Revolusi Mental dan Resiliensi Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Pandemi

Sunday, May 02, 2021


Indonesia sudah melewati satu tahun pertamanya sejak kasus Covid-19 tercatat pertama kali sejak Maret 2020. Hingga kini Mei 2021, keadaan masih tak kunjung menemukan titik terang bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Tidak jarang orang mengeluh karena merasa terpenjara oleh keadaan. Merasa diri sebagai korban karena segala upaya rasanya tak jua membuahkan hasil. Dunia serasa runtuh dalam sekejap mata. Yang tadinya bisa bepergian ke mana saja, sekrang harus lebih banyak di rumah. Saat masih bekerja di kantor, pukul 08.00-17.00 adalah waktu di mana seluruh kewajiban harus dituntaskan. Dedikasi kita sebagai seorang profesional di bidangnya seharusnya diukur dalam masa itu. Di luar waktu tersebut, bukan dedikasi melainkan inefisiensi waktu. Namun, semua berubah sejak hadirnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang mengharuskan diberlakukannya WFH (Work From Home) bagi kaum pekerja. Batasan privasi antara pekerjaan dan kegiatan di rumah rasanya ditembus begitu saja oleh serangkaian Zoom Meeting.


Selama pandemi, orang menjadi lebih punya banyak waktu untuk berselancar di media sosial. Mereka yang masih terlihat bahagia-bahagia saja terkadang menuai rasa iri bagi sebagian yang lain. Ada saja segala jurus orang berkomentar yang sejatinya akan lebih bijak jika mereka menyimpannya untuk diri mereka sendiri. Tak banyak orang tahu bahwa menghasilkan uang tidak hanya lewat bekerja di kantor. Sejujurnya, saya sebagai generasi Z akan maklum jika komentar tersebut datang dari orang yang satu generasi dengan orang tua saya atau bahkan di atasnya karena pada masa generasi mereka teknologi belum secanggih sekarang. Pun profesi saya belum hadir secara lazim. Namun, kenyataannya komentar menohok justru lebih sering datang dari generasi saya sendiri. Ironisnya, mereka kerap kali tidak sadar bahwa komentar mereka itu cukup kasar dan sensitif.



Justru saya balik heran, bukankah mereka sehari-hari juga menonton YouTube? Bukankah mereka tahu bahwa banyak orang di luar sana dapat menghasilkan tanpa "kantor"? Namun, kemudian saya berpikir bahwa mereka hanya belum eksplor lebih jauh tentang potensi internet. Jadi, wajar kalau mereka heran. Saya sudah resign sejak awal pandemi. Bukan karena diberhentikan. Tetapi karena saya sakit hingga alami koma. Kemudian saya mencari cara lain untuk menghasilkan dengan cara yang lebih ringan bagi fisik, memanfaatkan skill menulis. 



Mengapa dia bisa menghasilkan dari rumah?

Mengapa dia terlihat baik-baik saja setelah tidak bekerja di kantor lagi? 

Dia dapat kekuatan dari mana? 


Pertanyaan-pertanyaan itu seketika hadir di benak saya tentang apa yang orang lain mungkin pikirkan tentang saya. Bukan prasangka buruk tanpa dasar. Namun, saya berkali-kali mendapat cemoohan karena berani meninggalkan perusahaan besar demi mengejar passion. Seolah pilihan saya adalah sebuah aib. Mungkin pikirnya saya tidak punya performa yang baik bagi perusahaan. Padahal, alasan utama saya berhenti adalah untuk menyelamatkan nyawa saya sendiri dari kegilaan kerja yang tidak dapat saya kendalikan sebelumnya. Itu pun saya lakukan setelah saya meninggalkan legasi bagi perusahaan berupa kontribusi yang dapat terus digunakan oleh tim dalam menjalankan sistem proyek perusahaan. Suatu ketika saya teringat kutipan dari buku karya Jeong Moon Jeong yang berjudul "Tidak Mungkin Membuat Semua Orang Senang." Buku ini saya dapatkan dari giveaway Instagram @bukugpu dalam rangka menyambut Hari Buku Sedunia. Terima kasih Buku GPU. Buku ini banyak mengubah cara pandang saya dalam bersosialisasi. Dalam bagian prolog, saya membaca kutipan berikut.


Jangan berkecil hati jika bertemu dengan orang kasar, karena ada banyak cara yang memungkinkan kita menyampaikan peringatan kepada mereka dengan sikap yang berkelas dan tetap tersenyum (Jeong: 2018, hal XV).

 

Saya berusaha tetap bertahan dengan jalan yang saya yakini. Revolusi mental dimulai dari kegiatan menulis di blog. Menulis bagi saya adalah proses mengolah hasil pikiran dari membaca serta menjadi perpanjangan tangan bagi informasi dari para ahli kepada masyarakat luas. Content Writer - profesi yang sejujurnya sudah mulai mainstream saat ini. Ironisnya, masih banyak yang memandang sebelah mata berdasarkan pengalaman. Lulusan teknik, kok jadi penulis? Menulis bagi saya adalah pekerjaan universal. Tetapi, untuk apa saya menghabiskan energi menanggapi omongan orang-orang sinis? Saya memilih untuk tersenyum sembari berkata, "Saya suka perkerjaan ini. Lagipula halal juga." Untuk pertama kalinya dalam masa usia 20-an, saya kembali menemukan kesempatan melakukan hal yang saya senangi. Bukan apa yang orang ingin saya lakukan.



Sadar bahwa memberi makan ego saja tidak cukup, saya mulai belajar investasi lagi. Uang akan habis, tergerus derasnya arus inflasi setiap tahunnya. Keadaan masa depan tidak dapat diprediksi dan saya harus segera menyelamatkan nilai uang saya. Setelah belajar ilmu untuk investasi sejak 2018, akhirnya saya memberanikan diri mengaktifkan kembali rekening efek (RDN) lama di sekuritas, setelah sempat terbengkalai karena kurangnya ilmu dalam dunia pasar modal. Saya teringat kutipan buku "Rich Dad, Poor Dad" karya Robert T. Kiyosaki.

Takut adalah alasan utama orang berkata, "Bermain amanlah." Itu berlaku dalam segala hal, entah olahraga, hubungan suami-istri, karier, atau uang (Kiyosaki: 2019, hal 67)


Orang tua saya tidak pernah mendidik saya untuk menjadi orang penakut. Tetapi menjadi orang yang senantiasa berjibaku dalam keadaan sesulit apapun. Sungguh, dunia ini tak kenal ampun bagi orang lemah dan para pengeluh yang hanya mampu meratapi nasib tanpa berjuang. Kita senantiasa dituntut untuk memiliki mental petarung, bukan korban. Berani mengambil risiko terukur, bukan diam di tempat dan bermain aman. Toh Warren Buffet pernah berkata, "Risiko itu datang dari ketidaktahuan akan apa yang kita lakukan." Saya sudah belajar sebaik mungkin dengan ikut Sekolah Pasar Modal (SPM) dari Bursa Efek Indonesia. Membaca buku beberapa investor dan juga buku Robert T. Kiyosaki tadi. Jalan satu-satunya untuk menguji pemahaman akan ilmu baru saya adalah dengan mempraktikannya. Tentu saja perjalanan berinvestasi saya tidak sepenuhnya mulus. Tetapi, selama fundamental emiten yang saya beli masih menunjukkan sentimen positif, saya hanya terus membeli dan membeli. Sehingga, keuntungan yang akan saya dapatkan di kemudian hari akan semakin besar. Jika mengacu pada perbandingan selisih antara nilai pembelian terrendah dengan nominal tertinggi saat jual. Logika yang sebenarnya cukup simpel, bukan? Memang, saya dedikasikan investasi ini untuk jangka panjang. Namun, ada kalanya saya juga perlu meraup keuntungan singkat untuk mendukung alur kas. Sebagai orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang ekonomi, yang saya lakukan semata berusaha menyederhanakan ilmu investasi menjadi lebih mudah dipahami dalam ranah kebidangan saya dan itu sangat mungkin dilakukan. 


Misalnya, sebagai seorang lulusan arsitektur, saat sekolah saya sering dihadapkan pada desain berbasis isu. Untuk dapat merancang suatu bangunan, ada banyak variabel yang perlu diperhatikan agar nantinya bangunan tersebut hadir dengan tujuan yang jelas. Bukan hanya sebagai bangkai beton tanpa makna maupun manfaat. Isu yang terjadi pada lokasi lahan menjadi pertimbangan seorang arsitek untuk menentukan tipologi, perencanaan tapak bangunan, hingga tampilan fasad bangunan. Kita ambil contoh, ada isu tentang minimnya pemanfaatan lahan di kawasan tersebut. Kawasan tersebut sepi sekali. Sehingga, para pemilik tanah banting harga hanya demi menarik pembeli. Banyak sekali kasus seperti ini terjadi selama pandemi di mana sektor properti cukup tertekan. Lalu, upaya yang dilakukan arsitek seharusnya mendesain bangunan yang menghadirkan peluang ekonomi baru, seperti pasar, kafe, maupun pusat perbelanjaan yang dapat memicu hadirnya kerumunan. Sehingga, kawasan yang tadinya "mati" akan segera "hidup" kembali. Begitu juga dengan peran investor di pasar modal. Sebagai investor, harus pintar dalam melihat peluang. Perhatikan sektor yang memiliki potensi untuk uptrend tetapi sedang diskon. Beli emiten bagus dengan harga kaki lima. Begitu istilah yang saya pelajari dari berbagai buku tentang investasi yang saya baca.



Jalan hidup manusia memang terkadang terjal. Tetapi, saya hanya perlu fokus agar segera sampai pada tujuan. Tugas saya adalah menjaga kesehatan fisik dan mental, mengatur arus kas, melindungi aset, dan tidak menyusahkan orang lain. Untuk itu, saya juga membeli buku karya Mbak Prita Hapsari Ghozie yang berjudul "Make It Happen!". Saya banyak sekali terbantu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan finansial serta membuat mimpi-mimpi keuangan saya lebih terukur. Saya percaya bahwa hanya hal yang dapat kita ukur yang dapat kita kendalikan. Bahasa yang Mbak Prita gunakan dalam bukunya cukup lugas dan mudah dipahami. Sehingga, bagi pemula yang ingin belajar finansial pun, saya rasa tidak akan menemukan kseulitan yang berarti. Tidak heran buku ini seringkali habis di Gramedia sampai harus ikut pre-order. Terima kasih, yaa Mbak Prita atas ilmunya yang sarat manfaat. 



Dengan menulis cerita perjalanan saya beradaptasi dan berdamai dengan keadaan di atas, saya harap akan lebih banyak lagi literasi soal revolusi mental dan resiliensi ekonomi. Sehingga, generasi muda Indonesia memiliki mental petarung, bukan mental korban. Menjadi generasi yang solutif dalam menghadapi masalah apapun dengan tetap menjaga norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Termasuk masalah ekonomi di tengah ketidakpastian pandemi.


- Ditulis oleh: Bintang Mahayana, 2021

(Tulisan ini diikutsertakan dalam sayembara "Aku, Buku, dan Perjalanan Beradaptasiku" - Sebuah sayembara kreatif yang diselenggarakan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama (@bukugpu) pada periode 6 Maret- 3 Mei 2021.)




Referensi


Ghozie, Prita Hapsari. 2020. Make It Happen! Buku Pintar Rencana Keuangan untuk Wujudkan Mimpi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


Jeong, Moon Jeong. 2021. Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang dan Hal-Hal Lain yang Perlu Diketahui untuk Menghadapi Orang yang Kelewat Batas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


Kiyosaki, Robert T. 2019. Rich Dad Poor Dad, Apa yang Diajarkan oleh Orang Kaya kepada Anak-anak Mereka Tentang Uang - Yang Tidak Diajarkan oleh Orang Miskin dan Kelas Menengah! Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

No comments:

Holla! Thanks for reading my post. Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan terkait konten. Komen spam, annonymous, maupun berisi link hidup akan dihapus. Centang "Notify Me" agar kalian tahu kalau komennya sudah dibalas, yaa!

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.