5 Alasan Masyarakat Jepang Masih Berkomunikasi Lewat Surat Pribadi di Era Digital



Japanese Post Box
Source: Wallpaper Flare

Hallo!
Postingan kali ini terinspirasi dari kisah pribadi tentang berkomunikasi lewat surat pribadi dengan orang-orang di sekitar setelah pulang dari Jepang. Mungkin, banyak yang belum tahu, atau sudah tahu tapi heran. Mengapa masyarakat Jepang gemar menggunakan cara konvensional ini untuk berkomunikasi secara pribadi baik kepada teman, keluarga, maupun orang spesial. 
Yuk, kita bahas satu per satu!


1. Menulis Terkesan Lebih Spontan dalam Menyampaikan Sesuatu

Image result for writing picture
Writing a Letter
Source: Unsplash
Menumpahkan isi pikiran lewat tulisan diakui masyarakat Jepang sebagai cara yang efektif untuk berkomunikasi secara menyeluruh dan menyampaikan pesan yang komprehensif. Sebenarnya, media untuk menulis itu sendiri tidak hanya terbatas pada bentuk surat pribadi yang terkesan panjang lebar. Memo dalam bentuk sticky notes  pun sangat lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sesederhana memo berisi ucapan terima kasih, semangat, maupun yang lainnya. 

Berbeda dengan menulis pesan secara elektronik baik itu e-mail maupun chats. Kita lebih leluasa mengedit pesan yang akan kita sampaikan hanya dengan menekan tombol "delete" atau "backspace". Sehingga, ada kesan keraguan saat kita mencoba berkomunikasi dengan cara demikian. Sedangkan melalui media tulis, ada banyak faktor seperti hemat kertas maupun ketersediaan correction pen

2. Menimbulkan Kesan Penghargaan Lebih terhadap Orang Lain

Image result for girl handing a hand bouquet
Girl Handing Flowers
Source : Unsplash
Siapa yang tidak merasa spesial dan dihargai jika ada orang lain yang mau meluangkan waktunya untuk membeli alat tulis, menulis surat, kemudian menaruhnya di meja? Bahkan mungkin mengirimnya via pos? Perasaan spesial atau dihargai ini tidak melulu soal romansa belaka. Perasaan "dianggap" sebagai teman walaupun mungkin di kehidupan sehari-hari tidak terlalu intens dalam berinteraksi. Namun, yang perlu digaris bawahi di sini, orang Jepang selalu tau momentum yang tepat untuk menulis surat pada orang-orang yang mungkin secara teknis tidak memiliki kedekatan yang intens. Tetapi, ada momentum tertentu di mana mereka ingin berterima kasih atau menyampaikan sesuatu secara pribadi yang dinilai lebih etis dengan menulis surat. 

Sebagai contoh, dulu sewaktu mau pulang ke Indonesia banyak banget teman-teman sekelas maupun beda kelas. Seangkatan maupun beda angkatan yang menulis surat. Padahal sehari-hari jarang ngobrol bareng. Jarang ketemu bahkan. Hanya saja, kita pernah punya satu momentum yang layak dikenang. Misal, pernah sama-sama terlibat dalam School Trip, Bunkasai (Festival Budaya), atau Bukatsu (Ekstrakurikuler). Pesannya sederhana. Semacam "Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke Jepang dan mau mempelajari budaya Jepang.". Bahkan pesan yang lebih terkesan advance  lagi datang dari librarian  sekolah gue dulu. Kalimat terakhirnya " Semoga bisa menjadi jembatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang." Oke, siapa yang nggak terenyuh bacanya kalau diberi pesan seperti itu? Di situ, gue sebagai penerima merasa ternyata selama ini kehadiran gue dihargai.

3. Menghadirkan Hubungan yang Lebih Hangat dan Jangka Panjang

Image result for long lasting friendship
Long Lasting Friendship
 Source : Project Bold Life
Efek ini mungkin lebih bisa dirasakan untuk berkirim surat atau kartu pos jarak jauh. Misal, beda negara. Sebelum pulang dari Jepang, beberapa teman datang ngasih surat sambil bilang "Bintang, nanti kasih alamat mu di Indonesia, yaa. Tahun Baru tetap kirim "Nengajo" (Kartu Pos Tahun Baru) yaa." Nanti dari Jepang aku kirim via Air Mail, okay?"

Sejak saat itu, gue yakin kalau hubungan pertemanan kita nggak akan berhenti sampai di situ. Entah, semenjak rutin berkirim surat, isi suratnya pun semakin pribadi. Semacam cerita kehidupan sehari-hari. Terkadang, cerita masalah pribadi yang mungkin nggak banyak orang lain tahu. Seperti uraian di poin 1, menulis terkesan lebih spontan. Mungkin awalnya, nggak ada niatan ke sana dan baru sadar setelah menulis surat sampai selesai kalau dia sudah cerita semuanya.

4. Menjadi Koleksi Pribadi
Image result for kartu pos gramedia
Indonesian Theme Post Cards
Source: Kompas Lifestyle
Ini jujur aja alasan paling gemas di antara alasan-alasan lainnya. Di era digital, bukan sulit menemukan filateli (orang yang hobi mengoleksi perangko) di Jepang. Ini juga alasan kenapa gue selalu pilih kirim surat via Pos Indonesia dengan perangko. Memang sampenya bisa sampai 1 bulan. Surat sejenis ini biasanya benar-benar surat borongan yang isinya bisa menceritakan kejadian 3-6 bulan bahkan 1 tahun terakhir. Cap "Pos Indonesia" untuk kita orang Indonesia mungkin biasa saja. Tetapi, lain halnya bagi orang Jepang yang kita kirimi surat atau kartu pos. Untuk kartu pos sendiri, gue biasa pilih kartu pos yang mencerminkan Indonesia banget. Biasanya gue beli di Gramedia karena kertasnya bagus dan tebal. Kualitas foto HD dan ada tulisan Indonesia nya di bagian bawah foto dan caption. Namun, ada kalanya gue juga mengirim kartu pos hasil desain sendiri.

5. Menjadi Media untuk Mengekspresikan Kreativitas

Handmade Post Card
Source: The Great Escape
Nah, di poin 4 gue sebutkan kalau gue juga suka mengirim kartu pos hasil desain sendiri. Jujur, ini nggak terpikirkan oleh gue sebelumnya. Sampai akhirnya gue terima kartu pos tahun baru dengan costumized design yang ternyata hasil gambar tangan temen gue sendiri. Ternyata menyenangkan banget bikin kartu pos handmade karena kita bisa bebas mengekspresikan kreativitas sesuai dengan keinginan atau seni yang kita sukai. Misalnya, waktu itu host sister gue pernah kirim kartu pos yang bagian depannya full Shoudo - Seni Kaligrafi Jepang. Bagus banget asli tulisan Kanji nya dan gue tahu itu ada ilmunya sendiri dan nggak mudah. Nulisnya pun pake kuas dan tinta. Pasti hati-hati banget. Bisa dikatakan gue beruntung bisa memiliki karya seni nya "cuma-cuma".  


Jadi, gimana teman-teman? Apakah kalian tertarik untuk mulai menulis surat pribadi mulai dari sekarang? Semoga kita nggak pernah melupakan cara-cara konvensional dalam berkomunikasi seperti ini that made us "more human"

No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.