The Science and Art of Moving On and Letting Go



"They said I moved on too fast, but really I just knew 
the science and art of  moving on and letting go."

Setengah 3 pagi gue kebangun lagi setelah sempet tidur beberapa jam, bikin indomie goreng, minum air es, dan kenyang. Tapi jari-jari gue gatel banget pengen ngetik di tuts keyboard laptop. Bermuaralah di public online diary alias website ini. Gue kalo udah kebangun susah tidur lagi. So, mungkin sambil menunggu waktu subuh ada baiknya gue nulis. Mind-healing banget bisa nulis di sini apalagi topiknya galau eaaaak.

Bukan, gue bukan lagi galau. Hubungan gue sama dia baik-baik saja haha. Hanya emang dalam kesehariannya, gue sering jadi "tempat sampah" curhatan teman-teman yang lagi galau. Mungkin ada baiknya taman-teman yang lagi galau menghela napas, menyeruput kopi atau teh favorit kalian, sembari membaca tulisan ini. Topiknya selalu diulang-ulang dalam setiap sesi curhat dengan orang berbeda di waktu yang berbeda pula. Baik pertemanan satu inner circle maupun yang beda inner circle. Bawaan gue sebagai cewek Cancer mungkin ya. Katanya sih "Cancers always got you telling them things more than they asked you." Makanya, sekali udah cerita sama gue bisa bablas kemana-mana walaupun gua nya nggak nanya atau ada maksud bahas ke sana. Bukan sok pede, ini kenyataan. Buat yang udah pernah curhat sama gue,  just admit it :)

Dalam tulisan ini, gue nggak menjanjikan teman-teman sehabis baca ini langsung bisa move on dan atau let go, yaa. Kalau bisa ya syukur, kalau tidak ya coba lagi. Gue bukan mau membeberkan masa lalu gue yang nggak perlu semua orang tau. Apalagi bermaksud membeberkan cerita perihal orang-orang di masa lalu. They don't deserve it anyway. Cuma di sini gue mau berbagi mindset dan point of view gue dalam menyikapi masalah ini. Bahwa yang gue lakukan sebenarnya sangat logis.
There's no "moving on too fast" in my vocabulary. Life goes on, keep moving on!

1. What is Moving On and Letting Go?
Setelah sekian lama, gue baru paham sebenarnya "Moving On" dan "Letting Go" itu tidaklah sama. Banyak yang salah kaprah di sini berdasarkan riset gue terhadap garis besar masalah breakup yang pernah gue hadapi sendiri maupun berdasarkan pengalaman orang lain. Moving On - akar katanya adalah "Move" yang artinya bergerak. Kemudian menjadi gerrund + On menjadi "Moving On" yang artinya secara harfiah adalah bergerak terus. Pasalnya, bergerak belum tentu berpindah tempat. Movement (pergerakkan) dan Displacement (perpindahan tempat) adalah dua state yang berbeda. 

Contoh case sederhana nya gini deh: 
1). Kalian duduk di kursi yang ditaruh di titik X terus kalian gerakkan kedua kaki kalian tapi kalian tetap duduk di kursi dan kalian bersama kursi itu tidak berpindah tempat dari titik X tadi. 
2). Kalian duduk di kursi yang ditaruh di titik X, kemudian kalian berdiri dan menggerakkan kaki kalian (berjalan) ke titik Y tanpa kursi itu.

Logikanya, kita sebagai manusia punya titik jenuh terhadap sesuatu yang dilakukan berulang kali, bukan? Kalau case 1) kalian lakukan dalam kurun waktu yang singkat mungkin saja nggak masalah. Tapi bagaimana kalau dalam kurun waktu yang lama? Lelah dan bosan, kan? Karena posisi kalian tidak berubah. tetap di titik X. Padahal mungkin, kalau kalian mau mengusahakan untuk berdiri dan melakukan gerakkan yang sama, yang terjadi adalah case 2). Kalian bukan hanya bergerak, tetapi berpindah tempat dari titik X ke titik Y. Dalam kenyataanya ini yang bisa kita sebut peralihan. Tindakan beralih ini adalah step awal dari keseluruhan aksi yang kita sebut Move On and Let Go.

Lalu? Apakah Moving On dan Letting Go adalah suatu kesatuan?
Jawabannya, Ya. Tidak bisa kita hanya Moving On tanpa diikuti dengan Letting Go. Masalahnya cuma ikhlas apa enggak. Link back ke ilustrasi tadi, kalau kalian Move On, kalian hanya bergerak tanpa meninggalkan kursi tadi, bukan? Padahal kalau kalian bergerak dan mau berpindah tempat, kalian bisa meninggalkan kursi itu juga.

2. Knowing the Symptoms

Pengalaman mengajarkan gue untuk selalu peka terhadap gejala-gejala yang mengharuskan gue bersiap Move On and Let Go. Manusia bukanlah makhluk statis. Ia adalah makhluk dinamis yang sangat mungkin untuk berubah menjadi "wujud" apapun dan kapanpun. Tidak ada jaminan seseorang akan terus seperti saat kita pertama kali mengenalnya. Namun, semua itu sangat bisa dideteksi kalau kita memilih untuk peka mengenali perubahan yang ada. Di sini, gue nggak bermaksud generalisasi semua pengalaman. Apa yang gue alami bisa sama atau beda dengan kalian. Gue hanya berusaha menyampaikan results yang mungkin buat kalian adalah sebuah hipotesis.

Berdasarkan pengalaman, tidak semua serta merta menunjukkan perubahan sikap secara signifikan. Tetapi ada hal-hal psikologis yang tidak bisa dihindari oleh manusia, yang mana sangat mungkin untuk dibaca oleh manusia lainnya. Terlebih jika tatap muka secara langsung. Tapi, sebagian manusia lainnya memang ada yang diberi keistimewaan oleh Tuhan untuk punya "indera ke-6" dalam membaca orang lain. Tetapi hal ini sangat bisa dilatih, kok. Gue mungkin memang bukan anak psikologi dan bukan ranah gue berbicara psikologis manusia. Tetapi, bukan berarti gue ngawur juga. Gue sering belajar dari akun YouTube "Kuliah Psikologi" nya Om Dedi (panggilan akrab beliau di yutub) - S3 Psikologi yang juga seorang psikolog professional yang udah sering terapi psikis orang-orang terutama pasangan prior marriage atau bahkan yang sudah berumah tangga. Di situ udah paket lengkap banget termasuk cara mendeteksi kalau pasangan kalian toxic.

Memang tidak semua perpisahan berakar dari sebuah pengkhianatan baik dari salah satu pihak maupun kedua belah pihak. Bisa jadi karena perbedaan prinsip hidup, ketidaksiapan mental masing-masing (kedewasaan), atau takdir (macem-macem lah ya kisah orang, ga mungkin gue jabarin satu-satu). Cuma apapun itu alasannya, gue cuma mau menyampaikan bahwa selalu ada indikasi bahwa sutu hubungan tidak bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Kalaupun mau dipaksakan, pasti ada kesulitan yang kita nggak pernah tau berapa lama kita bisa endure perihal itu. Belajar membaca sikap baik raut wajah, gesture, nada bicara, perubahan pattern kebiasaan, dan lain sebagainya memang butuh waktu, kesabaran dan kepekaan yang tinggi. Kemampuan analisa interpersonal ini yang gue jadikan senjata untuk memfilter orang-orang toxic di sekitar gue. Tidak harus pasangan, bisa jadi teman juga. Menurut gue, itu adalah clues dari Tuhan, bahasa Dia dalam menyampaikan pada kita:  "Hey, he/she is not the one!" atau "He/She is not good for you". Orang itu bukan berarti buruk, dia baik untuk orang lain. Bukan untuk kita.

3. What Keeps You from Moving On and Letting Go?
Yah, namanya manusia, mau disentil sama Tuhan dari cara yang paling halus sampe paling frontal juga, terkadang mindset kita tetap fokus ke situ. Terkadang manusia suka terlalu berprasangka baik juga, yang ternyata ya nggak baik juga. Ini gue ngutip dari salah satu video nya Om Dedi - psikolog tadi. 
Kadang kita suka terlalu berprasangka baik sama pasangan. Sudah tahu tidak baik, kita bilang "Ah, aku yakin dia pasti nanti berubah".

Padahal ada beberapa sifat yang memang masih boleh kita toleransi dan sebagian lainnya tidak seharusnya. Justru itu pertanda Tuhan yang seringkali kita abaikan. Alhasil, kita sudah terlanjur jauh dan aksi Move On and Let Go jadi serasa nyaris tidak mungkin dilakukan. Sampai di titik pada akhirnya terbentuklah mental korban atau victim minded yang memberi signal pada otak kita bahwa kita adalah korban yang harus menanggung segalanya. Berpikir bahwa kita adalah pihak yang paling dirugikan dan pihak lainnya adalah yang perlu disalahkan. Padahal, kalau kita mau take one-step back aja, kita bisa lihat itu dari berbagai sudut pandang. Termasuk masuk ke dalam intrapersonal kita sendiri. Apapun yang kita hadapi, belum tentu sepenuhnya adalah murni hasil kesalahan orang lain. Bisa jadi itu bentuk konsekuensi sikap dan sifat kita juga. Hanya saja, dalam kondisi mental korban seperti itu, kita sering kesulitan untuk menekan ego untuk mau sedikit saja intrsopeksi diri. Bukan maksud gue menyuruh kalian untuk self-blaming. Introspeksi diri dan menyalahkan diri sendiri adalalah dua hal yang berbeda. Introspeksi berarti menganalisis dengan mengerahkan kemampuan Intrapersonal kita untuk melihat diri kita ke bagian paling tersembunyi dari diri kita. Kemudian merefleksikannya pada kacamata orang lain - tentang bagaimana orang lain melihat kita dari luar. Sepenuhnya dilakukan secara sadar dan logis. Sedangkan self-blamming adalah proses penghakiman diri sendiri yang seringkali dilakukan oleh alam bawah sadar dan bersifat destruktif. 

4. Self-Healing Moment 

Nah, kalaupun sudah bisa Move On dalam artian gak akan "putar balik", masalah selanjutnya yang biasa kita hadapi justru pada saat "Self-Healing Moment". Kita memang sudah Move On, tetapi apakah sudah Let Go?

Sering ada teman yang cerita :
Enggak, gamau balik lagi. Sudah terlanjur sakit hati. Tapi masih nggak nyangka aja gabisa terima sama apa yang dia pernah lakukan.
Mungkin simpelnya kalo quotes fenomenal AADC tuh "Rangga, yang kamu lakukan sama saya itu JAHAT!" So, intinya secara sadar kalian udah mau change state. Terus masalahnya di mana? Kalo dari materi di akun "Kuliah Psikologi" ada satu tempat di otak bagian belakang yang mampu menyimpan memori-memori masa lalu dalam kurun waktu yang sangat lama. Kalau sudah menumpuk, bisa berbahaya. Gampangnya, mungkin kalo orang awam nyebutnya "memori dendam" gitu kali yaa (cmiiw). Ini secara nggak sadar, kita bawa terus bahkan bukan tidak mungkin orang yang hadir berikutnya jadi sarana pelampiasan kekecewaan yang tidak tersalurkan kepada orang sebelumnya (bisa jadi kan, mau marah-marah keburu di blocked?).

Ada banyak cara menyembuhkan diri (sorry kalau istilah ini di bahasa Indonesia-kan terkesan hyperbole). Mana yang ampuh, ya hanya kalian sendiri yang tau. Nih, bonus tips berdasarkan dari quotes di gugel.





5. A Brand New Start


There's no sweet revenge than being the better version of you

Setelah self-healing moment bisa dilewati saatnya mulai upgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik tanpa kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya. Selalu ada cara meningkatkan kualitas diri, kalau kita mau sekali lagi percaya pada diri kita sendiri. Satu hal yang selalu gue katakan kepada teman-teman gue yang mengalami patah hati adalah :
"Kalian sama berharganya seperti saat sebelum dia datang."

Apa yang kita alami di masa lalu bisa jadi sarana pembelajaran diri bahwa diri kita punya potensi yang perlu digali lebih lagi. Bahkan, saya pernah menemukan suatu artikel yang gue lupa sumbernya karena udah lama banget, di situ dituliskan:
Kualitas orang-orang yang mampu kita tarik ke dalam hidup kita, sesungguhnya adalah cerminan kualitas diri kita sendiri. Jikalau Anda sebagai seseorang yang sepanjang hidup Anda selalu menarik orang-orang pemalas yang hanya ingin menumpang pada hasil kerja keras Anda sebagai pasangan Anda, segeralah introspeksi diri.
Setelah baca penggalan artikel itu, gue tersadar bahwa ada banyak aspek dalam diri gue yang perlu diperbaikki. Sehingga, gue mampu menarik orang yang lebih berkualitas baik itu secara mental maupun fisik. Bukan tidak mungkin, kita bisa bertemu dengan orang yang lebih baik kalau kita terus meng-upgrade diri, kan? Gue rasa, kalau kalian adalah pribadi yang punya kualitas, mereka yang hanya main-main saja dan tidak mempunyai kualitas setara atau bahkan di atas kalian nggak akan berani mendekat. Percayalah, kalaupun ada yang nekat, mereka akan segera mundur dengan teratur. Kenapa gue berkata demikian?

Sejujurnya, manusia tetap punya perasaan minder baik itu ditunjukkan secara terang-terangan atau tidak. Apalagi kalau kalian selain berkualitas punya prinsip hidup yang kuat. Prinsip-prinsip fundamental yang hanya mampu diimbangi oleh orang yang punya kesetaraan prinsip hidup dengan kalian. Jadi, keseluruhan proses ini tadi sesungguhnya bermuara di diri kita lagi masing-masing. Sikap yang kita ambil hari ini, menentukan kehidupan kita di masa yang akan datang.

No comments:

Bintang Mahayana (c) 2018. Powered by Blogger.