Why Japanese Companies are Flooded in Indonesia?

Konnichiwa!
Judul artikel di postingan kali ini lumayan menguras waktu untuk riset, drafting, sampe publishing nya. Tapi, semoga ini bermanfaat. Jujur aja, akhir-akhir ini topik ekonomi agak overwhelming didukung dengan vibe banyak  fresh graduates yang lagi cari kerja entah itu via job portals, website perusahaan, atau job fair di kota-kota besar di Indonesia. Kalau kita perhatiin, hampir selalu ada perusahaan Jepang yang mejeng di posternya. Pertanyaannya, kenapa sih, perusahaan-perusahaan Jepang begitu membanjiri Indonesia? Bagaimana bisnis mereka bisa sustain di negara kita? 

Toyota teams with Panasonic to Develop Smart Homes and Towns
Source: autoblog.com

Trend joint-venture di berbagai sektor bisnis semakin lazim di era digital saat ini. Menggali level of intimacy yang lebih dalam lebih dari sekadar client engagement dengan metode ekspor-impor, tetapi menerapkan direct investment di host country tempat mereka menanam saham. Sebagai contoh, salah satu e-commerce besar di Indonesia, Tokopedia, Mengapa founder Tokopedia, William Tanuwidjaya mengadopsi beberapa Japanese value ke dalam perusahannya, salah satunya dengan menyebut karyawan sebagai "Nakama" yang artinya adalah "Teman"? Tokopedia bukanlah perusahaan Jepang. William pun bukan orang Jepang serta tidak pernah belajar di Jepang. Nyatanya, e-commerce milik Jepang, Beenos, berinvestasi pada saham milik Tokopedia sejak tahun 2009. Namun, itu baru salah satunya.
Melalui rekanan terbatas, venture capital (VC) korporat, dan venture capital pribadi, para pemodal dari Jepang atau yang dikenal dengan istilah “Japanese Money”, telah mengucurkan dana mereka ke Indonesia selama tiga tahun belakangan. 
      - Dikutip dari Bagaimana Venture Capital Jepang Mendukung Eksosistem Teknologi di                          Indonesia? via https://id.techinasia.com/peran-venture-capital-jepang-di-indonesia

Kiranya, tidak berlebihan jika kita sebut hal ini sebagai "The Phenomenon of Japanese Money in Indonesia." 

Indonesia's Young Population and Potential of Economic Growth
Total Indonesia Population per 2017
Source: https://data.worldbank.org/country/indonesia
Indonesia sebagai negara berkembang, menempati posisi ke-4 setelah China, India, dan Amerika sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia. Dikutip dari Data World Bank per 2017 populasi Indonesia mencapai angka 263,991,379 juta jiwa. Jumlah tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh lebih tingginya angka kelahiran dibanding angka kematian. Namun, juga dipengaruhi oleh migrasi penduduk Hal ini juga dilansir memberikan pengaruh bagi ketersediaan sumber daya alam dan berdampak pada kebutuhan infrastruktur. Selain itu, juga memberikan tekanan bagi potensi ketahanan (sustainability) bagi Indonesia. Lalu, bagaimana para investor Jepang melihat kondisi populasi masyrakat di Indonesia?

Ternyata, kondisi tersebut sangat kontradiktif dengan kondisi populasi masyarakat di Jepang. Jepang sendiri dalam info grafik di samping menempati posisi ke-10 dunia dengan total 126.536.000 juta jiwa. Namun, pada kenyataannya sebagian besar masyarakat Jepang justru berusia non-produktif. Hal ini disebabkan oleh rendahnya angka kelahiran sedangkan usia harapan hidup masyarakatnya relatif tinggi. Para investor Jepang menyadari kondisi ini akan sangat mungkin berdampak pada sustanibilitas perusahaan mereka. Oleh karena itu, cash-flow Jepang ke Indonesia terjadi secara natural. Jumlah usia produktif yang tinggi di Indonesia merupakan faktor terbesar bagi para investor memilih Indonesia sebagai sasaran penanaman modal atau recipient. Para investor Jepang telah puluhan tahun aktif menanamkan saham mereka di Indonesia. Sehingga, baik secara historis maupun ekonomi, hubungan bilateral antara Jepang dan Indonesia merupakan salah satu yang terkuat. Hal tersebut tidak hanya meliputi "tech boom" saja, namun industri lainnya seperti: manufaktur, energi, hingga garmen pun menjadi sasaran investasi bagi Jepang di Indonesia. Fakta menarik lainnya, Indonesia sendiri menempati posisi ke-3 setelah China dan India dalam "breaking-record of sales in a single day." Sehingga, tingkat konsumtivitas masyarakat Indonesia merupakan pasar basah bagi Jepang karena selain merupakan attractive market dengan problem yang unik untuk diselesaikan, 

Indonesia's biggest obvious factor for investors to invest in Indonesia
Para investor Jepang sudah berivestasi sejak beberapa dekade silam. Tidak hanya tech boom, namun juga berinvestasi pada sektor energi, garmen, dan manufaktur. Indonesia sendiri menempati posisi ke-3 setelah Cina dan India dalam breaking-record of sales dalam sehari. Tidak heran kalau Indonesia dipandang sebagai pasar atraktif dengan permasalahan-permasalahan unik yang harus diselesaikan.

Japanese Aid and Direct Investment
Japan's Official's Development Assistance (ODA) mendukung lebih banyak investor Jepang untuk melakukan direct investment di negara-negara berkembang. Jepang dalam perspektifnya terhadap program bantuan international (international aid program) mengedepankan simbiosis mutualisme. Jadi, kalau Jepang memberikan bantuan ke internasional, bukan berupa one-way gift tanpa adanya timbal balik atau pengakuan sama sekali. Intinya, mereka "nggak mau rugi" gitu lah. Sehingga, international aid program juga dipandang sebagai hubungan bilateral. Hubungan bilateral Jepang dan Indonesia sendiri sudah berlangsung lebih dari 50 tahun. Di mana sejauh ini di klaim sebagai hubungan bilateral terbesar bagi Jepang sejak 1966. Bahkan, mengalahkan Japanese bilateral ODA dengan Cina, Filipina, Thailand, dan India. (OECF 1993, P.126) 




Reference
https://www.thejakartapost.com/news/2019/02/14/indonesia-invites-japanese-firms-to-invest-in-fish-shipment.html
Wie, Thee Kian. 1994. ASEAN Economic Bulletin Vol.11 No.1. Accessed on https://www.jstor.org/stable/25770517?read-now=1&seq=1#page_scan_tab_contents

No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.