus dan minusnya juga. Plus nya, gue jadi tau, mana yang gak bisa bekerja atau bahkan benar-benar nggak cocok di kulit gue. Mana yang bikin kering, breakout  sampai jerawatan, mana yang bisa menimbulkan burning sensation. Waktu itu, gue iseng beli eye cream  salah satu produk lokal. Gue kaget karena waktu pertama aplikasi di under eye area, kulit langsung bereaksi panas sampai rasanya kayak terbakar. Belakangan baru tahu kalau ternyata dalam eye cream  tersebut ada kandungan kojic acid nya. Jelas aja, kulit wajah gue secara general pun kadang nggak cocok sama jenis acid tertentu. Khusus kojic acid, merupakan jenis acid yang baru gue pakai. Makanya kulit juga langsung bereaksi saat itu juga. Tapi, sudah 3x coba, reaksi nya masih sama. Bahkan hampir menyebabkan milia :( Akhirnya nyerah dan coba produk eye cream lain yang lebih gentle.



14. Touched My Face A Lot

Girl, I still do :) Padahal gue sadar kalau tangan itu adalah media yang paling mudah menjadi media transfer bakteri dari benda lain ke tubuh kita, terutama area wajah. Apalagi kalau ngerasa area hidung lagi banyak whiteheads, rasanya gemes banget pengen mencetin pakai jari. Kalau ada jerawat yang mateng gitu juga rasanya gemes banget! Untungnya, sekarang ada teknologi bernama acne patch. Jadi, kalau pas ada jerawat yang mateng segera pakai spot treatment, tunggu meresap terus langsung timpa pakai acne patch. Tapi untuk komedo, it took everything in me not to. Akhirnya, sekarang berusaha menyerahkan itu semua ke chemical exfoliant. Akhirnya coba exfoliating toner dari local brand lagi setelah sekian lama. Ditunggu review nya, yaa! :)



15. Not Changing My Pillow Sheet Regularly

Jujur, ini sering banget diabaikan. Mungkin nggak banyak yang sadar, kah kalau sarung bantal itu bisa jadi sarang penimbun bakteri? Apalagi kalau kalian punya banyak jerawat di area pipi. Kadang juga sehabis pakai pm skincare, kalian langsung tidur dan nggak sadar kalau sebagian residunya ada yang nempel di bantal sampai berhari-hari bahkan berbulan-bulan? Saran ini pertama kali gue dapatkan dari dermatologist yang gue kunjungi. Waktu itu masih sma di saat kulit gue sedang dalam kondisi acne-prone. Benar-benar ada bedanya semenjak rutin ganti sarung bantal sekitar 3-4 minggu sekali kalau kondisi lagi normal dan 2-3 minggu sekali kalau kulit wajah sedang dalam kondisi berjerawat. Bahkan kalau benar-benar sensitized, selalu berusaha tidur telentang :( 



16. Kept Using Products That Do Me Nothing or Breaking Me Out

Ada yang pernah ngerasa sayang kalau nggak dipakai lagi padahal jelas-jelas produknya nggak cocok? :( Kita sama! Memang waktu itu produknya nggak separah sampai jerawatan yang banyak atau gede-gede gitu. Tapi biasanya reaksi gatal atau kulit jadi kering di area pipi. Karena ngerasa masih bisa ditiban pakai skincare product  selanjutnya yang moisturizing dan calming. Huft! Nambah-nambahin shift kerjaan produk lain aja, yaa? Padahal please, hentikan. Jangan ganggu keseimbangan pH kulit kalian. Biasanya ngerasa wah, ini kering banget, nih, harus ditambah yang lain. Kalau kondisi nya kering karena kurang lembab aja, okay lah mungkin secara humektan dia kurang begitu bekerja untuk melembabkan karena hanya hidrasi aja. Jadi bisa ditambahkan emollient dan occlusive ingredients yang lain. Tapi, kalau kering sampai peeling, padahal bukan produk eksfoliasi, hati-hati, yaa!



17. Shared Some Products with Friends

Inget banget jaman sekolah, lumayan sering banget share sama temen. Dulu jaman belom aware  banget tuh santai aja. Padahal ada beberapa produk yang nggak baik kalau dipakai secara bergantian oleh orang-orang yang berbeda. Apa saja contohnya?
1). Sisir
2). Lip Care
3). Make Up Tools (Sponge/Brushes)
4). Bedak
dan masih banyak lagi produk lainnya. Terutama yang bersentuhan secara langsung dengan kulit. Siapa hayo di sini yang kalau mau touch up  make up suka minta lipstick temannya? Jangan lagi yaa. Karena lips area termasuk area personal dan paling memungkinkan bakteri untuk masuk ke dalam tubuh kita. Begitu juga dengan produk yang pemakaiannya harus bersentuhan langsung dengan kulit. Kalau teman kalian kulitnya sensitif, bukan nggak mungkin akan jadi breakout. Apalagi kalau kalian meminjam produk dalam kondisi wajah kalian sedang breakout

Sisir pun termasuk yang paling sering diabaikan. Padahal, sisir juga mengenai kulit kepala dan bukan tidak mungkin ada rambut rontok yang mengendap di sisir. Saat kalian memakai sisir pun juga ada sebagian bakteri dari kulit kepala maupu rambut yang berpindah ke batang-batang sisir. Apalagi kalau kulit kepala kalian tipenya yang berminyak dan berketombe. Meminjam sisir saat kulit kepala kalian berkeringat juga harus dihindari, yaa.



18. Not Aware of Its PAO and Expiry Date

Hayo, siapa di sini yang suka hoarding waktu sale? Semuanya dibeli sampai nyetok tapi ujung-ujungnya nggak terpakai sama sekali atau terpakai tidak sampai habis. Akhirnya waktu sudah dekat tanggal expired baru sadar kalau produk itu jarang kita pakai. Pernah banget, nih sampe segambreng gue preloved in. Walaupun kondisi nya waktu itu masih jauh dari expiry date. Tapi kan. kulit wajah kita cuma 1, kita nggak butuh produk sebanyak itu :( 

Dulu, nggak pernah tuh merhatiin PAO (Period After Opening), yaitu lamanya produk bisa kita gunakan setelah kemasan produk dibuka. Padahal sebenarnya itu yang seharusnya jadi patokan. Expiry Date hanya jadi patokan kalau produknya belum kita buka sama sekali. Sehingga, belum ada udara yang masuk. Makanya, sekarang mulai aware  dan mengusahakan untuk beli produk yang di kemasannya tertera jelas PAO nya, apakah 6M, 12M, 18M, dan sebagainya. Selain itu juga biasanya gue buat notes Opened Date dan PAO nya. Bisa diberi label di botol kemasannya atau di notes hp kalian. Jadi, nggak menerka-nerka lagi, produk ini masih bisa dipakai nggak, yaa? 


19. Used Products That Are Made Not for My Skin Type

Ada lagi nih, yang gampang keracunan skincare. Gue banget, jaman awal-awal masih newbie tuh nggak sadar sama skin type gue apa. Baru beberapa tahun belakangan sadar kalau kulit gue combination to oily. Tapi, ternyata harusnya sadar juga kalau kulit kita itu living organism yang akan terus berubah seiring berjalannya waktu. Kita harus rajin personal research tentang:
1). Bagaimana kondisi kulit kita saat ini? Ada permasalahan apa saja?
2). Apa saja yang dibutuhkan oleh kulit kita?
3). Ingredients apa saja yang cocok dan bisa ditoleransi kulit kita dan apa yang tidak?
Jangan karena review orang lain yang menggiurkan, kita langsung ikutan nyobain juga. Padahal kondisi dan permasalahan kulit setiap oramg berbeda. Sehingga, kebutuhannya juga akan berbeda-beda tentunya.




20. Got Facial Treatments in The Wrong Place

Duluuu banget jaman masih baru melek menjaga penampilan kulit, lumayan sering dealing with acnes. Sehingga, solusinya saat itu adalah facial. Memang, di awal tahun 2014 an, skincare products belum se-booming sekarang. Terutama untuk produk lokal yang harganya affordable. Gue juga merasa dulu, skincare tuh hasilnya cukup lama. Sehingga, salah kaprah menganggap facial  di klinik kecantikan menawarkan hasil yang lebih instant. Turth is, there's nothing such an instant result when it comes to our skin. Sayangnya, nggak semua kan, beauty therapist nya itu benar-benar paham betul sama masalah kulit kita dan cara penanganan yang terbaik seperti apa. Nggak semua cukup sabar dan nggak jarang malah justru membuat kulit jadi trauma :( 

Gue pernah kok waktu ketemu beauty therapist yang jauh lebih pengalaman, bisa treat dengan sangat gentle. Tapi, seringnya malah ketemu yang nggak sabaran. Udah tau kita sampai kesakitan, bahkan nangis masih juga diterusin di tempat yang sama. Terutama waktu ngeluarin komedo di area hidung. Untung, sekarang sudah kenal chemical exfoliator yang lebih bisa ngangkat komedo tanpa rasa yang sakit. Mungkin, kalau kalian yang kulitnya sensitif biasanya agak berasa cekit-cekit sedikit. Tapi kan hanya sebentar dan nggak sesakit waktu facial, kan? :) Okaylah, kalau kalian facial di dokter kulit yang sudah pengalaman. Pernah banget ngangkat jerawat batu dan nggak terasa sama sekali. Jadi, kesimpulannya,  facial itu boleh-boleh saja. Tapi dilihat lagi yaa, kualitas treatment nya seperti apa. Jangan karena harganya murah terus kalian malah jadi bopeng-bopeng :( 



21. Comparing My Skin to Others

Last but not least. Terkadang, kita suka merasa "udah skin care-an terus, tapi kok nggak se-glowing dia, sih?" Hayo, ngakuuu hehe. Jujur, gue pernah kok membandingkan kulit gue dengan orang lain. Sayangnya, gue lupa kalau faktor genetik juga berperan penting. Gue juga pernah ada di masa kulit mulus tapi nggak cerah. Masa di mana kulit cerah, tapi jerawat di mana-mana. Sampai kulit kembali kusam dan sisa bekas-bekas jerawat PIH. Gue pernah banget saking frustasinya sampai dibawa stres yang berujung jerawat gue seperti never-ending story :( Satu hal yang mau gue bilang sama kalian:
Punya skin goals itu BOLEH BANGET! Tapi...berusahalah untuk realistis. Mulai dengan menetapkan skin goals dari yang paling mungkin kalian atasi terlebih dahulu. Supaya, ketika itu berhasil, kalian bisa level-up goals kalian dan jadi semangat untuk step selanjutnya. Kalau set goals nya nggak realistis sedari awal, yang ada kalian hanya akan merasa nggak ada yang bisa kalian capai, putus asa, stres, dan justru menyebabkan masalah-masalah kulit yang baru berdatangan.
Misalnya, kalian punya jerawat yang sedang merah-merahnya, ada beberapa bekas jerawat hitam, dan kulit kalian juga sedang kusam. Jangan terus berharap semuanya bisa diatasi dalam semalam. Apalagi hanya pakai satu produk saja. Kalaupun ada satu produk yang bisa menghempaskan semuanya, tetap saja butuh waktu. Mulai lah dari 3 step di bawah ini:

1). Calming
Buat masalah kulit kalian mereda dulu dengan tidak membuatnya bertambah banyak. Misal, kalian punya jerawat yang lagi mateng-matengnya atau beruntusan. Coba deh, jangan langsung panik dan coba skincare product baru yang kalian belum tentu cocok. Coba audit skincare products kalian. Mana yang punya ingredients yang bisa menenangkan, contohnya: Centella asiatica atau Aloe vera. Bisa juga dengan stop semua produk yang kalian pakai atau stop secara bergantian. Tujuannya, untuk tahu kira-kira troublemaker nya produk yang mana, sih? Dari proses ini juga kalian bisa jadi lebih peka sama kulit kalian masing-masing tentang apa yang sebenarnya kulit kalian mau.

2). Healing
Kemudian, mulai healing. Tidak hanya dengan produk, tetapi juga dengan merubah pola dan gaya hidup yang tidak sehat. Perbanyak konsumsi air mineral, sayur-mayur, buah-buahan, olahraga, kurangi begadang. Healing our minds is part of the process too! Konsultasikan dengan ahlinya jika dirasa perlu. Baru, mulai riset dengan cari produk sesuai rekomendasi ahli. Minimal, pada tahap ini, kalian akan tahu ingredients apa yang bisa membantu proses penyembuhan. Misal untuk jerawat pasti kalian udah nggak asing dong, dengan salysilic acid, benzoyl peroxide, centella asiatica, dan masih banyak lagi. Dulu, gue memulai dengan spot treatment dengan acne gel yang mengandung BHA. Memang nggak langsung hempas semua. Tetapi, satu per satu mulai teratasi. Sayangnya, kadang kita nggak realistis, maunya semuka langsung bersih :(

3). Treatment
Kalau stage 1 dan 2 sudah terlewati, biasanya kulit akan cenderung kering dan mulai lah dengan merawat bekas-bekasnya. Misalnya mulai menggunakan produk yang punya efek mencerahkan untuk membantu memudarkan bekas jerawat PIH. Nggak lupa juga untuk pakai sunscreen sebagai proteksi, supaya masalahnya nggak datang lagi.



***


Okay, sekian dulu yaa postingan soal 21 Skin Care Mistakes I've Done in My Early 20s. Maaf kalau beberapa kebanyakan curhatnya haha. Semoga bermanfaat!
See you on my next blog post!

- Bintang Mahayana (c) 2020-



No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.